ispi
Menu Click to open Menus
Home » Karya » Artikel » “Alam Keluarga” Pembentuk Karakter Anak Bangsa

“Alam Keluarga” Pembentuk Karakter Anak Bangsa

(571 Views) Mei 30, 2017 2:59 pm | Published by

Ki Hajar Dewantara, seorang tokoh pendidikan Indonesia, menetapkan Alam Keluarga merupakan “pusat pendidikan” yang pertama dan terpenting dalam Trisentra Pendidikan di samping Alam Perguruan (sekolah)  dan Alam Pergerakan Pemuda (pergaulan). Sistem Trisentra Pendidikan merupakan pusat pendidikan yang sangat penting dalam pendidikan karakter anak; keluarga-sekolah-pergaulan menjadi inti pedidikan karakter dan pengembangan pengetahuan.

Seorang anak kecil membuka bungkus permen dengan jari-jemarinya yang mungil. Dengan cekatan tangan kanannya memasukkan permen tersebut ke mulutnya. Di luar dugaan, tangan kirinya segera memasukkan bungkus permen yang ia pegang ke dalam saku celananya. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, seorang ibu paroh baya melakukan hal yang sama. Ibu tersebut tak lain adalah ibu dari sang anak. Pada kesempatan lain seorang pemuda terlihat marah-marah pada tukang parkir yang ia anggap tidak becus memberikan aba-aba. Kata-kata kotor dan serapah meluncur deras dari mulutnya. Melihat kejadian itu, di dalam mobil terlihat sepasang suami istri tersenyum sambil saling melemparkan pandangan. Suami istri yang tak lain adalah orang tua dari si pemuda tersebut, sama sekali tidak menganggap ada yang salah dari perlakuan putranya.

Sangat beralasan apabila Raden Mas Soeryadi Soeryaningrat yang lebih dikenal dengan Ki Hajar Dewantara, menempatkan keluarga sebagai pusat pendidikan karakter yang pertama dan utama. Lingkungan keluarga merupakan pondasi utama dalam pembentukan kepribadian anak. Ketika anak berusia 0-6 tahun, mereka mulai belajar bersosialisasi, mulai mengembangkan aspek kognitif, maupun psikomotornya. Pada usia 2 tahun anak dengan mudah menyerap dan akhirnya meniru segala sesuatu yang ia lihat maupun yang ia dengar. Semua  perilaku, verbal maupun nonverbal seperti kata-kata, mimik wajah, aktivitas fisik, dan semua contoh perilaku dalam kontrol orangtua seperti televisi, dengan mudah diserap dan dicontoh oleh anak. Sebagai ilustrasi, perkembangan otak anak usia golden age ini seperti spons yang akan menyerap semua informasi yang ada di sekitarnya. Baik informasi yang baik maupun informasi yang kurang baik.

Apabila  orang tua dalam suatu keluarga terbiasa melakukan hal-hal yang positif, Insyaallah anak-anak mereka pun akan melakukan hal yang sama. Apa yang mereka lihat dan apa yang mereka dengar secara tidak langsung akan tertanam kuat dalam jiwa mereka. Hal ini pasti akan berpengaruh terhadap perilaku mereka sehari-hari. Misalnya saja contoh kecil sebagaimana yang terdapat di awal tulisan ini, kebiasaan kecil, tetapi sangat berpengaruh terhadap kebiasaan dan kehidupan anak selanjutnya. Bahkan,  sangat mungkin dalam kehidupannya kelak ketika sudah dewasa dan berkeluarga. Begitu pula sebaliknya, ketika orang tua terbiasa  membuang sampah sembarangan, anak-anak mereka akan melakukan hal yang sama. Mereka selamanya akan menganggap hal tersebut tidak salah karena orang tua mereka juga memberikan contoh yang salah. Kebiasaan salah tersebut akan terus berulang apabila tidak pernah ada yang mengingatkan bahwa perilaku tersebut salah. Begitu juga apabila kata-kata kasar sudah terbiasa ia dengar, ia tidak akan merasa bersalah jika sumpah serapah juga keluar dari mulutnya.

