ispi
Menu Click to open Menus
Home » Karya » Artikel » Pentingkah Pendidikan Karakter Bagi Siswa?

Pentingkah Pendidikan Karakter Bagi Siswa?

(83 Views) November 15, 2017 6:47 am | Published by

Oleh Agus Sukowo, S.Pd.
Guru MAN 1 Cilacap, Jawa Tengah

”Ketahuilah, sesungguhnya dalam jasad terdapat segumpal daging, apabila dia baik maka jasad tersebut akan menjadi baik, dan sebaliknya apabila dia buruk maka jasad tersebut akan menjadi buruk, Ketahuilah segumpal daging tersebut adalah “Qolbu” yaitu hati. “ (Hadis Riwayat Bukhori)

Petikan hadits di atas sengaja penulis ambil sebagai refleksi atas fenomena-fenomena yang banyak terjadi ditengah masyarakat. Madrasah/sekolah sebagai laboraturium mikro dalam bermasyarakat  menduduki posisi penting dalam membangun karakter peserta didik lewat proses pembelajaran yang berkesinambungan dalam membangun ilmu pengetahuan dan jiwa.

Perkembangan teknologi dan budaya tanpa disadari telah mengubah perilaku manusia pelan tapi pasti dalam segala aktivitasnya. Internet juga telah banyak membawa perubahan. Munculnya berbagai jenis medsos seperti facebook, twitter , instagram, WA, line, BBM dan sejenisnya telah membawa keterbukaan yang kadang melewati ambangbatas kesopanan, tata krama budaya ketimuran yang dianggapnya adi luhung yang kini mulai luntur.

Jurnalis masyarakat yang berkarakter spontan juga melanda siswa bisa berdampak terjadinya gesekan-gesakan baik secara individu maupun kelompok. Lihatlah bagaimana orang bebas berpendapat, berkomentar, menghakimi bahkan menghujat tanpa kontrol. Perilaku ini bila dibiarkan akan menjadi karakter menyimpang yang tersembunyi ujungnyaakan menjadi petaka dalam bermayarakat.Fasilitas percakapan yang langsung dan terbuka pada medsos memungkinkan gesekan-gesekan yang bisa memercikan api.

Tidak sampai disini saja perilaku sadis, vulgar dengan mudah dipertontonkan di medsos menjadi bukti bahwa pendidikan karakter dalam tanda bahaya. Belum lagi berita korupsi yang bertubi-tubi menjadi head line baik di surat kabar maupun televisi menjadikan generasi muda kehilangan panutan dan tuntunan.

Masih perlukah pendidikan karakter bagi pelajar?  Jelas diperlukan karena ciri kemajuan peradaban suatu masyarakat dalam berbangsa dan bernegara, bisa dilihat dari karakter masyarakatnya. Siswa merupakan generasi muda potensial yang kelak akan mengambil estafet kepemimpinan

Apa sih Karakter?

Tadkiroatun Musfiroh (UNY:2008) mendefinisikan karakter mengacu pada serangkaian sikap, perilaku, motivasi dan ketrampilan. Karakter berasal dari bahasa Yunani “to mark” atau menandai dan memfokuskan bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku.

Menurut Endah Sulistyowati (Implementasi Kurikulum Pendidikan Karakter:2012) pengertian secara umum merupakan pendidikan mengembangkan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa pada diri siswa, sehingga mereka memiliki dan menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan dirinya sebagai anggota masyarakat dan warga negara yang religius, produktif, dan kreatif.

Adapun nilai-nilai karakter yang dikembangkan dalam pendidikan meliputi; religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/ komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial  dan tanggung jawab.

Dari sekian banyak karakter dapat digolongkan menjadi empat karakter penting yaitu karakter religius,  kebangsaan, pengembangan diri dan sosial.

Bagaimana Menerapkannya?

Tugas seorang guru tidak hanya mentransfer ilmu pengetahuan kepada peserta didik juga dituntut mengajarkan nilai-nilai kebaikan(norma) yang kelak akan membentuk karakternya.Kendala dalam menyampaikan materi yang belum habis seringkali menjadikan guru mengabaikan pembangunan karkater spiritual, motivasi pengembangan diri dan jiwa sosial anak.

Guru sebagai motivator memiliki peranan penting mengembangkannya. Seperti beribadah,  seorang guru harus memberikanketeladanan disiplin waktu. Bila perlu setiap siswa beribadah harus melakukan presensi sebagai tanda tanggung jawabnya kepada Tuhan. Kebiasaan yang baik bila dipaksa akan menjadi terbiasa dan ringan dijalankan.

Kantin kejujuran baik yang diselenggaraka oleh sekolah/ madrasah, atau siswa dengan menjual apa yang ingin mereka jual akan melatih siswa menguji kejujurannya turatama mengambil dan membayar sendiri tanpa harus diawasi, sehingga mereka lebih takut dengan Tuhan dari pada diawasi manusia.

Nasionalisme sering dihubungkan dengan upacara bendera, kisah para pahlawan pembela bangsa. Namun menumbuhkan rasa percaya diri dan berprestasi juga akan menjadi jembatan siswa belajar cinta tanah air secara tidak langsung. Mereka akan merasa bangga bila mewakili negara mengikuti ajang kompetisi internasional. Guru dan orang tua menduduki peran penting guna mendorongnya lebih berprestasi pada level lebih tinggi.

Keniscayaan kemajuan teknologi yang tidak bisa dihindari, seperti internet dan telpon genggam, tugas orang tua dan guru adalah mengawasi dan mengontrolnya, dengan memeriksa konten secara berkala. Memberlakukan aturan mana yang boleh mana yang tidak akan membuat anak belajar tanggung jawab. Ada yang tidak kalah penting bagi guru/orang tua yaitu merke harus melek teknologi supaya fungsi kontrol berjalan dengan baik.

Jiwa sosial dan empati bisa dikembangkan melalui gerakan sosial seperti mengajak siswa melakukan kunjungan ke pantai jompo, anak yatim, gerakan bazar amal. Gerakan ini diwujudkan dengan mengikuti momen-momen khusus seperti saat puasa, Hari Kesetiakawanan Sosial, gerakan sosial atau saat dies natalis.

Masih banyak cara menumbuhkan karakter siswa. Semua bisa akan menjadi angan-angan belaka. Orang tua dan guru memiliki peranan penting terutama memberikan keteladanan. Dalam berbicara dan bersikap.

Tidak kalah penting karakter juga terbentuk dari lingkungan, mengawasi dan meberi aturan main kepada siswa mana yang boleh mana yang tidak. Rambu-rambu dalam bergaul akan membantu siswa menjadi lebih selektif dalam memilih lingkungan bermain.

Pendidikan ini tidak bisa dilihat dalam waktu sekejap, butuh waktu untuk melihat hasilnya. Karakter akan menjadi kebiasaan bila digerakan terus-menerus dan masif dengan memahami tumbuh kembangnya siswa dalam mencari jati dirinya.“Mengetahui saja tidak cukup; kita harus menerapkan. Keinginan saja tidak cukup; kita harus melakukan.” – Johann Wolfgang von Goethe.

***

No comment for Pentingkah Pendidikan Karakter Bagi Siswa?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *