,
Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » Karya » Artikel » Mengenal Program Literasi di MTs Al-Mukhtariyah Rajamandala Kab. Bandung Barat

Mengenal Program Literasi di MTs Al-Mukhtariyah Rajamandala Kab. Bandung Barat

(772 Views) Juli 11, 2017 7:01 am | Published by

Oleh: Ruba Nurzaman, S.Pd.
Guru MTs Al-Mukhtariyah Rajamandala, Fasilitator MBS USAID Prioritas, dan Pengurus Pusat Agumapi

Guru dan siswa MTs Al-Mukhtari membaca bersama di halaman Madrasah. (doc: Nurzaman)

Hari gini malas membaca? Bukan jamannya lagi. Ingat peringkat capaian pendidikan Indonesia yang dirilis oleh Programme for International Student Assessment (PISA) tahun lalu masih menempatkan Indonesia di papan bawah. Salah satu penyebabnya adalah rendahnya minat baca anak-anak kita yang diturunkan dari gurunya. Apakah rendahnya minat baca siswa dan guru di Indonesia karena menganggap bahwa membaca hanya membuang waktu saja dan kurang bermanfaat? Wallahu a’lam.

Ada beberapa manfaat yang bisa kita dapatkan dari hasil membaca. Kita bisa mendapatkan informasi dan pengetahuan. Misalnya membaca koran atau majalah. Membaca juga kita bisa mendapatkan hiburan seperti halnya apabila kita membaca Cerpen, novel. Dengan membaca mampu memenuhi tuntutan intelektual, meningkatkan minat terhadap suatu bidang, dan mampu meningkatkan konsentrasi.

Menurut Lerner (1988:349) kemampuan membaca merupakan dasar untuk menguasai berbagai bidang studi. Jika anak pada usia Madrasah permulaan tidak segera memiliki kemampuan membaca, maka ia akan mengalami banyak kesulitan dalam mempelajari berbagai bidang studi pada kelas-kelas berikutnya.

National Institute for Literacy, mendefinisikan literasi sebagai “Kemampuan individu untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat.” Definisi ini memaknai Literasi dari perspektif yang lebih kontekstual. Dari definisi ini terkandung makna bahwa definisi Literasi tergantung pada keterampilan yang dibutuhkan dalam lingkungan tertentu.

Merujuk pada hasil survei United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) pada 2011, indeks tingkat membaca masyarakat Indonesia hanya 0,001 persen. Artinya, hanya ada satu orang dari 1000 penduduk yang masih ‘mau’ membaca buku secara serius (tinggi). Kondisi ini menempatkan Indonesia pada posisi 124 dari 187 negara dalam penilaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Sumber (http://www.republika.co.id/).

Melihat begitu rendahnya minat membaca masyarakat Indonesia tentu ini akan berdampak pada rendahnya kualitas sumberdaya manusia Indonesia yang tahun ini akan menghadapi Mayarakat Ekonomi Asean (MEA) sehingga masyarakat Indonesia akan sangat sulit untuk bisa bersaing dengan masyarakat dari negara lain di Asean.

Untuk meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia biasa kita mulai dari Madrasah, yang mana Madrasah itu merupakan tempat/lembaga yang dirancang untuk melaksanakan proses pembelajaran yang dilakukan oleh siswa yang tentunya kegiatan itu tidak terlepas dari aktifitas membaca. Maka dari sinilah pentingnya mengembangkan budaya membaca di Madrasah.

Permendikbud nomor 23 tahun 2015 tentang penumbuhan budi pekerti melalui pembiasaan membaca buku non-pelajaran selama 15 menit setiap hari sebelum pembelajaran dimulai merupakan payung bagi keberlangsungan Gerakan Literasi Sekolah yang dirintis oleh Satria Darma untuk dijadikan sebuah program nasional. Beliau berharap aktifitas membaca kedepannya bisa menjadi budaya bangsa Indonesia.

Satria Darma (2015: 190) mengatakan bahwa buku adalah gudang pengetahuan untuk membangun peradaban. Jadi, membaca buku adalah kunci untuk membuka gerbang pengetahuan dalam membangun peradaban. Memilki kemampuan literasi adalah instrumen bagi warga unntuk berproses menjadi sebuah bangsa yang berpengetahuan dan peradaban.

Ada beberapa sumber permasalahan yang mengakibatkan kemampuan literasi siswa-siswi di Indonesia termasuk dalam kategori rendah. Permasalahan itu diantaranya:

Rendahnya Minat Baca Guru

Tidak bisa dipungkiri, bahwa guru ikut andil dalam rendahnya minat baca dan kemampuan literasi siswa. Guru merupakan sosok yang seharusnya bisa menjadi teladan bagi siswanya salah satunya dalam hal minat membaca. Namun kondisi guru saat ini memang harus diakui bahwa minat baca guru sendiri masih sangat rendah. Ini terlihat setelah saya beberapa kali memfasilitasi pelatihan bagi guru dan kepala Madrasah baik itu Manajemen Madrasah ataupun implementasi minat baca  di Bandung Barat yang rata-rata diikuti oleh 200 orang guru/kepala sekolah  setiap kami bertanya “adakah diantara peserta yang pada satu bulan terakhir membaca 1 buah buku sampai tuntas?. Dan dari sejumlah peserta yang ada selalu tidak lebih dari 3 orang guru dan kepala Madrasah yang membaca buku dalam 1 bulan, dan tentunya ini merupakan suatu kondisi yang sangat memprihatinkan. Gurunya saja tidak membaca, apalagi siswanya?.

Sulitnya Akses Buku yang Menarik Minat Baca Siswa

Patut kita akui bersama bahwa akses siswa akan buku bacaan yang menarik dan berkualitas masih sangat sulit disebagian besar Madrasah yang ada di Indonesia. Hal ini diakibatkan pemahaman guru dan kepala Madrasah akan pentingnya membaca masih sangat rendah, sehingga tidak ada upaya dari pihak Madrasah untuk mempermudah siswa dalam mengakses buku bacan yang menarik dan berkualitas.

Kondisi Perpustakaan yang Kurang Memadai

Ruba Nurzaman

Hidup segan mati tak mau. Barangkali kalimat itu, menjadi kalimat yang paling pas untuk menggambarkan kondisi Perpustakaan Madrasah saat ini. Hidup segan, matipun enggan, mengingat beratnya melawan arus ketidakpopuleran aktivitas mereka sendiri, mengajak siswa gemar membaca buku! Dihadapkan pada siswa yang tengah riuh dengan pesta, dan cinta. Seolah-olah sungguh sayang jika harus melipat keakraban canda, kehangatan cinta, keindahan alam dan kesemrawutan jalan raya kedalam huruf yang berjejal-jejal di atas kertas: buku.

Banyak ditemukan perpustakaan Madrasah layaknya gudang buku karena kurangnya perawatan terhadap perpustakaan, display buku yang tidak menarik minat siswa untuk datang ke perpustakaan dan membaca, suasana ruang untuk membaca yang tidak tertata dengan rapi, serta tidak adanya layanan perpustakaan selain membaca dan meminjam buku, serta layanan perpustakaan yang belum bisa mengikuti perkembangan teknologi saat ini mengakibatkan siswa enggan untuk berkunjung dan membaca di perpustakaan.

Ketersediaan Buku Bacaan

Minimnya buku bacaan memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan dengan rendahnya minat baca siswa. Ketika koleksi buku bacaan di perpustakaan didominasi oleh buku pelajaran dan hanya sedikit buku bacaan akan mengakibatkan siswa merasa bosan, karena tidak ada lagi yang bisa dibaca dan ini mengakibatkan siswa menjadi malas untuk membaca.

Rendahnya Kemampuan Guru dalam Menerapkan Pembelajaran Berbasis Literasi

Berdasarkan hasil penelitian Rochintaniawati (2008: 6) pada kabupaten Bandung Barat, sebanyak 66% guru kelas di SD masih menerapkan metode ceramah dalam melakukan pembelajaran IPA, 22% menerapkan diskusi kelompok, 6% eksperimen, dan 6% ekspositori. Sedangkan guru yang menerapkan pendekatan secara individual sebanyak 67% dan dengan berkelompok sebanyak 33%. Pembelajaran IPA kurang memberdayakan atau kurang memberi kesempatan kepada siswa untuk aktif melakukan kegiatan yang dapat mengembangkan kemampuan berpikir dan kurang mengembangkan keterampilan proses IPA. Pembelajaran dilakukan secara klasikal, kurang mengembangkan kerjasama siswa.

Melihat berbagai permasalahan yang kita temui dallam literasi khususnya gerakan literasi Sekolah, maka hal ini memerlukan solusi yang efektif agar terciptanya generasi muda yang melek literasi.

Gerakan Literasi Madrasah merupakan suatu usaha atau kegiatan yang bersifat partisipatif dengan melibatkan warga Madrasah (peserta didik, guru, kepala Madrasah, tenaga kependidikan, pengawas Madrasah, Komite Madrasah, orang tua/wali murid peserta didik), akademisi, penerbit, media massa, masyarakat (tokoh masyarakat yang dapat merepresentasikan keteladanan, dunia usaha, dll.), dan pemangku kepentingan di bawah koordinasi Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI.

Berikut beberapa kegiatan yang dilakukan di MTs Al-Mukhtariyah Rajamandala dalam mengembangkan literasi di madrasah. Ada beberapa hal yang kamilakukan untuk mengatasi beberapa permasalahan diatas, diantaranya:

Keteladanan

Keteladanan merupakan sebuah perilaku seseorang yang bisa dijadikan sebagai contoh yang baik sehingga tindakan atau perilakunya itu diikuti oleh orang lain.

Untuk mewujudkan hal ini harus diawali dari Kepala Madrasah, Guru dan Staff administrasi mau membaca disela-sela melaksanakan tugasnya diMadrasah sehingga bisa terlihat oleh siswa untuk  menjadi teladan dan yang paling penting pada saat kegiatan membaca rutin bersama dengan siswa setiap pagi sebelum pembelajaran dimulai.

Sediakan Waktu Khusus Membaca Rutin

Ini bisa dilakukan dengan menyediakan waktu khusus 15 menit sebelum jam pelajaran dimulai sesuai dengan permendikbud no 23 tahun 2015 tentang budi pekerti. Khusus untuk membaca rutin ini di Madrasah kami menyediakan waktu selama 45 menit karena sebelumnya diawali dengan membaca Al-Qur’an terlebih dahulu  bahkan untuk hari kamis dan sabtu waktunya lebih lama ditambah dengan tausiah oleh siswa dan atau membacakan cerpen hasil karya siswa.  Yang perlu diperhatikan dalam kegiatan ini tentunya keteladanan Kepala Madrasah, guru dan staff administrasi untuk ikut melakukannya bersama dengan siswa.

Libatkan Orangtua Siswa

Alangkah baiknya sebelum pelaksanaan program ini sosialisasikan terlebih dahulu terhadap orang tua siswa agar mereka memahami dan ikut mendukung program ini dan ikut terlibat  mendampingi anaknya dirumah untuk membaca. Dalam pelibataan orang tua siswa ini bisa dengan menyiapkan reading diary dimana setiap siswa sudah membaca dirumahnya menuliskan kembali apa yang sudah dibacanya dan di tanda tangani oleh orang tua.

Menata dan Tingkatkan Pelayanan Perpustakaan

Buatlah perpustakaan menjadi tempat yang nyaman dan menyenangkan agar siswa betah diperpustakaan, pajang  buku di tempat yang mudah terjangkau oleh siswa, buatlah kegiatan yang menantang dan menyenangkan bagi siswa di perpustakaan, permudah akses siswa ke perpustakaan dengan membuat perpustakaan berbasis IT kita bisa menggunakan program senayan, berikan reward kepada siswa yang paling sering berkunjung dan membaca di perpustakaan, jangan lupa minta tagihan resensi buku dari yang sudah dipinjam oleh siswa.

Menata perpustakaan dimulai dari merubah display buku agar lebih menarik, pengecatan ruang perpustakaan yang menarik kalau bisa gunakan wallpaper, mengecat rak buku dan meja untuk membaca dengan warna yang menarik, karpet yang tebal, pasang AC, sediakan beberapa komputer untuk akses internet agar siswa bisa mengakses informasi lebih luas. Semua ini sangat perlu dilakukan agar siswa merasa nyaman ketika berada di perpustkaan dan alangkah hebatnya kalau Madrasah bisa merubah perpustakaan menjadi  ruangan yang paling mewah di Madrasah. Hal ini sangat bisa dilakukan apabila Madrasah mau menjalankan UU No. 43 tahun 2007 tentang perpustakaan khususnya Pasal 23 ayat 6 menyatakan bahwa Madrasah/madrasah mengalokasikan dana paling sedikit 5% dari anggaran belanja operasional Madrasah/madrasah atau belanja barang di luar belanja pegawai dan belanja modal untuk pengembangan perpustakaan.

Kita bisa memanfaatkan layanan perpustakaan untuk untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran, berikan layanan untuk menambah keterampilan siswa misalnya dengan pelatihan membuat kerajinan tangan, belajar musik dan yang lainnya. Sesekali ajaklah siswa nonton film di bersama di perpustkaan, setelah itu kita ajak mereka untuk berdiskusi mengenai tayangan film agar siswa bisa mengambil seuatu yang bermakna mengambil hikmah apa yang patut ditiru dan tidak layak untuk ditiru, atau sekedar menuliskan kembali alur cerita dari film yang sudah diamati bersama.

Menata Lingkungan Madrasah dan Kelas

Manfaatkan ruang kosong atau taman Madrasah untuk dijadikan tempat menyimpan buku dan  membaca yang nyaman bagi siswa, sediakan sudut baca ditiap kelas, manfaatkan mading kelas dan mading Madrasah untuk dijadikan sarana pembelajaran dan membaca siswa, manfaatkan produk pembelajaran siswa ditempel di dinding kelas agar mudah dibaca oleh siswa, bahkan dibeberapa Madrasah sudah mulai membuat gerobak baca dan kafe baca.

Pastikan Ketersediaan Buku Bacaan

Agar tidak membosankan pastikan buku-buku bacaan di perpustakaan selalu update dengan membeli buku bacaan baru dengan menggunakan dana BOS ataupun sumbangan dari siswa, Komite Madrasah ataupun alumni, bisa juga dengan melakukan pertukaran buku dengan perpustakaan Madrasah yang lain dan bekerjasama dengan perpustakaan daerah.

Bentuk Klub Membaca

Untuk memfasilitasi siswa yang gemar membaca dan menulis alangkah baiknya kita menyediakan ruang berkumpul bagi mereka agar bisa saling memotivasi dan berbagi. Biasakan mereka untuk mendiskusikan isi dari buku yang sudah dibaca, membuat tulisan bersama dan menerbitkan hasil tulisan siswa berupa Majalah ataupun buku kumpulan tulisan siswa.

Melatih Keterampilan Guru dalam Pembelajaran Berbasis Literasi

Latihlah guru agar mampu mengembangakn pembelajaran berbasis literasi misalnya untuk mata pelajaran Bahasa dan kelompok mata pelajaran ilmu sosial agar mengembangkan pembelajaran untuk meningkatkan  Keterampilan informasi siswa, meliputi: 1) Keterampilan yang terkait dengan upaya memperoleh atau mengakses informasi yaitu keterampilan membaca, keterampilan belajar, keterampilan mencari informasi, dan keterampilan dalam menggunakan alat-alat teknologi. 2) Keterampilan dalam mengolah informasi,baik dari satu sumber maupun berbagai sumber. 3) Keterampilan dalam mengorganisasi atau merangkai informasi. 4) Keterampilan menggunakan informasi (keterampilan intelektual dan keterampilan membuat keputusan). Keterampilan informasi ini amat berkait dengan keterampilan sosial, yang meliputi keterampilan diri, keterampilan bekerja sama, dan berpartisipasi dalam masyarakat.

Buatlah Kompetisi dan Berikan Reward

Dengan adanya kompetisi membaca atau menulis ini akan mendorong siswa untuk mau membaca. Misalnya setiap sebulan sekali diumumkan siswa yang paling banyak membaca buku dibuktikan dengan resensi buku yang sudah dibacanya. Siswa yang paling banyak membaca buku diberikan penghargaan dari Madrasah berupa PIN, sertifikat dan beri hadiah buku bacaan yang diinginkannya serta jadikan siswa tersebut untuk menjadi duta baca di Madrasah yang akan bertugas untuk berkemapanye dan mengajak teman-temannya untuk membaca.

Untuk kompetisi menulis bisa dengan lomba membuat cerpen berikan penghargaan sama seperti kompetisi membaca serta dijadikan duta tulis Madrasah. Untuk lomba menulis cerpen ini bisa diberikan penghargaan lainnya misalkan dengan dibacakan cerpennya di depan seluruh siswa yang lain pada saat setelah dilakukan membaca rutin bersama sebelum pembelajaran juga hasil karya siswa tersebut di terbitkan dengan demikian siswa merasa dihargai dan termotivasi.

 Tantangan Membaca

Untuk tantangan membaca Madrasah-Madrasah di Jawa Barat termasuk didalamnya Kabupaten Bandung Barat telah dan sedang mengikuti program West Java Leader’s Reading Challange (WJLRC). Program ini merupakan tantangan membaca untuk para guru dan siswa di Madrasah dari para pemimpin. Leader (pemimpin) yang dimaksud dalam program ini adalah para pemimpin pemerintahan tertinggi dalam suatu wilayah. Bisa Kepala Madrasah, Lurah, Camat, Bupati, Walikota, Gubernur hingga Presiden. Dalam kegiatan pendidikan budaya literasi siswa Jabar tahun 2016 yang menjadi penantangnya adalah Gubernur dan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat yang bekerja sama dengan South Australia Departement for Education and Children Development.

Peserta Peserta yang berhasil mengeksplorasi minimal 24 buku dalam 10 bulan, berhak atas medali dan sertifikat Pionir WJLRC 2016 – 2017. Setiap guru pembimbing /perintis berhak atas sertifikat 84 (delapan puluh empat) jam Pelatihan dan Penerapan Pendidikan Literasi, yang ditandatangani Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, jika berhasil membimbing minimal 80% peserta WJLRC.

Gerakan ini memiliki beberapa ciri khas, yaitu: 1) adanya kegiatan Readhaton atau kegiatan membaca masal selama 42 menit diikuti dengan menulis reviu. 2) Menulis Reviu buku dengan menggunakan teknik ishikawa fish bone yaitu siswa menulis reviu berupa paparan tiga paragraf yang memuat alasan memilih buku tersebut, ringkasan isi buku, serta amanat/pesan moral yang siswa dapatkan setelah membaca buku, dan 3) Adanya Pohon Geulis (Gerakan untuk Literasi Madrasah) Pohon Geulis merupakan pohon yang menjulang dengan ranting yang menjulur ke berbagai arah serta daun yang tertulis identitas buku serta identitas siswa yang telah tuntas membaca buku tersebut.

Biasanya daun pohon tersebut menggunakan kertas dengan warna yang berbeda di setiap helainya. Kata Geulis sendiri merupakan kependekan dari Gerakan Literasi Madrasah. Sehingga pohon Geulis merupakan pohon yang menggambarkan berseminya kegiatan literasi di Madrasah tersebut. Dengan adanya pohon Geulis bisa terlihat seberapa banyak siswa ataupun warga Madrasah lainnya yang aktif dan menyelesaikan buku bacaannya. Pohon Geulis juga bisa menjadi motivasi bagi siswa untuk berlomba dalam menambah koleksi daunnya.

Begitu pentingnya akan  kemampuan literasi bangsa Indonesia ini khususnya siswa, maka hal ini merupakan persoalan yang harus diselesaikan oleh semua stakeholder yang ada di Madrasah maupun pemerintah mulai dari pemerintah daerah sampai pusat serta masyarakat pada umumnya. Hal ini bisa terwujud apabila semua stakeholder tersebut bersinergi untuk mencapai tujuan yang sama yaitu menuju bangsa Indonesia yang berbudaya literasi setara dengan bangsa-bangsa maju dunia.

Diperlukan keberanian dan kerja keras yang luar biasa bagi Madrasah, khususnya kepala Madrasah untuk mau mengembangkan budaya literasi diMadrasahnya. Tidak sedikit kepala Madrasah yang menganggap bahwa mengembangkan budaya baca diMadrasah mulai dari penataan perpustakaan pengadaan buku dan dan penataan lingkungan Madrasah dan kelas agar siswa merasa nyaman untuk membaca adalah hal yang kurang bermanfaat. Hal ini bisa kita lihat baru sebagian kecil Madrasah yang mulai mengembangkan budaya baca berani mengeluarkan anggaran dari BOS untuk pengadaan buku bahan bacaan (non pelajaran).

Saya berharap kedepan dimulai dari guru agar sadar akan pentingnya budaya literasi, kepala Madrasah bisa merubah paradigmanya terhadap perpustkaan bukan sekedar tempat menyimpan buku sehingga mau meningkatkan layanan perpustakaan. Dan tentunya yang paling penting beberapa solusi dari permasalahan yang ada bisa diterapkan diseluruh Madrasah di Indonesia tanpa terkecuali. Solusi yang saya sajikan mungkin baru sebagian kecil saja dan ini bisa dikolaborasikan dengan solusi dari guru yang lainnya sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh untuk membangun budaya literasi di Indonesia agar semua warga Indonesia melek dan peduli terhadap perkembangan literasi bagi bangsanya agar sejajar dengan bangsa lain di dunia yang sudah maju.

Tulisan ini merupakan revisi dari tulisan yang pernah dimuat di kompasiana.com pada 30 Januari 2016 dengan judul “kembangkan budaya baca di sekolah, siapa takut?”

1 Komentar for Mengenal Program Literasi di MTs Al-Mukhtariyah Rajamandala Kab. Bandung Barat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Enter Captcha Here : *

Reload Image