Kemajuan teknologi berdampak sangat luas terhadap segala lini kehidupan manusia, terutama dalam perkembangan anak. Tidak kita pungkiri kemajuan teknologi juga membawa banyak manfaat dalam kehidupan manusia. Hanya saja saat ini yang berkembang, bukan manusia yang menguasai teknologi, tetapi teknologilah  yang justru telah menguasai manusia. Manusia tidak lagi bisa menjadi manusia seutuhnya. Dengan kemajuan teknologi, manusia tidak lagi menjadi makhluk sosial, tetapi telah menjelma menjadi makhluk individualis.  Pada zaman sekarang tidak sedikit keluarga yang menyerahkan pendidikan anak-anak mereka pada televisi, gagdet, dan handphone tanpa filter sedikit pun. Untuk itu perlu mengembalikan peran keluarga yang sebenarnya terhadap pendidikan dan perkembangan putra-putrinya.

Empat  kata  ajaib bisa digunakan untuk menjadi dasar pembentukan karakter anak. Tolong, terima kasih, permisi, dan maaf merupakan empat kata yang sangat sederhana, tetapi mampu membawa dampak yang sangat luar biasa. Pertama, pembiasan untuk mengatakan tolong  pada anak ketika  ingin meminta bantuan pada orang lain harus ditanamkan sejak dini. Hal ini bisa membuat anak tidak berbuat semena-mena pada orang lain terutama orang yang ia anggap status sosialnya berada di bawahnya, misalnya pada asisten rumah tangga. Kedua, mengucapkan terima kasih apabila tidak dibiasakan sejak kecil, mereka juga merasa kikuk ketika harus mengucapkannya pada orang lain walaupun pada orang yang sudah menolongnya. Tidak semua orang dengan mudah mengucapkan kata tersebut meskipun sudah mendapatkan bantuan dari orang lain. Ketiga, permisi. Di era sekarang ini sudah jarang kita temui sikap anak-anak yang tawaduk. Mereka tanpa segan berdiri di dekat orang tua yang sedang duduk di dekatnya. Atau pun berjalan melenggang di depan orang tua yang sedang bercakap-cakap. Kata permisi perlu ditanamkan pada anak-anak agar mereka, para generasi penerus bangsa,  tidak hanya hebat kemampuan kognitif dan psikomotornya, tetapi yang tidak kalah penting juga memiliki aspek afektif yang hebat. Keempat, ucapan maaf. Mau meminta maaf adalah sifat ksatria. Dengan mau meminta maaf, anak tidak hanya diajarkan berani mengakui kesalahannya, tetapi sekaligus diajarkan  untuk berani meminta maaf. Di samping itu, anak juga harus diajarkan untuk mau memberikan maaf. Dengan membiasakan  mau memberikan maaf, secara tidak langsung orang tua sudah mengajarkan pada anak untuk tidak mempunyai rasa dendam. Pembiasaan harus dilakukan pada anak-anak ketika mereka dalam usia yang masih sangat belia. Oleh karena itu, penguatan pembentukan karakter anak tidak bisa lepas dari pembiasaan dan peran orang tua mereka sehari-hari.

Tantangan zaman yang luar biasa berat bagi anak-anak saat ini, membutuhkan peran orang tua dalam pembentukan karakter serta tumbuh kembang mereka. Menurut Elly Risman, Psi., Direktur dan Psikolog Yayasan Kita dan Buah Hati, obrolan sederhana yang dibangun orang tua, terutama ayah, akan membuat anak menjadi pribadi dewasa yang suka menghibur, punya harga diri yang tinggi, mampu mendapatkan nilai akademis di atas rata-rata, dan membuat anak lebih pandai bergaul. Dengan pola pengasuhan yang benar, anak tidak perlu mencari validasi dari orang lain. Mereka membutuhkan 3P: penerimaan, penghargaan, dan pujian.

Dengan memberikan “pondasi” yang kuat berupa iman dan nilai-nilai kehidupan yang positif pada anak-anak kita, Insyaallah mereka akan tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang cerdas, tangguh, dan berakhlakul kharimah. Dengan pembentukan karakter dari “Alam Keluarga” yang kuat, diharapkan tidak ada lagi remaja yang tawuran, tidak ada lagi remaja yang terbelenggu narkoba, dan dari “Alam Keluarga” yang kuat, akan lahir remaja-remaja yang peduli pada sesama, yang optimis, dan penuh percaya diri dalam menyongsong masa depannya, masa depan bangsa. Semoga.

***

Tulisan telah diterbitkan di Majalah Mimbar Kemenag Jatim, Februari 2017

Tags: , ,
Categorised in: ,

8 Komentar for “Alam Keluarga” Pembentuk Karakter Anak Bangsa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *