,
Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » Curhat » Dari Era ‘Ora Elok’ Hingga Era Tinggal Colok

Dari Era ‘Ora Elok’ Hingga Era Tinggal Colok

(336 Views) Juli 17, 2017 12:40 pm | Published by

(Refleksi Pendidikan dari Masa ke Masa)
Oleh: Drs. Bambang Sukarnoto, M.Pd.
Staf Pendidik pada MTs Negeri 23 Jakarta dan Pengurus Agumapi

Kehidupan manusia ditakdirkan dinamis. Tak ada yang tetap. Semuanya bergerak dan berubah. Jika ada yang tetap ya perubahan itu sendiri. Artinya, perubahan itu akan tetap dan selalu ada selama bumi masih berputar. Perubahan itu meliputi semua sendi. Termasuk juga dunia pendidikan.

Sejarah mencatat beberapa tokoh muncul dan mencatatkan namanya sebagai pencetus pandangan manusia terhadap pendidikan. Tabularasa mengarahkan pandangan bahwa pendidikan layaknya menorehkan goresan-goresan di atas meja putih. Muncul kemudian konvergensi. Perkembangan selanjutnya mencatat, banyak sekali pandangan dan teori pendidikan yang mencoba menjawab perubahan kehidupan manusia.

Kita bisa meyakini, Allah SWT mengutus nabi dan rasul yang berbeda untuk kaum yang berbeda pula. Salah satu dimensi hikmahnya adalah perubahan kehidupan manusia harus dijawab dengan perubahan pola pikir manusianya. Terutama dalam hal pendidikan.

Dalam lingkup yang lebih sempit, sekitar empat dekade lalu di beberapa daerah di Pulau Jawa terkenal sebuah frasa. Frasa ini sangat melekat di bibir orang tua. Seperti sebuah petuah, frasa ini menjadi sakti sehingga anak yang mendengarnya akan mematuhinya. Frasa itu adalah “ora ilok” atau “ora elok”. Dalam bahasa Indonesia bisa diterjemahkan menjadi “tidak baik” atau pamali.

Beberapa perilaku yang tergolong “ora ilok” adalah makan sambil berdiri, berdiri di pintu, duduk di bantal dan banyak lagi. Untuk menguatkan kesaktian frasa itu ditambahi pula dengan akibat yang bagi sebagian orang tak masuk logika. Seperti jika sering berdiri di pintu akan menjadi perawan tua. Jika duduk di bantal akan terkena bisul.

Kepatuhan sang anak pada larangan orang tua dilakukan tanpa adanya pikiran kritis. Jangankan kritis, bertanya apa kaitan antara larangan dan akibatnya pun tak pernah terlintas. Anak menurut dengan kepasrahan dan kepercayaan kepada orang tua. Hasilnya, dapat disaksikan bersama. Masyarakat yang ramah dan santun. Bahkan kemudian, menjadikan label yang terkenal di seluruh dunia. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang santun dan berbudaya.

Kembali pada statemen awal. Kehidupan selalu dinamis. Pada dekade selanjutnya,perubahan kehidupan diwarnai oleh munculnyapengaruh dari berbagai penjuru dan perkembangan teknologi informasi. Frasa sakti, perlahan tapi pasti, kehilangan daya magisnya. Sang anak sudah mulai berani mempertanyakan. Mengkritisi sampai akhirnya tidak mempercayai lagi.

Generasi yang dibesarkan dengan frasa sakti itu hanya bisa memandang betapa anak-anaknya berkembang dengan logikanya sendiri. Segala yang tidak masuk logika dianggapnya sebagai kuna. Keadaan ini masih ditambah dengan semakin pesatnya arus informasi. Istilah mudahnya, kini tibalah era “tinggal colok”. Sebuah era yang menggambarkan betapa mudah dan cepatnya, seseorang mendapatkan sebuah informasi.

Beberapa peristiwa yang terjadi belakangan ini tentu tak dapat dipisahkan. Bahkan, kemudian ada sinyalemen dari pemerintah bahwa kita sedang mengalami krisis karakter. Lagi-lagi, pendidikan menjadi tumpuan utama. Terlebih lagi, tentu saja para pendidik. Kecenderungan bergesernya porsi peran orang tua akibat perkembangan teknologi informasi mengharuskan dunia pendidikan meramu lagi formula.

Pendidik sebagai pelaksana sudah barang tentu lebih menguasai kondisi senyatanya. Untuk itu, sambil menunggu langkah para pengambil kebijakan, ada baiknya kita memulainya. Merubah paradigma adalah langkah awalnya. Bagaimana kita bisa merubah keadaan, jika kita tetap dengan cara pandang lama. Setapak ke depan masih lebih baik daripada diam di tempat. Harapannya, dunia pendidikan berhasil menyiapkan generasi bangsa yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi yang didasari kekuatan iman dan takwa. Semoga!

Tags: ,
Categorised in:

No comment for Dari Era ‘Ora Elok’ Hingga Era Tinggal Colok

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Enter Captcha Here : *

Reload Image