,
Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » Karya » Artikel » Menjadi Guru Paripurna

Menjadi Guru Paripurna

(686 Views) Februari 22, 2017 7:40 am | Published by

Good teachers are able to weave a complex web of connections among themselves, their subjects, and their students, so that students can learn to weave a world for themselves (The courage to teach, Parker J. Palmer)

Ungkapan bijak itu sekedar memberikan satu definisi guru yang baik, guru yang paripurna. Tentu banyak pengertian lain dari sudut pandang yang berbeda. Adalah penting bagi kita yang sudah bertekad menekuni profesi yang mulia ini yakni menjadi guru untuk melakukan evaluasi internal dalam menjalankan tugas sebagai pendidik. Seringkali, kesibukan dan rutinitas pekerjaan menjadikan evaluasi diri menjadi sedikit terabaikan.

Mengapa hal ini diperlukan? Agar kita tetap selalu mengingat fungsi utama guru sebagai pendidik bukan hanya pengajar. Mari bersama-sama bercermin diri, sejauhmana kita sudah menjalankan fungsi tersebut dengan baik dan bertanggung jawab. Seorang guru adalah seorang pendidik yaitu “orang yang memikul tanggung jawab untuk membimbing” (Ramayulis,1982).

Tugas pendidik tentu lebih luas daripada sekedar pengajar. Pengajar hanya bertugas untuk menyampaikan seluruh materi kepada peserta didik. Prestasi tertinggi yang dapat dicapai oleh seorang pengajar adalah membuat siswa menguasai materi pengajaran yang diajarkan dan memperoleh nilai tinggi setelah dievaluasi. Akan tetapi seorang guru pendidik selain bertanggung jawab menyampaikan materi pelajaran kepada para siswa juga turut serta membentuk kepribadiannya agar memiliki akhak yang mulia.

Untuk memudahkan dalam evaluasi diri ini, seorang ulama terkemuka yaitu Imam Al-Ghazali dalam bukunya yang berjudul Ihya Ulumuddin menetapkan beberapa kriteria yang harus dipenuhi oleh seorang guru untuk menjadi seorang pendidik yang baik. Pertama, memiliki sifat kasih sayang. Sifat ini amat penting untuk menumbuhkan rasa percaya diri dan rasa tenteram, nyaman pada diri siswa terhadap gurunya. Situasi nyaman dalam belajar di kelas pada gilirannya dapat membantu siswa untuk lebih cepat menguasai materi yang diajarkan karena menyukai kepribadian gurunya.

Kedua, karena mengajarkan ilmu merupakan kewajiban agama bagi setiap orang alim (berilmu), maka seorang guru tidak boleh menuntut upah atas jerih payahnya mengajarnya itu dan minta dikasihani oleh muridnya, melainkan sebaliknya ia harus berterima kasih karena telah memberi peluang kepada guru untuk dekat pada Allah SWT. Dalam konteks kekinian, kesejahteraan bagi guru sangat penting untuk pemenuhan kebutuhan keluarga, namun tidak dijadikan alasan melakukan komersialisasi pendidikan yang melanggar aturan pemerintah.

Ketiga, berfungsi juga sebagai pengarah dan penyuluh yang jujur dan benar di hadapan peserta didiknya. Dalam kehidupan sehari-hari, guru menghindarkan diri dalam persaingan tidak sehat, terlibat perselisihan dan membicarakan keburukan rekan guru lainnya. Keempat, dalam proses pembelajaran guru hendaknya menggunakan cara-cara simpatik, dan tidak menggunakan kekerasan, cacian, makian dan sebagainya.

Kelima, menjadi teladan atau panutan yang baik di hadapan seluruh siswa. Guru harus menampilkan sikap toleran, menghargai keahlian orang lain dengan tidak merendahkan disiplin ilmu yang bukan keahliannnya. Keenam, mengakui adanya keragaman potensi yang dimiliki siswa secara individual dan memperlakukannya sesuai dengan tingkat perbedaan yang dimiliki siswanya itu. Guru mengajarkan materi sesuai dengan batas kemampuan pemahaman siswanya artinya tidak memberikan pelajaran yang tidak dapat dijangkau oleh daya nalar siswanya.

Ketujuh, memahami bakat, tabiat dan kejiwaan siswa sesuai dengan tingkat perbedaan usianya. Bagi siswa yang memiliki kemampuannya kurang tidak menyampaikan materi yang rumit sekalipun guru itu menguasainya. Kedelapan, berpegang teguh kepada prinsip yang diucapkannya atau dengan kata lain harus satu kata, satu perbuatan. Hindari perilaku lain kata, lain perbuatan agar tidak kehilangan wibawa dihadapan siswa sehingga akan menyebabkan dirinya kehilangan kemampuan dalam mengatur dan mengarahkan siswa-siswanya.

Kriteria tersebut hanya sebagai parameter belaka. Menjadi guru pendidik memang tidak mudah. Namun, itulah tantangan dan tugas berat bagi guru. Kita tak boleh berhenti berikhtiar, membentuk peserta didik yang tak hanya sekedar cerdas namun juga memiliki akhlak mulia. Oleh karena itu, selain terus mendorong pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan guru, jangan lupakan kewajiban kita untuk terus mengasah kemampuan mendidik agar menjadi guru yang paripurna.
***

Tags:
Categorised in:

No comment for Menjadi Guru Paripurna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Enter Captcha Here : *

Reload Image