,
Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » Karya » Cerpen » BATIK MIPA HIJAU TOSKA

BATIK MIPA HIJAU TOSKA

(103 Views) Januari 16, 2018 5:50 am | Published by

Oleh: Umi Solikatun, S.Pd.
Guru BK MAN 2 Yogyakarta

Suatu pagi dingin menggingit diantara hujan rintik-rintik di sebuah villa di Kaliurang. Membubung rasa bahagia hati Bu Uus saat tiba-tiba disapa di saluran media sosial Line tepat di hari PGRI 17 November 2013. Ini seolah menjadi bingkisan terindah pada hari itu yakni dikenang oleh seorang muridnya yang telah lulus tujuh semester yang lalu.

Assalamu’alaikum Bu Guru” Sapa Tria Heru.

’Alaikum salam, Apa kabar Mas Tria” balas Bu Uus.

Alhamdulillah…Bu baik, maaf saya lama tidak memberi kabar”

Tidak disangka apa yang dipikirkan Bu Uus selama ini bahwa ia  lama tidak mendapat kabar muridnya yang diterima di UNY Kimia yang sering dikisahkan selama sekolahnya.

Saat itu Tria dinyatakan lulus ada ujian ulang untuk mata pelajaran kimia. Karena kemiskinan keluarga ia memutuskan untuk bekerja saja, jauh panggang dari api jika ia kuliah. Selama ini orang tuanya menitipkan ia ke neneknya di desa. Hidup bersahaja dengan tata krama yang kental. Pada pagi hari itu ia datang untuk meminta keterangan kelakuan baik untuk melamar kerja karena pemilik restoran menghendaki demikian. Ia malu-malu datang ke bagian Tata Usaha karena disapa oleh guru BK-nya, Bu Uus. Ia ditanya apa ia yakin akan bekerja. Tria menyatakan ia hanya akan kuliah jika ada beasiswa. Beberapa saat ia menunggu petugas mengurus surat tiba-tiba Bu Uus memanggilnya sambil berkaca-kaca.

“Tria, kamu tidak perlu melanjutkan mengurus surat keterangan kelakuan baik ini?” seru Bu Uus

“Memang ada Apa Bu? Tanya Tria tampak kebingungan

“Nak..Alhamdulillah kamu dapat kertas biru ini dari UNY, yang artinya kamu diterima disana dan terlebih lagi kamu diterima di program Bidik Misi” jelas Bu Uus serak menahan air mata.

“ Sa…sa..saya tidak paham Bu…” bisik Tria makin bingung.

“Baca sendiri..!” suruh Bu Tria sambil menyodorkan kertas biru.

Triapun membacanya berulang-ulang tampah besar usahanya memahami kalimat-demi kalimat di kertas itu.

“Saya diterima kuliah Bu?” tanya Tria gemetaran

Spontan Bu Uus, menjabat tangan Tria erat-erat.

“Selamat Tria Kamu Kuliah dengan Beasiswa penuh!” Seru Bu Uus terharu

Tria langsung menghubungi orang tua, nenek dan juga pemilik restoran bahwa ia batal melamar kerja karena diterima kuliah dengan beasiswa. Seluruh pegawai Tata Usaha memberi ucapan selamat pada Tria yang datang pada hari ketika surat pengumuman itu sampai di TU. Padahal baik Tria ataupun Bu Uus sudah tidak berharap ada pengumuman itu. Sudah terlalu lama tidak ada surat, semua berpikir lamaran PMDK dan Bidik Misi gagal. Kenangan masa itu membuat Bu Uus senyum sendiri di aula workshop.

Beberapa hari setelah kontak terakhir Tria dan Temannya datang ke sekolah untuk melepas rindu setelah hampir empat tahun tidak bertemu dan saling kontak. Sepeninggal Tria dan temannya, Bu Uus menanyakan kepada teman guru yang sedang menyelesaikan tugas kuliah S2nya (Bu Wati) tentang keikutsertaan Bu Sesi Wali kelas Tria saat masih ke sekolah ke Tawangmangu untuk kunjungan lapangan keas IPS besok pagi. Mendapat informasi jika Bu Sesi ikut maka Bu Us meletakkan bingkisan Batik MIPA hijau toska itu di handle loker meja yang ditunjukan Bu Wati. Ini dilakukan mengingat saat itu masih hari libur sekolah dan Bu Uus ingin segera menyampaikan titipan itu ke Bu Sesi. Setelah menggantungkan bingkisan yang dibungkus tas kertas itu Bu Uus mengirim pesan melalui media sosial untuk segera diambil.

“Maaf Bu Sesi ada bingkisan spesial buat ibu dari Mas Tria saya gantung di handle loker meja mohon segera diambil”

Menengok media sosial yang tidak direspon Bu Uus mengulang pesannya di beranda media sosial yang di situ Bu Sesi berkomentar. Akhirnya responpun datang.

“Ya Bu Uus nanti sesampainya di sekolah akan saya ambil”

Selang sehari kemudian muncul pesan dari Bu Sesi yang mengabarkan jika awalnya tidak ditemukan tapi setelah dicari harin berikutnya ada tergantung di loker meja guru lain.

“Terima kasih Bu Us, batiknya cantik sekali”

“Klo boleh tahu siapa saja yang diberi? “ tanya Bu Sesi.

“Spesial buat Bu Us dan Bu Sesi…?”  respon Bu Us.

 Dalam suatu kesempatan pulang sekolah tiba-tiba Bu Sesi bersama putranya yang masih TK menyapa Bu Us dan mengajaknyan berhenti sejenak di depan kantin. Bu Sesi menceritakan betapa Batik MIPA hijau Toska itu membelajarkan. Ketika pulang dari Tawangmangu Bu Sesi yang hendak segera pulang tidak menemukan bingkisan yang Bu Us maksudkan berada di meja kerjanya. Pada kesempatan esok harinya saat mengantar putranya ke taman pintar disempatkan lagi mencari dengan memperhatikan isyarat “mengantung di handel loker”. Nah akhirnya ditemukan juga di meja kerja Bu Riri. Setelah dibuka takjub rasa hati Bu Sesi Batik dengan motif rumus kimia – mata pelajaran yang diampunya- berwarna hijau toska. Tersanjung rasanya mendapat bingkisan dari murid yang pernah walikan kelasnya padanya selembar batik dengan warna model terkini dan bermotif mata pelajaran yang diajarkannya. Di dalam bingkisan tertulis lengkap pengirim alamat sosial media usaha dan nomor telepon sebagai label produk usaha. Rasa bangga dan bersyukur menyelimuti pagi hati itu.

Segera setelah itu Bu Sesi meluncur ke Taman pintar bersama kedua putra/putrinya untuk menikmati liburan. Puas bermain hari sudah mulai gelap oleh sebaran mendung kelabu yang membawa titik hujan. Gemuruh terdengar mengisyaratkan akan segera turun hujan. Liburan di taman Pintar segera dituntaskan dan pulang ke rumah yang berjarak sekitar lima belas kilometer. Dikenakan mantel hujan pelindung badan, dan si kecil ogah pakai jaket akhirnya jaket dimasukkan tas kertas bersama bingkisan kain batik itu. Bertanya dalam hati apakah tas ini cukup kuat menahan beban kain dan jaket. Ah, Cuma sebentar kata hati meyakinkan. Di dalam pejalanan hujan turun dengan derasnya yang membuat Bu Sesi berkonsentrasi  penuh untuk mempercepat berkendaranya agar segera sampai rumah.

“Alhamdulillah sampai juga…” bisik Bu Sesi dalam hati

Saat anak-anak turun dari motor dan hendak menurunkan barang bawaan alangkah terkejutnya Bu Sesi. Tas kertas itu hanya bersisa gantungannya dan isinya dipastikan jatuh.

Bu Sesi terkejut dan meminta anak-anak segera masuk rumah dan mengurus diri.

“Kakak…Adik… segera masuk rumah ya, Ibu akan mencoba cari jaket adik yang jatuh” Minta Bu Sesi.

“Iya Bu, hati-hati…” jawab kedua anak itu.

Bu Sesi melaju pelan dengan memperhatikan sepanjang jalan yang tadi di lewati, berharap masih bisa menemukan tas kertas yang berisi batik MIPA, jaket dan botol minum itu. Bu sesi meyakini jika tas itu jatuh karena tak tahan menahan air hujan, jadi ia tak akan mencari jauh-jauh kecuali ditempat yang jatuh air hujan yang menderas. Sampai ujung turun hujan deras ia berbalik dan terus menyebar pandangan mata elang mencari barang itu…..dan tergolek bungkusan tas berwarna hitam di pinggir jalan. Diambilnya tas itu dan isinya…sebuah tas ransel dengan nota pembelian.

“Aduh kasihan si tuan pasti akan mencari-cari tas ini untuk putranya… ya Allah kalau ini rejeki tuannya pasti saya akan ketemu dengannya nanti.” Bisik hari Bu Sesi.

Berkendara sekitar satu kilometer terlihat seorang ibu-ibu dipinggir jalan tampak mencari-cari sesuatu. Bu Sesi menghampirinya dan menanyakan apakah ibu mencari sesuatu dan ternyata dugaanya benar. Ibu itu mencari kantong hitam berisi tas ransel. Tampak bahagia tak terkira wajah ibu itu menemukan barang yang dicarinya dan berucap terima kasih yang tulus kepada Bu Sesi. Akhirnya Bu Sesi melanjutkan untuk mencari tas kertas itu diiringi doa dari ibu bahagia tadi.

Di kejauhan tampak di tengah jalan sesuatu berwarna mirip jaget putranya dan segera Bu sesi berhenti.

Subhanallah ini jaket anakku…” Seru bu Sesi.

Entah sudah terlindas kendaraan berapa kali jaket itu karena basah menghitam oleh debu jalanan dan air hujan. Tidak jauh dari jaket itu tergeletak kain kumal di pinggir jalan. Setelah dilihatnya itu kain batik MIPA yang ia cari yang bercampur lumpur dan air hujan.

Subhanallah walhamdulillah wala ilaha illallahu allahu akbar…jaket dan batik itu masih rejeki saya dan sudahlah saya ikhlas botol minumnya tidak ketemu” bisik Bu Sesi.

Beliau segera meluncur ke rumah dengan sejuta syukur tak terkira sudah mendapatkan banyak pelajaran berharga sepanjang perjalanan pencarian kain batik MIPA hijau toska itu. Bahkan saat bertemu Bu Uus ia kisahkan pengalamannya tak henti-hentinya ucap syukur meluncur dari kedua guru itu. Wali kelas dan BK pengasuh siswa penerima kertas biru dan pemberi kain batik MIPA Hijau Tosca.

“Bu Us, pengalaman ini akan saya kenang sebagai kenangan yang indah terlebih saat memakai batik ini, batik MIPA Hijau Tosca hadiah dari Tria si jago Kimia” Ucap Bu Sesi sambil melepas tawa bersama

Allah telah Engkau belajarkan kami:

“Amanah harus dijaga dengan baik dan usaha keras merawatnya”

“Saat hati gelisah, kepasrahan dan penuh harap akan mengantarkan diri ke jalan penuh petunjuk”

“Jangan pernah abaikan hati nurani, karena didalamnya terdapat bisikan Allah”

Tags:
Categorised in:

No comment for BATIK MIPA HIJAU TOSKA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Enter Captcha Here : *

Reload Image