,
Menu Click to open Menus
Home » Karya » Artikel » Dari Siapakah Karakter Anak Terbentuk

Dari Siapakah Karakter Anak Terbentuk

(158 Views) Oktober 16, 2017 2:44 pm | Published by

Oleh : Sarifudin, S.Pd.I, M.Pd.
Tenaga Pendidik MTs Negeri Majenang, Cilacap, Jawa Tengah

Soedarsono (2009: 12) dan Dony Koesoema A. (2007: 37) mendefinisikan karakter sebagai kondisi dinamis struktur antropologis individu yang tidak mau sekedar berhenti atas determinasi kodratinya, melainkan juga sebuah usaha hidup untuk menjadi semakin integral mengatasi determinasi alam dalam dirinya untuk proses penyempurnaan dirinya terus menerus. Perilaku dan tingkah laku seolah telah melekat dalam pembentukan karakter anak.

Terbentuk atau tidaknya karakter anak ke arah yang lebih baik sangat bergantung pada pembiasaan di lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakatnya. Ketiga lingkungan tersebut sangat berpengaruh terhadap pemahaman memilih dan memilah, mana yang menjadi tuntunan dan mana yang menjadi tontonan.

Pembentukan karakter anak tidak cukup hanya berasal dari lingkungan keluarga saja, lingkungan masyarakat dan sekolah juga menjadi penentu. Keterkaitan itulah yang menjadi penentu seperti apakah karakter anak jika salah satunya tidak saling mendukung. Karakter anak akan sangat tergambar kesehariannya dari perilaku dan tingkah laku mengenai etika anak terhadap orang tua, tokoh masyarakat dan guru. Hanya pembiasaan dari kedua orang tualah sangat berpengaruh secara langsung terhadap karakter anak. Tidak patuh dan tidak hormat terhadap perintah orangtua tidak semata-mata karena anak tidak faham tentang kesopanan. Akan tetapi karakter anak yang demikian justru mereka sedang mencari jati diri sesungguhnya. Menggunakan pendekatan persuasif dan kedewasaan bertindak dalam menangani permasalahan karakter anak menjadi kebutuhan orang tua sebagai sosok uswatun hasanah. Sangat mudah mengucapkan kata Sabar memang, akan tetapi tidak mudah untuk melakukannya. Hanya dengan kesabaranlah karakter anak akan terbentuk baik didalam lingkungan keluarga, masyarakat dan sekolah. Perlunya memupuk kesabaran bagi orang tua, tokoh masyarakat dan guru menjadi penentu dalam membidik karakter anak dengan baik.

Penbidikan karakter anak dapat ditunjukan orang tua, tokoh masyarakat dan guru dimulai dari pemilihan hal-hal kebaikan dan pemilahan hal-hal yang buruk. Menunjukan hal-hal kebaikan seperti halnya menolong teman ketika menghadapi pelajaran yang sulit, membantu teman yang sedang mempunyai masalah pribadi, dan etika sopan santun ketika berbicara dengan orang yang lebih dewasa. Memberikan contoh secara teori saja tidak cukup untuk membuktikan pemilihan hal-hal yang baik menurut orang tua, tokoh masyarakat dan guru, karena pembentukan karakter anak justru didapatkan dari apa yang dilihat, dirasa nyaman untuk mengekspresikan pola pikir sederhananya.

Bagi orang tua yang merasa kesulitan untuk membidik karakter anak, seperti apakah karakter antara anak yang satu dengan yang lainnya, cukup hanya dengan mempelajari dan memahami watak serta sifat. Karena dari watak, sifat anak dalam kehidupan sehari-hari apabila orang tua, tokoh masyarakat dan guru memahami serta memperhatikan, dari situlah kita akan tahu penanganan seperti apa yang harus digunakan untuk menyampaikan hal-hal yang baik. Daya tangkap dan daya ingat setiap anak sudah pasti berbeda-beda, ada yang cukup dengan pemberian pemaham secara lisan serta ada juga yang harus dipraktekan mana hal-hal yang baik mana hal-hal yang buruk untuk karakter anak. Ketika anak menonton sinetron dan film sebuah misal, jika orang tua tidak melakukan pendampingan secara nyata maka otomatis apa yang dilihat, dirasa akan ditelan mentah-mentah karena tidak ada bimbingan hal-hal yang baik dan mana hal-hal yang berdampak buruk bagi pembentukan karakter anak. Pembentukan karakter anak dikategorikan sesuai usianya yaitu;

  1. Usia 4 sampai dengan usia 8 tahun biasakan anak untuk mengenal pembiasaan sopan santun dan ajarkan mengenal hal-hal yang positif dan menjauhi hal-hal yang negatif secara langsung.
  2. Usia 9 sampai dengan usia 12 tahun biasakan anak untuk memahami kepekaan terhadap lingkungan keluarga, tokoh masyarakat dan guru sebagai suri tauladan yang baik, berikan pemahaman mana yang harus menjadi tuntunan mana yang bukan tuntunan.
  3. Usia 13 sampai dengan usia 15 tahun Bimbinglah anakuntuk menemukan jati dirinya dengan cara sering-seringlah menjalin komunikasi yang intens antara orang tua, tokoh masyarakat dan guru setiap ada masalah pribadi maupun lainnya.
  4. Usia 16 sampai dengan 17 tahun jadikanlah anak sebagai teman, agar anak merasa nyaman untuk tidak ragu-ragu dan malu konsultasi, komunikasi dengan orang tua, tokoh masyarakat dan guru, baik permasalahan pribadi dan sosial masyarakatnya.

          Pembagian kategori usia pembentukan karakter anak tersebut diatas dalam faktanya mungkin tidak semudah apa yang diucapkan. Akan tetapi penggambaran kategori usia pembentukan karakter anak tersebut dapat membantu kalangan orang tua, tokoh masyarakat dan guru sebagai pembanding tingkat pembidikan karakter anak. Namun apabila kita cermati secara seksama pembagian kategori usia dalam pembentukan karakter anak tersebut diatas dapat kita ketahui anak-anak yang ada disekeliling kita. Kemungkinan pasti atau tidaknya kategori usia dalam pembentukan karakter anak tergantung kepada pendidikan lingkungan keluarga, masyarakat dan sekolah.

Ketiga faktor inilah yang akan menjadi dominan dalam pembentukan karakter anak apabila orang tua, tokoh masyarakat dan guru saling memahami betul keterkaitan faktur satu dan lainnya. Mengarah ke karakter yang baik seolah menjadi impian semata apabila satu sama lainnya tidak saling mendukung. Salah satu bentuk dukungan bagi perkembangan karakter anak adalah dengan mendampingi dan membimbing segala aktivitas anak. Dampak yang paling berpengaruh terhadap perkembangan karakter anak adalah ketika anak sulit dan enggan berkonsultasi dengan siapapun.

Dampak yang sangat terasa adalah bisa saja anak tertutup dengan segala masalah pribadi, dengan temannya bahkan dengan lingkungan sosial masyarakatnya. Akan berhadapan dengan masalah besar jika seorang orang tua tidak dapat berkomunikasi dan berkonsultasi terhadap perkembangan psikologi jiwa anak. Seperti halnya anak yang cenderung tertutup dan tidak mau terbuka atas apapun yang mengerumuni kebatinannya. Penanganan terhadap anak yang cenderung tertutup bisa dilakukan dengan kegiatan seperti :

  1. Tanyakan dan dampingi hobi anak tersebut, hingga ada rasa ikatan batin yang lebih kuat anatara hubungan anak dan orang tua.
  2. Berikanlah pandangan dan tantangan masa depan dengan cara penyelesaian masalah yang lebih nyata dan terlihat secara kasad mata anak tersebut.
  3. Berikan pemahaman tentang hubungan antar lingkungan sosial, masyarakat dan sekolah.
  4. Hal-hal apa saja yang harus anak pertanggungjawabkan terhadap hukum sebab akibat.
  5. Cobalah kenali teman diekeliling anak tersebut, supaya jika ada masalah bisa diselesaikan secara runtut.
  6. Berikan pemahaman watak, sifat anak terhadap guru di sekolahnya, supaya ketika ada apa-apa akan segera cepat tertangani.

          Mengahadapi anak yang cenderung pendiam dan tertutup memang tidaklah semudah membalikan kedua telapak tangan, perlu adaptasi dan mengetahui situasi dan kondisi kejiwaan anak tersebut. Berikan energi positif terhadap perkembangan karakter anak melalui uswatun hasanah dalam hal apapun, maka dengan sendirinya anak akan merasa ada seorang fisgur, sosok yang harus ia hormati. Jika sebaliknya seorang orang tua tidak bisa menjadi panutan anak, maka yang terjadi adalah anak merasa tidak ada seorang pengayom dan suri tauladan baik orang tua di lingkungan keluarga maupun di sekolah. Kesulitan berkomunikasi, konsultasi secara langsung secara intens antara orang tua dan anak jelas berpengaruh pada perkembangan karakter anak pada saat itu maupun setelah ia melepas masa kanak-kanak, remaja, dewasa. Janganlah menganggap hal yang biasa apabila kita mempunyai anak yang cenderung tertutup, ajaklah anak untuk berkomunikasi dan konsultasi terhadap segala masalah ataupun kesulitan lainnya. Perlu dikonsultasikan dengan seorang psikolog atau dengan orang yang terdeekat dengan si anak, disamping itu juga harus ada perhatian lebih terhadap anak yang pendiam, suatu misal dengan elalu mengajaknya berkomunikasi dalam hal apapun. Tidak akan mengalami kesulitan informasi apabila orang tua faham dengan perkembangan karakter anak, bergaul dengan siapa saja dan dimana saja, suatu keharusan orang tua tahun hal itu.

Berbeda dengan menghadapi anak yang cenderung terbuka yaitu orang tua harus lebih berhati-hati dalam menjaga komunikasi. Yang dimaksud dengan hati-hati terhadap anak yang lebih terbuka yakni orang tua harus memahami karakter anak yang demikian karena lebih cenderung prosesif dan aktif. Prosesif dan aktif pada anak terbuka, peran orang tua harus lebih mengarahkan secara jelas tentang apa saja yang dilarang oleh agama, negara dan sekolah serta masyarakat. Lebih mudah bergaul, komunikasi, konsultasi antara orang tua, guru, tokoh masyarakat dan juga teman-temanya, dalam hal ini peran orang tua hanya sebagai pengarah atas apa yang telah anak lakukan. Dengan demikian fokus perhatian orang tua terhadap anak yang tertutup dan anak yang terbuka terletak sejauh mana kedekatan orangtua dengan anak tersebut mengenai keinginan dan harapan anak. Sehingga dari faktor kedekatan itulah perkembangan karakter anak akan lebih mudah terpantau dan terdeteksi juga terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Tags: ,
Categorised in:

No comment for Dari Siapakah Karakter Anak Terbentuk

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Enter Captcha Here : *

Reload Image