,
Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » Seminar Online » Banyak-banyak Membaca dan Banyak-banyak Menulis

Banyak-banyak Membaca dan Banyak-banyak Menulis

(197 Views) Februari 24, 2018 4:30 am | Published by

Agumapi.org | Judul di atas merupakan closing statement dari Yanuardi Syukur, M.Si. atau lebih dikenal dengan panggilan Bang Yan. Ia merupakan narasumber seminar online Komunitas Agumapi, Jumat (23/2/2018) tadi malam.  Alhamdulilah, penulis 60 lebih buku itu berkenan berbagi ide dan pengalamannya tentang menulis buku. Peserta antusias menyimak paparan di grup WA Komunitas Agumapi.

“Menulis buku itu ada beratnya ada ringannya. Berat jika tidak ada niat dan usaha, dan ringan jika ada niat dan ada usaha,” demikian pengantar awal Bang Yan.  Ia lalu bercerita tiga hari lalu dirinya diundang menjadi pembicara di Yogyakarta terkait dengan pendidikan keaksaraan dasar untuk Komunitas Adat Terpencil (KAT). Ketika Bang Yan mendengarkan sharing dari teman-teman di daerah yang melakukan program tersebut ia mendapatkan banyak info menarik. Beberapa diantaranya adalah: Pertama, tidak semua komunitas mau warganya membaca, menulis, dan berhitung (atau pendidikan). Ketakutan akan petaka yang muncul dari pendidikan atau sekolah mereka khawatirkan. Kedua,  tidak semua orang dapat memberikan pendidikan kepada komunitas KAT. Karena, mereka memiliki pandangan dunia yang berbeda. Akan tetapi, jika kita dapat memberikan metode terbaik dalam pendidikan baca-tulis kepada mereka, itu sesungguhnya bagian yang berharga bagi pengentasan buta aksara di negeri ini.

Dari pengalaman di Yogyakarta itulah ia menyimpulkan dua hal. Kesatu, sangat beruntunglah kita mendapatkan pendidikan dari dasar sampai perguruan tinggi. Maka, jalan terbaik untuk bersyukur–atas nikmat tersebut menurutnya dengan cara  berbagi ilmu kepada orang lain. Menulis adalah salah satu jalannya. Ia sempat dibuat heran ketika ada yang mengatakan, “Saya malu menulis karena ide saya biasa-biasa saja.” Sesungguhnya menurut Bang Yan kalau mau berpikir lebih dalam, pendidikan sampai kampus (apalagi jika tamat sarjana), itu adalah bekal yang  besar sekali untuk menulis buku.  Kedua, semua yang ingin menulis harus siap berkorban. Ya, berkorban banyak hal, mulai dari waktu, materi, dan juga mungkin perasaan. “Ada banyak cerita orang yang tulisannya dijiplak orang lain, dicuri orang lain, atau bahkan karyanya diganti namanya oleh orang lain,” paparnya.

Bang Yan menegaskan bahwa kita tidak perlu khawatir ketika ada orang yang berlaku curang. Orang sekelas Ibnu Rusyd (Averroes) saja, yang karyanya hebat-hebat pernah karyanya dihilangkan bagian tertentu sehingga tidak jelas itu karya siapa. Ada juga penulis yang ia kenal, karyanya diterbitkan orang menggunakan nama orang lain. Itu tidak perlu diambil hati. Selanjutnya Bang Yan mengingatkan kala menjadi penulis itu harus siap berkorban, termasuk korban perasaan.

Pemaparan berikutnya dan menjadi materi utama  Bang Yan membahas seputar cara mendapat ide, waktu menulis, dan cara menerbitkan buku. Ia membagikan pengalamanya selama kurun waktu 18 tahun menulis buku. Rencananya tema menulis buku ini akan dilanjutkan pada pertemuan mendatang. Materinya lebih aplikatif dan praktek. Peserta diberi kesempatan untuk merancang naskah bukunya masing-masing. Pada pertemuan berikutnya akan dibahas bersama.

Alhamdulillah, tanggapan positif disampaikan para peserta seminar. Empat peserta mendapat kesempatan untuk mengajukan pertanyaan saat sesi diskusi. Ada Yati Afiati (Ciamis), Lisna Dewi (Tanah Laut, Kalsel), Suryagandi (Bandung), dan Syihabudin (Cimahi). Satu persatu pertanyaan dari peserta ditanggapi dan dijawab dengan jelas oleh narasumber. Seminar online berlangsung selama 90 menit.

***

 

No comment for Banyak-banyak Membaca dan Banyak-banyak Menulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Enter Captcha Here : *

Reload Image