ispi
Menu Click to open Menus
Home » Kiat Menulis » Ala “Cinta” Jadi Penulis

Ala “Cinta” Jadi Penulis

(475 Views) Januari 8, 2017 2:14 am | Published by

Tulisan ini sebagai resume kuliah daring WA Agumapi yang disampaikan oleh Momon Sudarma, S.Pd., M.Si.

Ibarat anak muda yang sedang jatuh cinta, segala yang dirasa dengan mudah dapat disulap menjadi puisi atau  atau cerpen. Mengapa? Ya, karena sedang jatuh cinta. Begitulah prinsip menulis dari Momon Sudarman yang disampaikannya pada kuliah WA pada 4 Januari 2017 lalu. Guru MAN 2 Kota Bandung ini setidaknya telah menulis belasan buku, di samping karya tulis lainnya.  Jika penasaran dengan  karya-karya alumnus Pendidikan Geografi UPI dan Program Sosiologi Antropologi Unpad ini bisa menengoknya di dede.wordpress.com.

Lantas, apa yang dimaksud dengan  prinsip “CINTA” yang membuat orang bisa mendadak menjadi penulis? “CINTA” itu merupakan singkatan dari curhat, inspirasi, nekad, tekun dan ambisius. Nah, prinsip tersebut dipaparkan sebagai berikut.

Pertama, curhat. Jadikanlah gaya curhat dalam menulis. Prinsip curhat itu bisa diartikan bahwa kita menulis apa yang kita rasakan, pahami, pikirkan, dan orang lain diharapkan bisa memahaminya. Penelitan Tindakan Kelas (PTK) pun dapat dikategorikan mencurahkan apa yang kita rasakan dan lakukan.

Sebagai contoh, buku Profesi Guru (Rajagrafindo Press, 2013) dan Model Pembelajaran Geografi  (Ombak, 2015) karya Momon Sudarma merupakan pengalaman mengajarnya di MAN 2 Kota Bandung sebagai kasus yang kemudian diolah menjadi tulisan. Tulisan seperti Chicken Soup pun merupakan curhatan yang bisa menginspirasi orang lain. Hernowo mengistilahkannya sebagai gaya tulisan personal.

Kedua, inspirasi dari intern. Maksudnya biar impresif/berkesan. Kita menulis apa yang kita rasakan.

Ketiga, nekad. Jangan ragu. Supaya berhasil, harus nekad memulai. Tugas penulis adalah menulis, sementara pembacalah yang mengapresiasi. Jika kita sibuk memikirkan karakter tulisan kita, maka dikhawatirkan tulisan tidak akan selesai. Jadi, prinsipnya, menulis saja.

Keempat, tekun. Kalau memang cinta, diulang-ulang saja (menulis) sampai berhasil. Misalkan saja, kita dapat menargetkan menuliskan minimal satu curhatan, tanpa memperhatikan jumlah halaman.

Kelima, ambisius. Untuk meraih hasil yang baik harus semangat, gigih.

Selain kelima kiat tersebut, apakah mood itu penting? Mood itu penting. Akan tetapi, jika sudah cinta, setiap saat mood akan hadir.

Edisi Diskusi:

Intan Irawati: “Adakah waktu khusus untuk menulis dalam 1 hari atau minggu, ataukah menunggu mood?

Momon Sudarma: “Mood itu penting. Tapi orang yang sudah cinta mah bakalan mood tiap saat lho… untuk latihan prinsip tekun perlu diterapkan. Saya biasanya sehari minimal 1 curhatan.. halaman nggak penting.

Susiana Manisih: “Darimana biasanya Bapak menemukan ide penulisan? Terus langkah-langkahnya bagaimana untuk menulis buku. Tentu berbeda dengan menulis curhatan.

Momon Sudarma: “Untuk teknis mungkin nanti sesi berikutnya. Tapi .. prinsip curhat itu bisa diartikan bahwa kita menulis apa yang kita rasakan, pahami, pikirkan dan orang lain diharap bisa memahaminya.

Susiana Manisih: “Jadi menulis pengalaman ya pak?”

Momon Sudarma: “Nah.. itulah. betul bu Ana menuliskan apa yang kita rasakan atau alami akan jauh lebih mudah.

Susiana Manisih: “Boleh tahu judul buku yang  sudah Bapak tulis apa saja?”

Momon Sudarma: “Bisa dicek di www.dede.wordpres.com untuk contoh Profesi Guru (Rajagrafindo), Model Pembelajaran Ombak). Sekedar info, dalam kedua buku itu saya menjadikan pengalaman mengajar di MAN 2 Kota Bandung sebagai kasus yang kemudian diolah menjadi tulisan berupa buku”.

Eza avlenda: “Pak Momon, Eza nulis beberapa pengalaman pribadi. Ada kumpulan curhatan mengajar. Tapi setelah dibaca-baca kayaknya biasa aja. Itu termasuk tulisan apa ya?”

Momon Sudarma: “Bu Eza silakan baca buku Cicken Shoup ya… itu buku tulisan curhatan lho… Biasa menurut kita bisa jadi inspirasi bagi orang lain. tugas penulis adalah menulis. Pembaca mengapresiasi.”

Eza avlenda: “Ada nggak pak, ciri atau syarat khusus untuk tulisan yang isinya curhatan atau pengalaman pribadi?”

Momon Sudarma: “Buku motivasi yang banyak muncul belakangan adalah curhatan. pak Hernowo menyebut gaya ini sebagai gaya tulisan personal. Saya termasuk yang tidak mau sibuk mengenai karakter tulisan. Biara yang baca saja yang mengapresiasinya. Kalau sibuk gituan, khawatir tulisan nggak jadi-jadi.”

“jika kita bisa menulis di medsos, itu berarti kita memiliki potensi menjadi penulis. Jika kita bisa membicarakan sesuatu, berarti kita memiliki bahan untuk menulis.  Jadi, tunggu apa lagi, mari menulis. ” itulah kalimat pamungkas yang disampaikan Momon Sudarma saat mengakhiri kuliah daringnya di grup WA Agumapi.

(siska/deni)

1 Komentar for Ala “Cinta” Jadi Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *