ispi
Menu Click to open Menus
Home » Karya » Artikel » Menjadi Pejuang Literasi Lewat Agumapi

Menjadi Pejuang Literasi Lewat Agumapi

(59 Views) November 1, 2017 2:35 am | Published by

Hadirnya era digital menuntut setiap orang melek informasi, tanpa kecuali guru. Guru merupakan pemimpin di garda terdepan dalam memajukan pendidikan di Indonesia. Derasnya arus informasi meniscayakan guru untuk membekali diri dengan berbagai kompetensi agar tidak tertinggal oleh kemajuan zaman.

Guru di era kekinian bukanlah hanya sekedar datang ke sekolah/ madrasah tanpa pernah  terlambat dan rajin mengerjakan administrasi guru. Lebih dari itu, guru seyogyanya mampu menampilkan diri sebagai sosok manusia pembelajar yang haus akan ilmu, rela out of the box dari kondisi yang membuatnya “nyaman”, serta berani berinovasi menuju kemajuan pendidikan.

Telah tiba saatnya guru menampilkan diri sebagai sosok manusia pembelajar. Mengapa? Laju perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi akan semakin pesat. Jika seorang guru ingin tetap eksis dalam percaturannya dengan dunia luar maka dia harus membekali diri dengan ilmu. Selain itu guru adalah seorang pendidik yang memiliki anak didik. Anak didik ini merupakan generasi penerus yang akan hidup di masa depan, tentunya dengan zaman yang jauh lebih maju. Sehingga mereka pun harus dididik untuk siap menghadapi zamannya. Di sinilah salah satu pentingnya menjadi guru pembelajar.

Banyak cara yang dapat ditempuh oleh guru agar selalu terkondisi dalam predikat manusia pembelajar. Salah satunya adalah bergabung dengan sebuah komunitas yang dapat memacu dan memantik semangatnya untuk selalu belajar. Belajar tentang apa saja yang bermanfaat untuk pengembangan dirinya.

Terkait dengan guru sebagai manusia pembelajar ini guru-guru madrasah menggagas ide membentuk sebuah komunitas yang dapat mewadahi seluruh aspirasi dan karya nyata mereka dalam bidang keliterasian. Adalah Agumapi sebuah asosiasi yang mewadahi guru-guru madrasah yang selama ini concern dan hobi menulis. Agumapi yang merupakan kepanjangan dari Asosiasi Guru Madrasah Penulis Indonesia ini dideklarasikan di Jakarta pada Kamis (18/5/2017). Sebagai ketua umum periode 2017-2022 adalah Siska Yuniati, S.Pd., cerpenis handal yang bertugas sebagai guru di MTsN 3 Bantul DIY.

Deni Kurniawan Asari, Ketua Panitia Deklarasi, sebagaimana dilansir oleh https://www.timesindonesia.co.id mengatakan bahwa berdirinya organisasi ini didorong oleh keinginan memberikan sumbangan tenaga dan pemikiran demi mewujudkan umat yang cerdas, berakhlak mulia, dan berkontribusi pada pembangunan bangsa dan negara.

Berbagai kegiatan pun diprogramkan oleh Agumapi. Salah satu dari kegiatan Agumapi yang rutin dilaksanakan satu minggu sekali adalah Kuliah Daring WA (WhatsApp), tepatnya hari Sabtu malam Minggu jam 19.30-21.30 WIB. Kuliah perdana digelar pada Sabtu (16/9/2017). Kuliah ini dipandu oleh seorang moderator. Teknisnya sebagai berikut: tiga puluh menit pertama narasumber menyampaikan materi.  Selanjutnya dibuka forum tanya jawab dan diskusi.

Kuliah daring WA ini sangat efektif bagi anggota Agumapi untuk sharing pengalaman dan menambah ilmu. Tema-tema yang diangkat- sebagaimana disampaikan melalui WA oleh Siska Yuniati (25/10/2017)- pun beragam, seperti: menulis puisi, cerpen, novel, resensi buku, modul, diktat, menjadi kepala sekolah berprestasi, menjadi guru berprestasi, menyunting sastra/ non sastra, mengelola penerbitan buku, mengelola media online, mengelola media massa cetak, citizen reporter, citizen journalism, self publishing, belajar menulis ensiklopedia menggunakan Wikipedia, belajar menulis menggunakan Wikibook, serta tema-tema lain yang terkait dengan dunia literasi.

Sebagai narasumber dalam Kuliah Daring WA ini adalah para praktisi di bidang kepenulisan baik dari luar Agumapi- seperti Wiwien Wintarto- maupun dari dalam Agumapi (baca: anggota) yang memiliki keahlian tertentu.

Agumapi telah memberikan pencerahan kepada guru-guru madrasah, khususnya, dan menambah khazanah karya literasi kepada dunia di luar madrasah, pada umumnya. Adanya Agumapi pun seolah menepis anggapan bahwa menulis itu tidak gampang. Terbukti bahwa sejak berdirinya hingga saat tulisan ini dibuat, telah banyak tulisan karya guru madrasah, mulai dari yang tayang di web, media online, media cetak, maupun karya berupa buku.

Semangat literasi memang harus selalu dinyalakan demi kemajuan pendidikan di Indonesia. Menjadi pejuang literasi menjadi suatu keniscayaan bagi guru yang menghendaki lahirnya generasi yang dapat menggenggam dunia dengan tangannya. Generasi yang tidak hanya konsumtif tetapi juga produktif dalam berkarya. Kata Imam Al Ghazali: “Kalau kamu bukan anak raja dan kamu bukan anak seorang ulama besar maka jadilah penulis”.

Bergabung dengan sebuah komunitas literasi ataupun asosiasi kepenulisan menjadi suatu keniscayaan agar semangat yang telah ada tak padam oleh hembusan angin kelesuan. Karena tidak menutup kemungkinan bahwa padatnya aktivitas dapat meredupkan semangat literasi yang telah menyala. Dan jika hal ini terjadi maka hadirnya suntikan motivasi menjadi suatu keniscayaan. Mari wujudkan Guru Pembelajar, menjadi Pejuang Literasi lewat Agumapi.

***

1 Komentar for Menjadi Pejuang Literasi Lewat Agumapi

  • Mujtahid berkata:

    Mantap. Kadang sebait kata bisa memberi berjuta makna bagi pembaca dibanding iming-iming uang. Lewat kata yang kita baca bisa mengubah jalan hidup dan prinsip. Para pejuang. Lanjutkan!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *