ispi
Menu Click to open Menus
Home » Kuliah » Belajar pada Ira Madan, Guru Madrasah Novelis

Belajar pada Ira Madan, Guru Madrasah Novelis

(62 Views) November 21, 2017 7:10 am | Published by

Oleh Noor Shofiyati, S.Pd.
Guru MTsN 9 Bantul, anggota Agumapi

Gaung literasi kini semakin menggema di persada bumi nusantara. Para penggiat literasi tiada henti berupaya melakukan berbagai hal agar semangat ini tidak pernah padam. Harapan hadirnya  berbagai karya sastra berkualitas menjadi dambaan para penikmat buku, tanpa kecuali para anggota Agumapi. Tiada hari tanpa berkarya, berbagi, dan mengabdi. Inilah yang menjadi mottonya.

Sebagai realisasi dari motto yang diembannya maka setiap satu minggu sekali Agumapi menggelar kuliah via WA (WhatsApp). Semangat para anggota untuk selalu menimba ilmu tampak pada sesi diskusi di perkuliahan ini. Agumapi biasa menggelar kuliah setiap Sabtu malam. Khusus pada minggu ketiga November ini kuliah digelar Kamis malam.

Pada Kamis (16/11) kuliah WA Agumapi menghadirkan sosok penulis berbakat yang karyanya telah teradaptasi menjadi film layar lebar. Ira Madanisa Br Tarigan, S.Pd., M.Si., Guru Madrasah di KMI Pondok Pesantren Ar Raudhatul Hasanah Medan.

“Cahaya Cinta Pesantren”, sebuah film yang telah tayang pada Sabtu (14/1/2017) merupakan buah  karya Ira. Sebuah prestasi luar biasa yang tidak setiap orang mudah mendapatkannya. Siapa Ira? Bagaimana kiprahnya di dunia kepenulisan? Bagaimana proses yang dijalani hingga novelnya mendapat apresiasi dari sineas Indonesia untuk diadaptasi sebagai film layar lebar? Di forum kuliah WA Agumapi ini Ira menjelaskan secara gamblang.

“Menulis merupakan hobi yang telah saya geluti sejak duduk di bangku sekolah dasar,” ungkap  novelis alumnus Pasca Sarjana USU (Universitas Sumatera Utara). Lebih lanjut novelis yang memiliki nama pena Ira Madan ini mengungkapkan bahwa menulis merupakan sarana pribadi untuk meluapkan gagasan, ide, dan juga dakwah agama. Melalui sebuah tulisan dia dapat membuat cerita di mana tokoh-tokoh yang terlibat di dalamnya adalah orang-orang di sekelilingnya yang diadaptasi menjadi sosok dalam deskripsi yang dia buat sendiri.

Noor Shofiyati, S.Pd.

Menurut isteri Willy Redo ini, proses menulis sangat mudah dan cepat tetapi produk dari menulis yang berupa dokumen, baik dalam bentuk cetak ataupun digital, merupakan sesuatu yang tak lekang oleh zaman, bahkan hingga penulisnya telah tiada.

Salah satu keinginan Ira adalah mengajak orang lain menggerakkan jemarinya untuk menulis dan terus menulis. Dalam setiap kesempatan seminar dia selalu menekankan pada audiens tentang pentingnya membaca. Karena selain menambah wawasan, dengan membaca maka seseorang mempunyai pembanding untuk karya yang akan ditulis. Konsepnya jika seseorang banyak membaca maka dia akan banyak menulis.

Terkait bagaimana proses novelnya diadaptasi menjadi film layar lebar, pembicara dalam seminar nasional Mahabbah 2017 di Surakarta (9/11) ini menjelaskan bahwa novel “Cahaya Cinta Pesantren” awal mulanya diterbitkan oleh Penerbit Tiga Serangkai (2014). Saat itu langsung beredar di hampir semua Toko Buku Gramedia yang ada di beberapa kota di Indonesia. Satu bulan kemudian, Ira dihubungi seorang sutradara ibukota terkait keinginan untuk mengadaptasi novelnya menjadi film layar lebar. Singkat cerita akhirnya karya pertamanya ini naik ke layar lebar dengan produser film Ustadz Yusuf Mansur.

Keinginan Ira untuk mendokumentasikan masa-masa nyantri yang penuh keunikan, kelucuan, dan membanggakan di Pondok Pesantren Tarbiyah Islamiyah Ar Raudhatul Hasanah Medan telah memotivasi dirinya untuk menuliskannya dalam bentuk novel. “Sayang jika saat-saat penuh kenangan itu berlalu begitu saja tanpa ada dokumentasinya,”ungkapnya.

Ibu muda yang belum lama memiliki bayi ini mengungkapkan bahwa secara pribadi dia tidak pernah mencari genrenya di mana. Dia hanya mengikuti hobinya dalam menuangkan ide, gagasan, pesan, dan pengalaman dalam bentuk cerita. Diakuinya bahwa dia juga pernah menulis artikel tentang motivasi ataupun opini, tetapi jujur dia katakan bahwa lebih terasa nyaman saat menulis fiksi.

Naskah sebuah novel tentu berbeda dengan naskah film. Lantas apakah naskah “Cahaya Cinta Pesantren” diubahnya sendiri menjadi naskah film ataukah ada pihak lain yang mengubahnya? “Naskah saya diubah menjadi naskah film oleh Anggoro Saronto, Penulis Skenario “Sang Pencerah”. Saya bertindak sebagai asisten karena Pak Anggoro ingin mengetahui lebih banyak tentang dunia pesantren,” jelas Ira.

Kesuksesan novelnya yang pertama ini membuat Ira semakin bersemangat untuk kembali menggoalkan “Ha Nahnu Dza”, novel keduanya. Ira berencana menulis naskah skenario sendiri untuk novelnya ini. (Semoga tercapai Ira).

“Sungguh bukanlah hal yang mudah untuk mengadaptasi secara identik sebuah buku dengan ratusan halaman menjadi sebuah fim berdurasi 2 jam. Karena buku merupakan pesan secara tertulis sedangkan film adalah pesan secara visual. Sehingga otomatis banyak improvisasi, pengurangan, ataupun pengembangan cerita. Perbedaan paling menonjol tampak pada ending cerita,” jelas Ira yang bercita-cita menjadi muallimah dan penulis bermanfaat di sesi terakhir kuliah WA Agumapi.

Hadirnya sosok seperti Ira Madan seolah membuka semua mata bahwa kesempatan selalu terbuka bagi siapapun yang mau berusaha (termasuk bagi guru madrasah). Berusaha menghasilkan karya, memberikan yang terbaik, dan menjadi orang yang bermanfaat bagi siapapun di sekelilingnya. Mari bersama Agumapi bangkitkan semangat berkarya. Mari ubah dunia dengan menulis.

Tags: , ,
Categorised in:

No comment for Belajar pada Ira Madan, Guru Madrasah Novelis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *