ispi
Menu Click to open Menus
Home » Karya » Fiksi » “Luka, Prasangka”

“Luka, Prasangka”

(400 Views) Januari 17, 2017 7:51 am | Published by

Oleh: Mujtahid, S.Pd.
Guru MTs Negeri Majenang, Cilacap

Di atas dermaga tua ini tak terlihat ada kapal mau berlabuh. Entah sudah berpuluh tahun lamanya dermaga ini tidak berfungsi. Tempat ini lebih sering di datangi pasangan muda untuk mengucap cinta. Memadu kasih penuh kemesraan. Kadang sebuah janji mengatasnamakan Tuhan mereka ikrarkan hanya demi sebuah nafsu. Naudzubilla min dzalika.

Sore itu udara begitu sejuk. Sesekali kulihat camar mengepak sayap menerjang ombak, seakan memamerkan tarian yang menantang. Sedang langit terlihat memerah dan berpadu dengan warna kuning keemasan yang mengiringi sang surya menuju peraduan.

Suasana sendu itu tiba-tiba menjadi pecah saat terlihat seorang gadis muda nan jelita dengan jilbab menghisi kepalanya berteriak dengan tangisan. Mela datang dengan Doni, kekasih hatinya yang selama setahun menjadi penghias malam sunyinya. Dia selalu ada dengan sejuta kasih sayang. Entah apa yang mereka pertengkarkan, sepertinya lelaki muda itu tengah emosi.

“ Mas! Aku sayang banget ma kamu, kenapa engkau menuduhku sekeji itu!? “. Ucap Mela sambil memelas.

“ Mel, kamu tuh kekasihku. Kesetiaan yang kupunya hanya untukmu, kenapa cintamu kau bagi dengan yang lain. Kamu tahu siapa dia. Dia ayahku Mel! “. Tegas Doni.

“ Tapi aku tak seperti apa yang kau tuduhkan!. Aku menghormati dia sebagai orang tuaku, tak lebih! “ Sangkal gadis itu.

“ Omong kosong!. Dasar perempuan jalang! “. Emosi Doni makin meluap-luap.

“ Apa kau bilang! “. Mela seperti tak percaya mendengarnya.

“ Demi laut, demi dermaga, dan demi yang membuat cinta itu ada dan hancur. Najis bagiku bersanding dengan perempuan kotor! “ Ikrar Doni yang masih diselimuti emosi.

“ Tak usah kau sebut kata najis untukku. Itu terlalu menyakitkan. Baiklah, aku akan  pergi!. Aku menyesal pernah mengenalmu “. Ucap Mela sambil berlalu.

Doni yang ditinggalkan gadis itu tertawa terbahak-bahak. Rasa puas seakan menapak dihatinya.

“Wanita jalang itu telah pergi! “ ucapnya keras-keras sambil tertawa. Sebuah botol minuman keras sudah disiapkan dalam tasnya. Dia berpikir dengan mabuk semuanya akan terlupakan.

Waktu telah menunjukan pukul sepuluh malam. Tapi hatinya tak menuntunya untuk pulang, karena di dalam rumahnya ada seorang musuh yang telah menghancurkan cintanya, yaitu ayahnya. Seorang ayah yang ditinggal ibunya dua tahun lalu karena kecelakaan. Sementara ia tahu kalau ayahnya sering bermain wanita, makanya ia marah ketika mellihat Mela makan dengan ayahnya.

Surya menyapa dari ujung samudera, sementara hembusan angin pantai yang menusuk kulit seakan cemburu melihat pancar eloknya yang membias begitu indah. Kehangatan sinarnya membuatkku terjaga. Perlahan kusapu rambutku yang dipenuhi oleh pasir. Kuraih tasku lalu ku starter motor yang setia menemaniku dalam setiap suasana.

Sepanjang kulintasi jalan menuju rumahku. Kurasakan keraguan begitu mendalam. Rasanya aku seperti bertemu dengan musuh besar yang menghancurkan mimpi-mimpiku. Rumah yang telah mengukir cerita suka dan duka bertahun lamanya.

Dengan berat hati, kuraih gagang pintu depan rumahku. Di atas sofa kulihat ayah sedang menikmati secangkir kopi dengan ditemani siaran berita pagi di televisi. Tanpa ku ucap salam seperti biasa, aku melangkahkan kaki menuju kamarku. Terdengar ayah memanggil namaku.

“ Don!, sebentar papah mau bicara ! “. Panggil laki-laki tua itu.

“ Ada apa pah!, aku masih ngantuk mau tidur! “ Jawab Doni yang sama sekali memandang ke arah ayahnya.

“ Kemarin aku sudah bertemu Mela. Aku sudah tanya, kalau dia benar-benar serius. Akhir bulan ini papah berjanji akan melamarkan untukmu “. Ucap ayahnya.

“ Hah! Jadi papah sudah menanyakan “. Jawab Doni yang sekan tidak percaya, sambil bergegas menuju kamarnya. Langsung saja ia membuka ponselnya dan mencari kontak bernama Cintaku, lalu ia berusaha melakukan panggilan. Di ujung telepon tak ada jawaban, walaupun nomor itu aktif. Tiba-tiba sebuah pesan singkat datang di layar kecil itu. Doni buru-buru membuka, ternyata dari Mela.

 “Aku kecewa denganmu. Tidakkah luka yang kau ukir di hati ini terlalu dalam. Aku bukan binatang seperti apa yang kau bilang. Jangan sekali pun kau tampakan muka di hadapanku “

Mela pergi meninggalkanku dengan luka dalam karenaku. Akupun terluka oleh sikapku. Mimpi-mimpi indah yang kudamba darinya telah pergi. Jika maafnya adalah kematian, detik ini juga akan kulepas nyawakku dengan senyuman. Jika cintamu adalah pedang, biarlah jantung dan hati ini rela dihujam.

Prasangka keji yang kutuduhkan padanya benar-benar membuat hatinya hancur berkeping-keping. Kini aku hanya bisa meratapi kepergianya. Aku benar-benar terluka karena prasangka.

***

Tags: ,
Categorised in:

1 Komentar for “Luka, Prasangka”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *