,
Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » Karya » Penerapan 4-K dalam Pembelajaran

Penerapan 4-K dalam Pembelajaran

(288 Views) Maret 1, 2018 3:01 am | Published by

Oleh Momon Sudarma, S.Pd., M.Si.
Guru MAN 2 Kota Bandung

Momon Sudarma (tengah)

Sosialisasi dan adaptasi gagasan, terus menerus dilakukan, dan di kembangkan di dunia pendidikan Indonesia. Termasuk di dalamnya, yaitu di lingkungan pendidikan madrasah, yang ada di bawah binaan Kementerian Agama Republik Indonesia. Salah satu, pengalaman baru, terkait dengan sosialisasi dan adaptasi  gagasan itu, dilaksanakan pada 24 Februari 2018, di MAN 2 Kota Bandung,  yang bermaksud untuk meningkatkan profesionalisme tenaga pendidik, dengan mengenali dan menerapkan model pembelajaran terbaru, di dunia pendidikan Indonesia.

“Sudah pernah mendengar RPP Abad 21? ”Tanya instruktur kepada selururuh peserta Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan di MAN 2 Kota Bandung. Sontak saja, banyak diantara peserta yang hadir, berujar “sudah”, dan ada diantara sebagian yang lainnya, hanya tersenyum kecil, seolah menggambarkan ketidaktahuannya mengenai arah dari pertanyaan sang instruktur. Model 4-K, merupakan salah satu gagasan baru dalam konteks Kurikulum 2013. Sosialisasi dan penguatan kemampuan guru dalam mengembangkan layanan pendidikan berbasis 4-K, terus dilakukan, dengan harapan dapat mendorong dan mendongkrak kualitas peserta didik di Indonesia. Untuk sekedar membantu, dan sekaligus berbagia pemahaman mengenai model 4-K dalam pembelajaran, di sini, akan dicoba untuk menampikan kajian sederhana, mengenai hal itu. Penulis ajukan di sini, dengan harapan, sedikit membantu, kepada rekan seprofesi, mengenai 4-C dalam konteks pembelajaran di Indonesia, dan juga memberikan sisi penafsiran dari pribadi penulis terkait hal tersebut.

Latar Belakang Pemikiran

Saat memberikan sebuah pengantar, untuk kajian mengenai pendidikan abad , XXI, Cynthia Luna Scott (2015) menegaskan, bahwa memikirkan ulang mengenai pendidikan menjadi sesuatu yang sangat krusial untuk dilakukan, seiring dengan tantangan zaman dan kebutuhan akan kompetensi baru bagi peserta didik kita.2  Pernyataan ini, diungkapkan dengan tegas dan yakin, seiring dengan hasil amatannya terhadap perkembangan zaman yang kita hadapi sekarang ini. Anak muda sekarang, atau kemudian juga yang dikenal dengan generasi milenial, bukan saja dihadapkan pada tantangan global, tetapi juga kehidupan  yang kompleks. Artinya, masalah anak muda sekarang ini, tidak sekedar dalam skala yang lebih luas dibandingkan kehidupan masa lalu, tetapi kualitas masalahnya lebih kompleks.  Jika di masa lalu, orangtua kita, bisa jadi, hanya dihadapkan pada persaingan mencari lapangan kerja dengan teman sekampung, sepropinsi atau sekedar satu Negara. Untuk saat ini, generasi milenial akan bersaing mendapatkan lapangan kerja dengan orang-orang asing. Itulah yang disebut dengan tantangan global. Selain itu, masalah ekonomi yang kita hadapi ini, tidak melulu murni masalah ekonomi, kadang bisa berhimpit dengan masalah sosial, budaya, politik dan bahkan juga agama. Di situlah, sisi kompleksnya, masalah yang dihadapi oleh generasi milenial. Selain persoalan itu, kita pun, melihat ada beberapa kondisi, yang menuntut adanya perbaikan atau penguatan kualitas layanan pendidikan di Indonesia.

Pertama, meminjam pandangan dan penilaian dari PISA (Program for international students assessment), kualitas pendidikan di negeri kita, belum membanggakan. Bahkan, dalam lima tahun terakhir, masih berada pada kelompok papan bawah. Kendati kita memiliki ada perbedaan instrument atau indicator yang digunakan oleh PISA tersebut, namun, gambaran tersebut, setidaknya memberikan potret awal mengenai pentingnya peningkatan dan penguatan kualitas layanan pendidikan kita.

Kedua, kebutuhan kontekstual bangsa Indonesia, untuk menyiapkan sumberdaya manusia yang mampu berinteraksi global. Anak muda Indonesia, tidak hanya disiapkan untuk kehidupan di desa atau kotanya, melainkan untuk bisa berinteraksi dengan kehidupan global dan kompleks seperti sekarang ini. Tantangan dan kebutuhan ini, sudah tentuk tidak bisa dipenuhi, oleh system dan budaya pendidikan yang konvensional, atau memberikan kumpulan informasi semata. Proses pembelajaran yang dibutuhkan saat ini, adalah membangun karakter peserta didik, yang bisa beradaptasi dan gigih dalam menghadapi tantangan hidup modern.

Ketiga, teknologi informasi dan komunikasi, menjadi ciri penting dan pembeda dengan kehidupan manusia pada millennium sebelumnya. Kendati bukan satu-satunya, tantangan kehidupan modern ini, namun kepesatan teknologi informasi dan komunikasi, hampir memasuki pada beragam sisi kehidupan manusia modern. Tidak mengherankan, imbas dari perkembangan ini, manusia modern disarati oleh ragam kegiatan berbasis elektronik, seperti e-toll, e-money, e-buy, e- budgeting, e-governance, e-learning, e-health, e-book  dan lain sebagainya. Semua itu, menggambarkan adanya perubahan tradisi tata kelakuan manusia modern dari tata kelakuan manusia pada abad sebelumnya. Manusia modern atau generasi milenial, hidup sebagai hewan dengan ragam elektronik (e-multi animal ).

Sehubungan hal itulah, pembenahan model dan layanan pendidikan di dalam kelas, menjadi sangat penting untuk dilakukan. Hal ini, setidaknya, dilandasi oleh pemikiran bahwa :

Dengan mencermati kerangka piker tersebut, dapat ditarik sebuah kesimpulan, bahwa untuk bisa mempersiapkan generasi millennial yang unggul, dibutuhkan adanya pembinana keprofesian yang berkelanjutan, mengenai admainistrasi dan budaya pembelajaran. Adapun karakter dari administrasi dan budaya pembelajarannya tersebut, diharapkan mampu menjadi sebuah titik dialogis antara kebutuhan lokal, nasional dan kebutuhan global.

Maksud dan Tujuan

Wacana ini, dimaksudkan untuk mendeskripsikan implementasi prinsip 4-K dalam praktek pembelajaran. Adapun konteks pembelajaran yang digunakan,  yaitu pembelajaran geografi, sesuai dengan mata pelajaran yang diampu penulis. Adapun tujuan khususnya, yaitu (1) mendeskripsikan mengenai karakter 4-K dalam pembelajaran, (2) mengajukan contoh kasus atau penerapan karakter 4-K dalam konteks pembelajaran. Dengan maksud dan tujuan serupa ini, diharapkan dapat membantu rekan-rekan yang lain, untuk bisa menerapkan dalam pembelajaran mata pelajarannya masing-masing.

Mengenali Konsep 4-K

Kini sudah terbiasa, mendengar istilah “4-K” dalam proses pembelajaran. Konsep Empat K tersebut merupakan terjemahan dari four Cs , yakni critical thinking and problem solving (kritis), collaborative (kolaborasi), communication (komunikasi), and creativity and innovation (kreatif). 3

Pertama, kritis (critical thinking and problem solving). Generasi millennial, tidak hanya butuh informasi. Anak muda sekarang tidak dituntut untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya. Hal mendasar yang perlu dimiliki adalah kemampuan berpikir kritis. Pada kemampuan kritis ini, seseorang bisa memahami dan menganalisis sesuatu yang tengah di pelajarinya. Keterampilan berpikir kritis, tidak hanya miliki orang jenius.

Keterampilan berpikir kritis, menjadi kebutuhan setiap peserta didik atau anak muda di zaman sekarang. Bahkan, kemampuan kritis ini diharapkan bisa dikembangkan bersandingan dengan kemampuan memecahkan masalah (problem solving). Banyak orang pintar, dan bisa menguasai ragam informasi atau pengetahuan, tetapi hanya sedikit orang yang bisa memecahkan masalah sesuatu. Kecerdasan seseorang bisa terkait kemampuannya dalam memecahkan masalah.

Terdapat banyak cara, untuk mendefinisikan berpikir kritis. Satu diantaranya, keterampilan berpikir kritis diartikan “ability to design and manage projects, solve problems, and make effective decisions using a variety of tools and resources ”.4  Dari definisi ini, setidaknya kita dapat mengatakan bahwa berpikir kritis itu (1) memiliki kemampuan merancang sebuah permasalahn, (2) menyusun desain pemecahan masalah, dan (3) berkesungguhan hati untuk bisa memecahkan masalah. Rangkaian kegiatan berpikir itu, dilakukannya secara efektif dalam mengambil keputusan terhadap sesuatu yang dihadapinya. Terdapat banyak tipe berpikir, ada yang induktif, deduktif atau dialektika. Semua itu, bisa digunakan sebagai alat untuk berpikir. Hal penting, adalah jika kita bisa memanfaatkannya secara efektif dalam memecahkan masalah yang sedang dihadapi, maka keterampilan itu sudah kita sebut sebagai berpikir kritis. Kedua, komunikasi (communication). Kita hidup tidak sendirian, dan untuk menjadi orang sukses pun, tidak bisa sendirian. Di zaman sekarang ini, untuk bisa mewujudkan cita-cita hidup, membutuhkan keterampilan komunikasi. Keterampilan komunikasi yang kita maksudkan, bisa hadir dalam ragam bentuk, baik itu komunikasi lisan, tulisan, maupun komunikasi langsung dan tidak langsung. 5

Untuk bisa mendapatkan informasi yang tepat, seseorang perlu memiliki keterampilan mendengar atau menyimak (listening). Kesalahan tindakan, bisa berakar pada kesalahpahaman atau gagal-paham, dan kesalahpahaman bersumber dari ketidakmampuan seseorang untuk menyimak, atau mendapatkan makna atau pesan yang disampaikan orang lain. Dengan hadirnya teknologi informasi dan komunikasi, informasi atau pengetahuan, tidak hanya dihadirkan di ruang kelas. Pada saat ini, sangat banyak informasi yang beredar, baik melalui media cetak maupun elektronik. Oleh karena itu, keterampilan literasi media, literasi teknologi informasi dan komunikasi, serta literasi sains menjadi hal mendasar dalam membangun kualitas diri. Tidak kalah pentingnya lagi, yaitu keterampilan berbicara. Dengan komunikasi  yang baik, atau pilihan bahasa, gaya bahasa dan keterampilan persuasi yang menarik, dapat meningkatkan efektivitas komunikasi di era global, denga masyarakat yang plural. Berdasarkan pertimbangan itulah, keterampilan komunikasi menjadi dimensi keterampilan strategi bagi generasi millennial ini. Ketiga, kolaborasi (collaboration). Sampai pada saat ini, pembenahan model pembelajaran terus dilakukan. Salah satu diantara kebutuhan generasi zaman millennial yaitu mengembangkan model pembelajaran kolaborasi. Kolaborasi, diartikan “ work in teams, learn from and contribute to the learning of others, [use] social networking skills, [and demonstrate] empathy in working with diverse others” 6

Pendekatan pembelajaran ini, berasumsikan bahwa setiap individu yang ada di sekitar kita, baik langsung ataupun tidak langsung, adalah sumber informasi dan sumberdaya pendidikan yang perlu diberdayakan. Orangtua, guru, tenaga kependidikan, peserta didik sekalipun, praktisi atau pelaku seni, termasuk ICT adalah sumberdaya belajar yang perlu diberdayakan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. 7

Selama ini, kita lebih banyak mengharapkan informasi hanya kepada guru atau buku. Padahal kedua sumberdaya belajar itu, hanya satu diantara sekian banyaknya sumberdaya belajar yang ada di lingkungan pendidikan. Oleh karena itu, melalui pendekatan kolaborasi, diharapkan sekolah/madrasah atau lembaga pendidikan pada umumnya, dapat memaksimalkan ragam sumberdaya belajar bagi penguatan kompetensi peserta didik. Dengan mengedepankan pendekatan kolaboratif ini, satu sisi, membangun karakter kemitraan dengan lingkungan, dan juga peduli pada sesame untuk bisa menjaga kebersamaan. Keterampilan kolaborasi adalah keterampilan nyata untuk membangun kebersamaan dalam keragaman, dana membangun sinergi dalam mencapai tujuan bersama. Terakhir, kreatif dan inovatif (creativity and innovation).

Seiring dengan perkembangan ekonomi baru di millennium sekarang ini, kompetensi strategis  yang perlu dikembangkan pun, adalah keterampilan berpikir kreatif dan inovatif. Layanan pendidikan, diharapkan dapat memfasilitas berkembangnya sikap kreatif dan inovatif dari peserta didik. Keterampilan berpikir kreatif dan inovatif ini, dalam taksonomi Bloom termasuk pada kategori berpikir tingkat tinggi (higher order thinking ). Anderson menyebutnya malah sebagai kategori berpikir tingkat pamuncak, yaitu mencipta (creation).

Implementasinya dalam Pembelajaran

Selanjutnya, bagaimana seorang tenaga pendidik menerapkan keempat dimensi pembelajaran itu, ke dalam konteks pelaksanaan kegiatan pembelajaran di kelas? Apakah, seorang tenaga pendidik wajib melaksanakan satu persatu dimensi pembelajaran itu, atau dilaksanakan secara bersamaan?

Pertanyaan ini, menarik, dan sekaligus juga, kerap kali muncul dalam ragam diskusi. Hampir disetiap diskusi, kita dapat mendengar pertanyaan serupa, dengan maksud untuk mengetahui teknik pelaksanaan proses belajar mengajar dengan memanfaatkan keempat dimensi pembelajaran tersebut.

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, setidaknya, perlu dikemukakan terlebih dahulu mengenai dimensi keempat karakter tersebut. Kita melihatnya, bahwa keempat karakter pembelajaran itu, memiliki dua dimensi, yaitu dimensi eksternal dan dimensi internal.

Dimensi eksternal dari karakter pembelajaran 4K, yaitu sebagai kompetensi  yang dibutukan generasi millennial dalam konteks kehidupan atau karir (life skills and carees skills). Seorang generasi millennial, dituntut untuk memiliki karakter hidup yang kolaboratif, kreatif, komunikasi efektif dan kritis. Keempat karakter itu, perlu dimiliki untuk bisa mengarungi kehidupan di zaman modern ini.

Sementara pada sisi internal, keempat karakter itu, perlu dikembangkan dalam konteks pembelajaran di dalam kelas. Artinya, seorang guru perlu merumuskan model pembelajaran yang diharapkan bisa mengembangkan karakter pembelajaran tersebut. Hanya saja, sebagai penegasannya, bahwa keempat karakter itu bukan model pembelajaran. Keempat karakter itu lebih merupakan karakter proses pembelajaran, dan bukan model pembelajarannya itu sendiri. Dengan kata lain, maka hal pokok yang harus dilakukan seorang tenaga pendidik, yaitu mencari, merumuskan dan menetapkan satu model pembelajaran, yang diharapkan bisa membantu mengembangkan keempat karakter berpikir tersebut.

Untuk sekedar contoh, model pembelajaran berbasis projek (project based learning ) dapat digunakan untuk mengembangkan karakter pembelajaran 4K. Peserta didik dalam satu kelas, dibagi menjadi 2 atau 4 kelompok, tergantung kebutuhan. Mereka diberi kesempatan untuk memilih, menetapkan dan merumuskan projek yang akan dikerjakan. Sebutnya, membuat teknologi sederhana penyulingan air limbah menjadi air bersih.

Dalam praktek kegiatan ini, (1) setiap peserta didik akan tertantang untuk melakukan kolaborasi, baik dengan guru, masyarakat, tenaga ahli, atau minimalnya dengan teman sekelompoknya, untuk mencari tahu mengenai cara membuat teknologi sederhana tersebut, (2) antar peserta didik akan melakukan komunikasi, khususnya dalam pencarian data dan informasi yang bisa mendukung proses pengerjaan tugas, (3) setiap peserta didik akan melakukan kajian intensif (berpikir kritis) dalam menjawab masalah projek tugas kelompok tersebut, dan (4) hasil dari pekerjaannya itu, dapat dikategorikan sebagai karta kreatif untuk kelompoknya sendiri.

Untuk ukuran dan konteks pembelajaran, setiap peserta didik yang terlibat aktif dalam kegiatan itu, memiliki pengalaman nyata (the real experiences) mengenai upaya pemecahan masalah terkait dengan tugas kelompoknya tersebut. Di situlah, mereka mengalami pembelajaran keempat karakter langsung. Dengan kata lain, pilihan guru menggunakan model pembelajaran berbasis projek, sudah mampu mengaktifkan keempat karakter pembelajaran dalam satu kegiatan.

Penutup: 4K saja tidak Cukup  

Jika kita melakukan penelaahan lebih lanjut, khususnya terkait dengan kompetensi dasar yang dibutuhkan generasi millennial, maka kita bisa menemukan sebuah jawaban bahwa 4K saja tidak cukup (4C is not enough). Kita bisa yakin menarik kesimpilan ini, terkait dengan adanya tantangan kehidupan kita, yang sesungguhnya lebih kompleks dibandingkan sekedar bermodalkan keempat karakter tersebut.

Seorang yang sudah menguasai pengetahuan mengenai 4K tersebut, belumlah mumpuni sebagai guru professional. Penguasaan terhadap keempat K tersebut, belumlah cukup menjadikan dirinya sebagai seorang tenaga professional. Karena hal mendasar dari seorang guru itu, adalah juga menyusun perangkat pembelajaran yang bisa mendukung pada kelancaran proses pembelajaran dengan empat karakter tersebut.

Mohon maaf, di sini, kita membicarakan masalah administrasi pembelajaran. Masalah bukan masalah mendasar dalam konteks profesionalisme tenaga pendidik. Seorang tenaga pendidik kadang mengabaikan masalah administrasi. Mereka berpandangan bahwa hal pokok itu adalah praktek di dalam kelas, dan bukan masalah administrasi. Tetapi perlu diketahui, administrasi adalah sebuah perencanaan, tanpa perencanaan baik, maka kebaikan tidak akan melahirkan kebaikan yang sempurna. Bahkan, dikatakan banyak  ahli “tanpa perencanaan  yang baik, sama dengan kita merencanakan kegagalan”.  Oleh karena itu, administrasi pembelajaran merupakan rancangan teknik yang akan dilakukan seorang tenaga pendidik, guna mencapai tujuan yang diinginkan. Berdasarkan pertimbangan itu, dengan tegas kita mengatakan bahwa menguasai 4K saja tidak cukup, karena seorang guru butuh ada kemampuan untuk menyusun atau merancang model pembelajaran yang tepat, yang teraktualkan dalam bentuk rancangan pembelajaran.

Selanjutnya, perlu juga ditegaskan di sini, bahwa khusus untuk konteks Indonesia, misalnya, generasi millennial Indonesia, selain membutuhkan keterampilan collaboration, critical thinking and problem solving, communication, and creative and innovative, juga membutuhkan kearifan dalam mensikapi keragaman (citizenship and cross culture), serta menguasai kompetensi teknologi modern (computing and digital literacy). Kedua kompetensi itu, diharapkan bisa menggenaplan keterampilan generasi millennial yang kini menjadi kebutuhan zaman.

Kendati demikian, sebagai pengantar pemikiran, diharapkan, keterampilan pembelajaran yang kita paparkan ini, diharapkan mampu menjadi perangsang (stimulasi) untuk tenaga pendidik di negeri kita, dalam meningkatkan keragaman model-model pembelajaran, dan peragaman situasi pembelajaran di dalam kelas.

****

 

1 Guru Geografi di MAN 2 Kota Bandung. Makalah ini disusun, sebagai dokumentasi pelengkap, selepas mengikuti PKB berbasis MGMP di MAN 2 Kota Bandung, tanggal 24 Februari 2018

2 Cynthia Luna Scott. THE FUTURES of LEARNING 3: What kind of pedagogies for the 21st century?  UNESCO Education Research and Foresight, Paris. [ERF Working Papers Series, No. 15]. 2015. Di unduh, 20/2/2018

3 Preparing 21st Century “Students for a Global “Society : An Educator’s Guide to the “Four Cs” , NEA (National Education Association)

4 Towards Defining 21st Century Competencies for Ontario : 21ist  century competencies,  foundation document for discussion,winter 2016. hal. 12.

5  Loc. Cit. Towards Defining 21st Century Competencies for Ontario ….. hal. 12 diartikan “ work in teams, learn from and contribute to the learning of others, [use] social networking skills, [and demonstrate] empathy in working with diverse others”

6  Loc. Cit. Towards Defining 21st Century Competencies for Ontario ….. hal. 12.

7 Loc. cit. Cynthia Luna Scott.  THE FUTURE“ of LEARNING ….hal. 12

 

Tags: , ,
Categorised in: ,

No comment for Penerapan 4-K dalam Pembelajaran

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Enter Captcha Here : *

Reload Image