,
Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » Karya » Artikel » Konsistensi Individu Berkarakter

Konsistensi Individu Berkarakter

(271 Views) Agustus 15, 2017 6:14 am | Published by

Oleh Ariesta Indriawati, S.Pd., M.M.
Guru IPA di MTs Negeri Majenang Kabupaten Cilacap Jawa Tengah

Setiap manusia senantiasa berusaha untuk memperoleh kesuksesan dalam hidupnya. Berbagai upaya dilakukan antara lain melalui pendidikan formal, nonformal dan informal yang saling melengkapi guna meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan yang dimiliki sehingga mampu bersaing dalam mencari dan memperoleh pekerjaan yang layak atau bahkan mungkin bersaing dalam menciptakan lapangan kerja dan mengembangkan wirausaha sehingga selalu eksis dalam kariernya.

Berdasarkan penelitian di Harvard University Amerika Serikat (Ali Ibrahim Akbar, 2000 dari Akhmad Sudrajat, 2010), ternyata kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Penelitian ini mengungkapkan kesuksesan hanya ditentukan 20 persen oleh hard skill dan sisanya 80 persen oleh soft skill. Bahkan orang–orang tersukses di dunia bisa berhasil dikarenakan lebih banyak didukung kemampuan soft skill daripada hard skill. Hal ini mengisyaratkan bahwa ternyata pendidikan karakter sangat dibutuhkan dalam menumbuhkan dan mengembangkan kemampuan soft skill.

Menurut Prof. Suyanto Ph.D  karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas setiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan Negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan tiap akibat dari keputusan yang ia buat. Pendidikan karakter di sekolah atau madrasah dibutuhkan dalam upaya pembentukan pribadi peserta didik yang berkarakter sehingga peserta didik tumbuh menjadi individu yang cerdas secara intelektual, cerdas secara emosional dan cerdas secara spiritual. Dengan terbentuknya tiga kecerdasan secara integral dalam diri peserta didik diharapakan peserta didik mampu mandiri dan mampu mengambil keputusan yang tepat di setiap aktivitasnya dan siap bertanggung jawab akan segala konsekwensi yang mungkin timbul akibat dari keputusan yang dipilihnya. Pada dasarnya hidup adalah sebuah pilihan, sebagai pendidik dan orang tua kita wajib membimbing dan mengarahkan peserta didik untuk mampu menentukan pilihan hidup yang terbaik bagi kehidupanya dengan berbagai konsekwensi yang wajib dipertanggungjawabkannya.

Sasaran pendidikan karakter di sekolah atau madrasah adalah seluruh warga sekolah/madrasah yang meliputi seluruh peserta didik, seluruh guru, seluruh staf karyawan dan pimpinan sekolah/madrasah. Dalam mentransfer pengetahuan dan nilai–nilai luhur bangsa dan agama atau pendidikan karakter melalui proses pembelajaran yang dilakukan guru bersama-sama dengan peserta didik maka peran guru/pendidik menjadi lebih bermakna jika pendidik mampu memberi contoh atau suri tauladan melalui perilaku mulianya dalam proses pembelajaran dan dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa contoh perilaku mulia yang perlu dimiliki seorang guru atau pendidik agar dapat dicontoh oleh peserta didiknya antara lain adalah pendidik mengamalkan ajaran agama yang dianutnya secara benar, berkomunikasi dan berinteraksi secara santun dan efektif, menerapkan hidup bersih, sehat, aman dan mampu memanfaatkan waktu luang dengan baik, serta mampu menghargai berbagai perbedaan dan keberagaman baik keberagaman agama, budaya, suku, dan golongan social ekonomi. Selain itu pendidik diharapkan mampu membimbing peserta didik untuk mampu belajar bersikap jujur, mandiri, dan bertanggung jawab dalam mengambil berbagai keputusan dalam kehidupannya serta mampu bekerja sama dengan orang lain, dermawan dan suka menolong.

