ispi
Menu Click to open Menus
Home » Karya » Cerpen » Bukan Pelabuhan Terakhir

Bukan Pelabuhan Terakhir

(170 Views) Juli 21, 2017 12:17 am | Published by

Matahari tak hendak sombong atau semena-mena. Benda angkasa itu hanya bertasbih. Mengikuti kehendak Yang Kuasa. Jika siang itu, teriknya seperti membakar. Tentu saja itu bukan kesalahannya.

             “ Setiap hari, cahaya itu semakin terasa membakar !”

             “ Maksudnya ?”

             “ Bulan lalu, kita ke sini kan ?”

             “ Benar !”

             “ Apakah kau merasa sepanas sekarang ?”

             “ Hemm !” Aku menjawab singkat. Tentu saja ingatanku tak sedetail itu. Hanya garis besar saja yang masih terrekam.

             “ Kau pasti sudah melupakan semuanya, ya ?”

             Aku tergagap ! Benar saja, ia hampir bisa menebak jalan pikiranku.

             “ Bukan itu ! Bukan itu maksudku !”

             “ Ya ! Saya paham !” Dari suaranya, ada nada kecewa. Setidaknya, ada yang membuatnya tak nyaman dari jawabanku.

             Memang, harus kuakui. Pikiranku sedang bercabang-cabang. Sebuah titik, menjadi awal semuanya. Layaknya simpul dari sekumpulan lembar benang, titik itu memulai sehimpunan persoalan. Saling beririsan di beberapa bagian. Lantas berunifikasi di bagian lain. Begitu seterusnya, hingga jika harus didiskusikan dengan ahli matematika, aku yakin ia tak bisa mengurai rumus-rumusnya.

             “ Mas, masih memikirkan kejadian itu ?”

             “ Kejadian yang mana ?”

             “ Waduh ! Aku kok merasa melihat garis bilangan yang mulai kabur ! ”

             Aku hanya tersenyum ! Lagi-lagi, harus kuakui memoriku akhir-akhir ini agak kacau. Bisa jadi ini akibat perbedaan penafsiran.  Mungkin aku terlalu bertele-tele. Sedangkan, dia terlalu sederhana. Sepertinya terlalu mengada-ada jika itu aku hubung-hubungkan dengan latar belakang akademis. Tetapi, memang begitulah adanya.

             Dia menganggap itu hanya satu peristiwa. Ya ! Hanya satu ! Sederhana kan ? Tapi aku, menafsirkannya menjadi beberapa peristiwa yang kemudian terjalin menjadi alur cerita. Berkait-kaitan. Bersinggung-singgungan. Mengikuti hukum kausalitas. Makanya saat ia bertanya sebuah kejadian, aku menjadi bingung. Yang mana yang sedang aku pikirkan.

             Ijazah memang sudah di tangan.Restu orang tua juga sudah kugenggam. Jika ada sebuah penghalang. Itu hanya berupa waktu. Ya ! Waktu yang harus kupacu. Melebihi kemampuanku. Tak kusangka begitu banyak dampak ikutannya.

             Dimulai dari keraguan terhadap jawaban. Ketakutan pada bayang-bayang. Salah paham pada pertanyaan. Kepicikan dalam memandang permintaan. Sampai, akhirnya kegagalan dalam merancang masa depan.

             “ Mas sudah tahu jawabannya ?”

             “ Eh … belum ! Kita bicara yang lain ya ?”

             Percakapan jeda beberapa saat. Air laut yang bergulung-gulung menebarkan suara khasnya. Sebagian orang menyebutnya gemuruh. Tetapi aku lebih senang dengan menjulukinya sebagai bisikan. Bisa jadi, telingaku yang tak begitu peka. Suara deburan gelombang terdengar seperti bisikan. Mungkin saja karena fantasiku sedang mengelana. Atau memang, gelombang laut yang kini tak lebih kuat dari keberanianku pada masa depan.

             “Kita bicara apa, Mas ?”

            Aku tersentak sejenak. Spontan, reflekku meletup. Menghasilkan deretan kata sekenanya.

             “Ya ! Kenapa kita tak kepikiran menuliskan nama kita di pasir indah ini ?”

             “Maksudnya ?”

             “Lihat di sana !  Mereka sedang asyik menulis nama mereka. Memang sih, jika air laut datang nama mereka akan terkikis. Mereka menulis lagi dan lagi. Asyik kan ?”

             “Betul ! Tapi bukankah Mas pernah bilang ! Pasti lupa ya ?”

             Aku tergagap ! Mencoba menelusuri setiap kalimat layaknya membedah sebuah novel karya Agatha Christie untuk mencari kata kunci pembuka misteri. Lebih sulit lagi, apabila kalimat itu bukan bentuk pernyataan hati. Bukankah banyak kalimat terucap yang kemudian menjadi buih putih tanpa makna  ?

             “Mas pernah bilang ! Kita tidak perlu menuliskan nama kita di pasir ini ! Pasir ini berupa konstruksi rapuh. Percuma saja menuliskan, jika air laut yang begitu lembut juga mampu menghapusnya seketika ! Ingat kan, Mas ?”

             Tiba-tiba aku menjelma menjadi seperti lungfish yang baru terbangun dari tidurnya setelah tiga bulan kemarau. Ya ! Benar sekali, aku pernah mengucapkannya sebulan lalu ! Di tempat ini juga. Dan wanita ini, masih mengingatnya dengan tepat. Persis urutan kata dan intonasinya.

             “Mas juga tak mau menuliskan nama kita di atas batu. Ingat kan, Mas. Saat percik air pegunungan menyelinap di keempat kaki kita. Aku ingin menuliskan nama kita dengan lumpur yang sengaja aku bawa dari sawah. Mas melarang ! Percuma saja menuliskan, jika hujan yang begitu ramah juga mampu melunturkan seketika ! Ingat kan, Mas ?”

             Aku makin terpojok ! Kalimat ini ? Ya ! Aku mengucapkannya, sekitar enam bulan lalu. Kali Pelus yang bermuara di kaki Gunung Slamet menjadi setting sempurna. Udara sejuk desa di ketinggian 800 memanjakan naluri manusia untuk terhanyut pada dorongan romantis. Entah apa lagi ! Aku tiba-tiba mampu merangkai kata dengan daya magis tinggi. Sehingga, tarian daun pakis menyaksikan sepasang hati sedang meneguhkan janji.

             “Terus Mas bilang !”

             “Ya ! Ya aku ingat itu ! Aku mengatakan lebih baik menuliskan nama di hati kita, kan ? Hati adalah tempat terbaik. Terlindung di antara rongga dada. Tersembunyi dari mata manusia. Hati adalah tempat teraman dan terabadi. “

             “Betul, Mas ! Aku juga masih mengingatnya !”

             Lega rasanya ! Setidaknya, keraguan yang sedari tadi menggayut perlahan pergi. Aku menangkapnya begitu. Bukan dari rona wajah yang mencair dan seulas senyum yang menghias. Aku paham betul. Wanita ini pintar menyembunyikan rasa. Wajah dan senyumnya sering menyembunyikan rasa. Mungkin juga karena aku yang terlanjur kagum pada harmoni rupa.

          Aku menangkapnya dari sorot mata. Tatap matanya selalu jujur. Aku meyakininya. Bahkan hingga kini. Saat puluhan kali sudah bumi berrevolusi. Saat kaki sudah berpijak di beda lokasi. Takdir telah terjadi. Dia ternyata bukanlah pelabuhan terakhir.

 ***

Tags: ,
Categorised in:

No comment for Bukan Pelabuhan Terakhir

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *