,
Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » Karya » Artikel » Guru Penulis: Mengikat Makna Lewat Aksara

Guru Penulis: Mengikat Makna Lewat Aksara

(401 Views) Mei 24, 2017 12:44 am | Published by

Oleh: Intan Irawati, S.Pd., M.Si.
Ketua I Pengurus Pusat Agumapi, Guru MAN 15 Jakarta dan Juara 1 Guru Berprestasi Nasional Tingkat MA Tahun 2014.

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Al ‘Alaq : 1-5)

“Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis, berkat nikmat Tuhanmu kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila.(Al Qalam : 1-2)”

Kata literasi baru mulai sering disebut dalam beberapa tahun terakhir. Sejak tahun 2013, pemerintah mencanangkan program Gerakan Literasi Sekolah untuk meningkatkan kemampuan literasi siswa. Tapi apakah yang dimaksud dengan literasi masih banyak yang belum memahaminya.

Dalam Islam sendiri, gerakan literasi sudah dibumikan oleh Rasulullah SAW sejak pertama beliau diutus menjadi Nabi. Perintah membaca dan menulis yang telah tertera dalam surat Al ‘Alaq dan Al Qalam, dapat mengubah suatu kaum yang jahiliyah menjadi pemimpin dunia selama berabad-abad. Sayang sekali kini, ajaran mulia ini kurang diperhatikan oleh umat Islam. Al hasil umat Islam menjadi terbelakang dalam kancah peradaban dan perpolitikan dunia.

Menurut Al-Maraghi, berdasarkan isi dari surah Al-Alaq dari ayat satu hingga ayat ke lima Al-Quran telah merubah suatu bangsa yang sangat rendah menjadi bangsa yang mulia dengan perantara keutamaan kalam. Jika tidak ada tulisan, tentu pengetahuan tidak terekam, agama akan sirna dan keberadaan suatu bangsa tidak tercatat dalam sejarah.

Dalam sejarah perjuangan Indonesia, tulisan Ki hajar Dewantara Alks in Netherland Was mampu menggugah parlemen Belanda untuk mengakhiri politik tanam paksanya di Indonesia. Potongan sepenggal isi tulisannya antara lain, “sekiranya aku orang belanda (kalau aku orang belanda) aku tidak akan merayakan pesta” di negeri yang telah kita rampas sendiri kemerdekaannya”.

Kritiknya terhadap kebijakan pemerintah kolonial menyebabkan ia diasingkan ke Belanda, dan ia kemudian mendirikan sebuah lembaga pendidikan bernama Taman Siswa setelah kembali ke Indonesia. Begitu juga dengan RA Kartini, kiprah beliau dalam pendidikan tidak akan pernah kita kenal bila beliau tidak menulis surat kepada sahabatnya JA Abendanon. Orang Belanda inilah yang dikemudian hari mengumpulkan surat-sura Kartini dan menerbitkannya sebagai buku “Habis Gelap Terbitlah Terang

Manfaat Menulis
Menulis dan berbicara adalah dua bentuk cara guru berkomunikasi dengan peserta didik. Guru menulis intisari atau pokok-pokok materi pembelajaran di papan tulis. Selain itu, jauh sebelum melaksanakan kegiatan pembelajaran,  guru telah menulis aneka macam perangkat pembelajaran. Selain itu, guru juga perlu membuat bahan ajar berupa slide, modul, Lembar kerja atau diktat mata pelajaran ataupun Buku Mata Pelajaran. Jadi memang kegiatan tulis menulis merupakan kegiatan keseharian guru.

Adapun manfaat menulis sangat banyak. Berikut beberapa di antaranya:

      1. Menulis itu menyehatkan
      2. Menulis dapat meningkatkan kepercayaan diri guru
      3. Menulis dapat mencegah kepikunan
      4. Dengan menulis secara kontinyu, berarti seorang guru telah mengedukasi masyarakat.
      5. Menulis dapat menambah pemasukan
      6. Menulis dapat meningkatkan kecerdasan atau intelektualitasnya.
      7. Menulis adalah bentuk investasi di hari tua.
      8. Mendorong untuk banyak membaca
      9. Memiliki Wawasan Luas
      10. Membuat Buku Bahan Ajar sendiri.
      11. Mengikat Ilmu Pengetahuan
      12. Menulis dapat memperoleh nilai kredit (credit point) bagi profesi guru.
      13. Menulis dapat melatih Kemampuan Berbahasa Indonesia
      14. Mengangkat Harkat dan Martabat Bangsa.
      15. Menginspirasi para peserta didik

Dari Mana Kita Mulai ?

Seorang penulis 25 buku menyebutkan resiko menjadi penulis adalah menjadi Kaya, Kaya Hati, Kaya Imajinasi, dan Kaya Materi. Bagi para pendidik yang ingin kaya tentu saja menjadi penulis merupakan pilihan yang sangat menggiurkan.

Ada beberapa cara memulai menulis yang sudah dilakukan oleh banyak orang.

      1. Menulis Diary
      2. Menulis di majalah dinding, bulletin atau majalah sekolah
      3. Menulis di media sosial seperti FB, Whatsappt, twitter,dan
      4. Menulis di Blog pribadi atau Blog Komunitas
      5. Menulis secara rutin sehari minimal 300 kata atau 1 halaman A4 dengan font Arial, TNR, atau calibri 12 dengan jarak 1,5 spasi.

Apa yang ditulis ?

Banyak hal yang bisa dijadikan bahan tulisan, antara lain :

      1. Apa yang kita rasakan, kita dengar dan kita lihat
      2. Apa yang kita alami
      3. Ide, gagasan, solusi suatu masalah

Bahan-bahan tulisan ini merupakan hasil penangkapan makna tersirat oleh kita. Misal, seorang alumni 411 atau 212 bisa menuliskan pengalamannya selama mengikuti gerakan ini. Menceritakan kembali apa yang dirasa, dilihat dan didengar selama kegiatan. Bahkan juga bisa menambahkan hasil yang didapat setelah mengikti gerakan ini bagi pribadinya, keluarga bahkan umat. Inilah yang dimaksud dengan mengikat makna. Apa yang kita alami dan kita rasakan, belum tentu dialami oleh orang lain. Bisa jadi story telling ini bisa menginspirasi banyak orang bahkan membuat sebuah perubahan bagi masyarakat.

Bertegur sapa dengan siswa, mengajar di kelas, serta hambatan dan tantangan selama mendidik akan menjadi pelajaran berharga bagi guru-guru lainnya. Tulisan yang diisi dengan fakta dan pengalaman nyata penulis akan jauh lebih berkesan bagi pembaca. Jadi, semua kejadian di sekitar kita merupakan bahan untuk tulis. Bahkan patah hati bagi seorang penulis bisa berbuah royalti, kesulitan menjadi orang tua bisa menghasilkan buku-buku best seller dan menginspirasi jutaan orang. Catatan yang tidak boleh dilupakan adalah penulis perlu mengolah dengan cermat, meramu dengan masak agar semua bahan yang dimilikinya mampu menggugah bahkan menghipnotis pembaca.

Demikianlah, pendidik penggiat literasi merupakan seorang inspirator. Tulisannya tidak hanya akan bermanfaat bagi dirinya namun juga banyak orang. Ia hidup lebih lama dari usianya. Ilmu yang ditulisnya menjadi amal jariyah hingga yaumil Akhir, Insya Alloh.

Kalau kamu bukan anak raja, dan kamu bukan anak seorang ulama besar, maka jadilah penulis”._ Imam Al Ghazali

“Peluru hanya bisa menembus satu kepala, tetapi tulisan bisa menembus jutaan kepala.” Sayyid Qutb

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Pramoedya Ananta Toer

Wallohu a’lam bishshowab

DAFTAR PUSTAKA

 

http://www.kompasiana.com/pewarisnegri/10-alasan-mengapa-guru-harus-menulis_54f3ccb9745513a12b6c7f0b

http://js-ruangberbagi.blogspot.co.id/2012/08/mengapa-guru-harus-menulis.html

 

Categorised in: ,

No comment for Guru Penulis: Mengikat Makna Lewat Aksara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Enter Captcha Here : *

Reload Image