Seorang pendidik seharusnya mampu mengaplikasikan pilar–pilar pendidikan karakter tersebut dalam proses pembelajaran di sekolah atau madrasah. Konsistensi pendidik dalam pengaplikasian nilai karakter sangat dibutuhkan seperti halnya seorang muslim yang diharapkan untuk senantiasa istiqomah dalam memegang dan mengamalkan nilai- nilai islam dalam kehidupannya. Dalam menjaga konsistensi tersebut kadangkala banyak cobaan menghadang dan kita sebagai pendidik seharusnya mampu mengambil keputusan yang tepat yang sesuai dengan nilai- nilai karakter yang perlu kita kedepankan.

Sebagai contoh system pendidikan di Indonesia saat ini belum berada pada kondisi yang stabil. Bangsa Indonesia tampaknya masih mencari bentuk yang tepat dan sesuai bagi wajah pendidikan di Indonesia. Hal tersebut berimbas pada tidak tetapnya aturan standar kelulusan yang dari tahun ke tahun senantiasa berubah, mulai dari standar nilai minimal penentu kelulusan peserta didik yang terus naik hingga akhirnya penentu kelulusan peserta ujian dipengaruhi juga oleh nilai raport.

Tidak ajegnya penentu kelulusan tersebut merupakan ujian bagi pendidik dan peserta didik dalam mengukur tingkat kemampuan mereka dalam memegang teguh nilai- nilai karakter yang selama ini dipelajarinya bersama- sama. Pendidik senantiasa mengharapkan anak- anak didiknya mampu lolos dan mendapatkan hasil maksimal dalam ujian nasionalnya. Berbagai upaya dilakukan mulai dari penambahan jam belajar ntuk mapel UN, bimbingan belajar untuk latihan menyelesaikan soal- soal secara mudah dan tepat bimbingan mental dan motivasi belajar anak serta doa bersama untuk kesuksesan peserta didik dalam menempuh UN. Sebenarnya upaya – upaya maksimal sudah dilakukan seharusnya pendidik punya rasa optimis dan percaya diri yang kuat bagi kesuksesan putra- putrinya tetapi ada kalanya yang terjadi justru sebaliknya. Pendidik mengalami kekhawatiran yang berlebih atas kemampuan anak-anak didiknya. Karena kekhawatiran itulah kadangkala pendidik melakukan berbagai kecurangan untuk kesuksesan anak- anak didiknya dalam menempuh ujian nasional, bahkan yang lebih parah lagi tidak hanya pendidiknya yang melakukan kecurangan tetapi peserta didik atau peserta ujian yang melakukan kecurangan atas perintah atau anjuran guru atau pendidik. Jika kondisinya sudah seperti demikian sebenarnya siapa yang patut disalahkan?

Sebagai pendidik tampaknya perlu disadari bersama bahwa kita memiliki tugas suci dalam membentuk watak bangsa melalui pembentuk karakter generasi penerus bangsa yang bermartabat. Jika kita memberi contoh nilai- nilai yang bertentangan dengan pilar- pilar pendidikan karakter berarti kita tengah mencetak generasi bangsa yang bermental kurang baik karena peserta didik diberi contoh untuk bermanipulasi, berapologi, tidak jujur , mengesampingkan nilai keadilan dan mengajarkan makna kerja sama dalam arti yang salah. Bila beberapa tahun ke depan muncul gayus – gayus baru dengan jumlah yang besar itu tidak lain merupakan hasil pendidikan kita yang keliru kepada anak didik kita.

Marilah kita bersama- sama berusaha untuk tidak terjebak pola pikir praktis pragmatis yang keliru dan berpikir ke depan tentang pembentukan generasi penerus bangsa yang bersih dan bermoral melalui peran kita dalam menanamkan nilai – nilai karakter bangsa. Semoga bangsa Indonesia pun mampu menemukan system pendidikan yang tepat bagi kebaikan kita bersama, system yang tidak mengikat seluruh komponen yang terlibat dalam dunia pendidikan menjadi bertindak ter paksa melakukan kecurangan. Ujian Nasional yes tetapi penentuan kelulusan diharapkan sekolah atau madrasah lah yang menentukan karena sekolah atau madrasahlah yang sebenarnya paling tahu kondisi peserta didik mana yang layak untuk lulus atau tidak.

***

Tags:
Categorised in: ,

No comment for Konsistensi Individu Berkarakter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Enter Captcha Here : *

Reload Image