ispi
Menu Click to open Menus
Home » Karya » Artikel » Mengembalikan Fitrah Guru sebagai Manusia Bermartabat melalui Tulisan

Mengembalikan Fitrah Guru sebagai Manusia Bermartabat melalui Tulisan

(51 Views) Oktober 26, 2017 9:04 am | Published by

Oleh Yeti Islamawati
Guru MTs. Negeri 9 Bantul, Yogyakarya dan Anggota Agumapi
Fitrah menurut KBBI berarti sifat asal; kesucian; bakat pembawaan. Martabat pada hakikatnya adalah tingkat harkat kemanusiaan; harga diri.  Sudah menjadi fitrahnya bahwa keberadaan guru menjadi figur keteladan bagi peserta didiknya. Maka, alangkah berat amanah yang ditanggung oleh seorang guru.

Martabat seorang guru dikaitkan dengan hasil buah pikir guru berupa karya tulis. Hal tersebut sebagaimana disampaikan oleh Sudaryanto (2016) dalam bukunya Cerdas Menulis Karya Ilmiah bahwa guru dan dosen pada hematnya adalah kelompok, yang karena profesinya sebagai pendidik, paling layak dan sangat perlu menjadi teladan. Sementara itu memiliki karya tulis ilmiah merupakan salah satu wujud dari pemberian empati dan menjadi teladan. Karya tulis tersebut sekaligus merupakan penampakan kadar martabat yang dimilikinya. Melalui karyanya, akan dapat diketahui betapa kaya-nya pikiran sang dosen dan guru sebagai penulisnya. Oleh karenanya, memiliki martabat merupakan hal mutlak yang harus dimiliki.

Dewasa ini kegiatan literasi sedang gencar-gencarnya didengungkan. Pada kedudukannya sebagai figur teladan itulah, maka peran guru menjadi ujung tombak dalam gerakan literasi terutama yang berkaitan dengan membaca dan menulis. Keduanya ibarat dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisah-pisahkan, sama-sama penting. Untuk menjadi seorang penulis yang baik, maka dirinya harus pula menjadi pembaca yang baik.

Kegiatan “membaca” tidak hanya dalam artian membaca deretan huruf yang membentuk kata untuk selanjutnya terangkai menjadi sebuah wacana utuh. Namun, termasuk juga membaca fenomena, memahami tanda-tanda kehidupan, berikut permasalahan yang ada di dalamnya. Sebagai pembaca diperlukan kepekaan hati. Menangkap permasalahan untuk kemudian dicarikan alternatif solusi.

Tak pelak lagi, guru harus memberi contoh kepada peserta didiknya untuk menghasilkan sebuah tulisan. Guru harus memahami peran penting ini. Guru memiliki posisi yang strategis karena dalam kesehariannya berinteraksi langsung dengan peserta didik. Singkatnya, bagaimana akan menggerakkan peserta didiknya melek literasi sementara dirinya tidak memulai untuk melakukan baca tulis? Padahal sebagaimana kita ketahui tingginya tingkat literasi berbanding lurus dengan kemajuan suatu bangsa.

Sekali lagi, guru adalah teladan. Figur yang ada nyata di depan peserta didik. Dengan melihat guru menulis, harapannya peserta didik akan terdorong mengikuti jejak kiprahnya. Namun kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa belum semua guru menjadikan budaya menulis sebagai tradisi. Untuk itu diperlukan terobosan suatu terobosan.

Maka, yang harus dilakukan adalah mengubah mindset guru tentang alasan menulis. Hendaklah guru menulis tidak sekedar untuk syarat kenaikan pangkat atau tuntutan admistrasi. Namun, dorongan menulis muncul dari kesadaran diri guru untuk memberikan contoh terbaik kepada peserta didiknya.

Ada beberapa alasan kenapa guru harus menulis. Pertama, menulis merupakan sarana untuk menuangkan idea tau gagasan. Sehebat apapun ide atau gagasan jika tidak disampaikan kepada orang lain, hanyalah tetap menjadi sebuah ide saja. Kedua, menulis merupakan sarana untuk ekspresi diri sehingga melalui tulisan seseorang dapat menunjukkan keberadaannya. Ketiga, menulis sebagai terapi bagi jiwa sekaligus hiburan. Keempat, manusia tidak akan selamanya hidup dan dapat menemui generasi yang hidup jauh di kemudian hari. Oleh karena itu tulisan yang akan mewakili keberadaan kita. Usia tulisan lebih panjang dari usia manusia.

Dengan demikian, tidak ada lagi alasan bagi guru untuk tidak menulis. Menulislah untuk mengembalikan martabat kita sebagai guru, yang layak digugu dan ditiru.

Tags:
Categorised in: ,

No comment for Mengembalikan Fitrah Guru sebagai Manusia Bermartabat melalui Tulisan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *