ispi
Menu Click to open Menus
Home » Sosok » Iding Rosyidin: Membaca dan Menulis Merupakan Soulmate yang Tak Boleh Dipisahkan

Iding Rosyidin: Membaca dan Menulis Merupakan Soulmate yang Tak Boleh Dipisahkan

(290 Views) Mei 17, 2017 1:15 am | Published by

Oleh: Deni Kurniawan As’ari
Pegiat Agumapi

Iding Rosyidin saat tampil sebagai narasumber di televisi nasional

Iding Rosyidin. Salah satu pembina Agumapi ini namanya sudah tak asing dalam dunia kepenulisan Indonesia. Tulisannya sudah tersebar dalam berbagai media nasional hingga internasional. Jika mencoba mengetikkan namanya di pencarian google maka namanya muncul sebagai dosen UIN Jakarta yang begitu aktif menulis. Sejumlah media telah menerbitkan karya tulisnya seperti Republika, Kompas, Jawa Pos, Koran Sinar Harapan, Pikiran Rakyat, Koran Sindo, termasuk di The Jakarta Post.

Atas prestasinya dalam menulis tersebut Alumnus Unpad kelahiran Kuningan ini beberapa bulan lalu mendapat penghargaan sebagai dosen terproduktif menulis di media massa.

Aktivitas menulis sudah lama ia geluti terutama saat begitu keranjingan membaca sejak duduk di bangku MI. Bagi alumnus Gontor ini membaca menulis tak bisa dipisahkan. Ketika sudah membaca maka perlu ditindaklanjuti dengan menulis. Membaca-menulis menurutnya harus jadi seperti belahan jiwa atau soulmate. Tak mungkin bisa menulis kalau tidak membaca dan aktivitas membaca perlu diteruskan dengan menulis. Inilah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan.

Berikut wawancara singkat dengan Dr. Iding Rosyidin, MA dosen UIN Jakarta yang juga pembina Asosiasi Guru Madrasah Penulis Indonesia.

Boleh tahu, apa prinsip hidup yang bapak pegang selama ini dalam menjalankan tugas sebagai seorang dosen yang sibuk namun juga aktif menulis?

Prinsip saya, jangan tunggu inspirasi untuk menulis, tetapi menulislah inspirasi akan datang. Dalam mengajar saya sering menekankan membaca dan menulis itu merupakan soulmate yang tidak boleh dipisahkan. Kalian berdosa kalau memisahkannya.

Siapa tokoh yang menginspirasi bapak sehingga menjadi dosen yang aktif menulis seperti sekarang?

Ada banyak yang menginspirasi saya menulis seperti Emha Ainun Najib, Romo Mangun, dan Fachry Ali.

Boleh bapak berbagi bagaimana awal mula tertarik untuk menjadi seorang dosen yang suka menulis?

Sebenarnya saya suka menulis sejak saya hobi membaca waktu duduk di MI. Saya suka baca buku-buku perpustakaan tentang biografi, cerita anak, legenda, dan sebagainya. Dari situ saya mulai tertarik menulis. Waktu saya di pesantren Gontor saya semakin tertarik menulis. Hampir setiap hari saya masuk perpustakaan dan membaca buku. Pertama tulisan saya dimuat waktu di pesantren saat kelas 2 SMA kalau di luar, yaitu puisi di Panji Masyarakat. Saya aktif menulis di majalah dinding dan juga majalah untuk santri. Waktu kuliah di Ciputat saya aktif di kelompok studi juga pernah menjadi pemred majalah berbahasa Arab an-Nasyath. Waktu kuliah saya mulai banyak menulis artikel di media massa. Bahkan sejak semester 5 saya tidak minta lagi uang kuliah karena cukup dari menulis dan kegiatan lain.

Prestasi bapak di bidang kepenulisan sudah begitu banyak, termasuk yang bapak share di blog pribadi, apa gerangan tips bapak untuk bisa tetap produktif menghasilkan tulisan?

Dalam menulis saya punya prinsip bahwa menulis itu menyenangkan. Dengan menulis justeru segala uneg2, keluh kesah dan sebagainya bisa hilang. Selain itu, saya membuat komitmen pada diri saya sendiri bahwa jika saya tidak menulis maka saya anggap diri saya berutang. Dan utang harus dibayar

Menurut bapak mengapa sampai saat ini masih banyak guru yang masih merasa kesulitan untuk menulis?

Sebenarnya para guru punya potensi untuk menjadi penulis. Hanya saja mereka tidak mau atau tidak rajin mengasahnya sehingga potensi itu hilang. Selain itu, kurangnya wadah atau forum untuk berlatih menulis merupakan salah satu sebab juga. Nah, keberadaan agumapi ini harus dimanfaatkan oleh mereka.

Apa yang sebaiknya dilakukan pemerintah dalam hal ini kementerian agama agar guru madrasah mampu menulis?

Pemerintah/kemenag harus sering merangsang keinginan para guru. Misalnya dengan sering mengadakan lomba penulisan, memberikan beasiswa untuk training kepenulisan dll.

Apa yang sebaiknya dilakukan organisasi profesi seperti Agumapi agar guru madrasah mau dan mampu menulis?

Agumapi harus sering bikian kegiatan: workshop kepenulisan, lomba menulis, sharing karya para penulis, diskusi rutin dll

Apa yang sebaiknya dilakukan guru madrasah sendiri agar mampu menulis?

Tidak ada jalan lain kecuali berlatih, berlatih, dan berlatih menulis. Jangan mudah putus asa kalau karyanya belum dimuat atau diterbitkan, terus saja menulis.

Menurut bapak apa kelebihan dari seorang guru yang suka menulis?

Guru yg mampu menulis biasanya cara berpikirnya juga sistematis, mudah memberi penjelasan kepada siswa. Di samping itu, menulis bagi guru bisa memberikan penghasilan yg lumayan besar.

Apa saran bapak untuk para guru madrasah di Indonesia

Saran saya bergabunglah dengan agumapi, manfaatkan sbg forum untuk latihan menulis.

Oh ya,  sewaktu di gontor saya pernah menjadi juara kedua lomba penerjemahan artikel bahasa Inggris ke Indobesia sepondok. Itu juga memacu saya semakin giat membaca dan menulis. Waktu S3 di komunikasi Unpad saya pernah meraih rucita award sebagai penulis mahasiswa terproduktif kedua di media massa.

Terima kasih kepada Bapak Pembina Agumapi yang telah berkenan berbagi suksesnya.

Agumapi—–Berkarya, Berbagi, dan Mengabdi.

***

Tags:
Categorised in:

No comment for Iding Rosyidin: Membaca dan Menulis Merupakan Soulmate yang Tak Boleh Dipisahkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *