,
Menu Click to open Menus
Home » Karya » Artikel » Penulis Adalah Juru Bicara Umat

Penulis Adalah Juru Bicara Umat

(414 Views) Desember 12, 2016 8:25 am | Published by

Oleh : Zaenal Abidin
Guru MAN Demak, Jawa Tengah

Zaenal Abidin

Konon ada seorang kyai yang ceramahnya sangat memukau para pengunjung. Ceramahnya sangat khas dan runtut bahasanya. Tak heran, kyai ini digemari jamaah di berbagai pelosok di daerahnya, bahkan di luar daerah.

Suatu hari para remaja di daerah itu mengadakan seminar. Panitia mengundang kyai tersebut untuk menjadi salah satu narasumber. Beberapa hari sebelumnya, mereka “sowan” ke rumahnya untuk memintanya mengisi seminar tersebut. Setelah panitia menyampaikan maksudnya, Pak Kyai mengatakan: Nak, saya kalau disuruh berceramah tidak sanggup, karena itu bukan bidang saya. Bidang saya ya ceramah. Cari orang lain saja yang mampu membuat makalah. Saya ini lulusan pondok. Tidak pernah duduk di bangku sekolah, apalagi kuliah.

Panitia tetap membujuk beliau untuk menjadi narasumber, karena menurut pertimbangan mereka, beliau bisa menyampaikan sesuatu yang cukup ilmiah, kocak dan berbobot dari segi materi walaupun hanya lulusan pesantren. Di tengah-tengah hampir keputus-asaan itu, tiba-tiba salah seorang panitia merespon komentar pak kyai itu dengan kata-kata yang tak terduga. Begini saja Pak Kyai, kami ingin mendengarkan ceramah Bapak malam ini juga. Materinya sesuai dengan tema yang akan disampaikan pada seminar nanti. Kami akan mencatat ceramah bapak untuk dibuat makalah. Bagaimana Pak Kyai? Apakah Bapak siap?  Setelah berpikir sejenak, Pak Kyai siap menerima permintaan seorang panitia itu.  Kemudian dia memberikan ceramah seperti layaknya berpidato di hadapan para pengunjung. Sementara mereka mencatat  ceramah beliau sampai akhir.

Ternyata setelah dicatat oleh panitia, materi dan bahasa yang disampaikan tidak jauh berbeda dengan makalah. Hasil cacatan itu diketik oleh panitia untuk dibuat layaknya sebuah makalah, lalu digandakan dan dibagikan kepada para peserta seminar. Seminar berjalan dengan baik dan lancar dan para peserta seminar merasa puas dengan kehadiran Pak Kyai tersebut.

Ada sebuah kisah lagi yang tidak kalah menarik. Ini sungguh cerita nyata. Sekitar 5 bulan yang lalu, di Demak  diadakan Workshop selama 3 hari tentang Penelitian Tindakan Kelas (PTK).  Seorang teman saya yang belum begitu mengenal apa itu PTK dan juga tidak gemar menulis ikut mendaftarkan diri menjadi  peserta workshop tersebut.  Sebelumnya, ia pernah bertanya kepada saya, apakah ia mampu menulis PTK sementara ia tidak memiliki bakat menulis. Saya jawab: pasti bisa, asal ada kemauan dan banyak membaca buku-buku yang relevan. Ketika peserta workshop mendapat tugas di rumah untuk membuat proposal PTK, teman saya itu membuatnya dengan sungguh-sungguh, mandiri dan tidak menduplikat karya orang lain. Kemudian hasil tugas itu dikumpulkan pada panitia untuk dinilai dan diambil 10 terbaik. Teman saya ini, yang dulunya merasa tidak mampu menulis, ternyata masuk 10 terbaik dan masing-masing mendapatkan hadiah yang menarik dari panitia. Begitu senang dan bangganya teman saya ini dan sekarang ia rajin menulis.

Dari dua kisah di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa menulis itu bukan hal yang sulit kalau kita mau memulainya. Menulis membutuhkan niat, dan kesabaran. Tanpa ada keinginan yang besar, harapan untuk bisa menulis akan berhenti ditengah jalan. Yang lebih penting lagi adalah mau membaca. Membaca adalah modal utama untuk menjadi seorang penulis. Kemudian banyak berlatih menulis, karena dengan banyak menulis kita akan menjadi terbiasa menulis.

Kita sebagai orang Muslim tentu bisa membayangkan, apa yang terjadi saat ini jika dulu Al-Quran tidak ditulis. Begitu Abu Bakar ra. menjalankan urusan Islam sesudah Rasulullah. Ia dihadapkan kepada peristiwa-peristiwa besar berkenaan dengan kemurtadan sebagian orang Arab. Karena itu ia segera menyiapkan pasukan dan mengirimkannya untuk memerangi orang-orang yang murtad itu. Peperangan Yamamah yang terjadi pada tahun 12 H melibatkan sejumlah besar sahabat yang hafal Al-Qur’an. Dalam peperangan ini banyak penghafal Al-Qur’an dari para sahabat gugur. Umar bin Khatab ra. merasa sangat kuatir melihat kenyataan ini, lalu ia menghadap Abu Bakar ra. dan mengajukan usul kepadanya agar mengumpulkan dan menulis Al-Qur’an karena dikhawatirkan akan musnah, sebab peperangan Yamamah telah banyak membunuh para penghafal Al-Qur’an.

Umar merasa khawatir juga kalau-kalau peperangan di tempat-tempat lain akan membunuh banyak penghafal Al-Qur’an pula, sehingga Al-Qur’an akan hilang dan musnah. Awalnya Abu Bakar ra. menolak usulan itu dan berkeberatan melakukan apa yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah. Tetapi Umar ra. tetap membujuknya, sehingga Allah membukakan hati Abu Bakar ra. untuk menerima usulan tersebut, kemudian Abu Bakar ra. memerintahkan Zaid bin Sabit ra, mengingat kedudukannya dalam masalah bacaan, pemahaman dan kemampuan dalam masalah penulisan. Keduanya lalu bertukar pendapat, sampai akhirnya Zaid ra. dapat menerima dengan lapang dada perintah penulisan Al-Qur’an itu.

Karena Al-Qur’an ditulis, sekarang orang-orang Islam bisa membaca pesan-pesan Tuhan itu. Walaupun memang secara teologis, keabadian Al-Qur’an itu sudah dijanjikan-Nya.

Ketika memberikan kuliah subuh kepada para remaja di masjid, ada seorang bertanya pada saya. Pak Ustadz, mengapa Imam madzhab fiqih yang dikenal di kalangan umat Islam hanya empat, yaitu Imam Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali. Apakah tidak ada Imam madzhab lain selain empat itu?

Sesungguhnya Imam mazhab fiqih itu bukan hanya empat, tetapi masih banyak lagi yang lainnya. Bahkan jumlahnya mencapai puluhan. Namun yang terkenal hingga sekarang ini memang hanya empat saja. Dan ke-empat mazhabnya telah terbukti sepanjang zaman dan tetap bertahan, sehingga usianya sudah menjangkau dari 1000 tahun.

Mengapa bisa demikian? Karena kepopuleran empat madzhab itu adalah berkaitan dengan produktivitas kepenulisan murid para Imam madzhab itu. Murid-murid Imam Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali sampai generasi berikutnya adalah orang-orang yang produktif menulis dan buku-bukunya tersebar luas ke penjuru dunia, sementara yang lain tidak demikian. Buku-buku yang ditulis oleh murid empat Imam itu sangat banyak dan lengkap dengan berbagai macam pembahasan, yang berdasarkan kaidah madzhab yang dianutnya, sehingga ketika kita menghadapi persoalan dari A sampai Z terutama yang berkaitan dengan hukum fiqih, kita tidak sulit mencari referensi dari buku-buku mereka. Ini berbeda dengan Imam madzhab yang lain. Karena kekeringan produktivitas kepenulisan para muridnya, maka pendapat para Imam tersebut yang sampai kepada kita hanya sepotong-sepotong karena sulitnya kita mencari referensi yang lengkap.

Jadi, para penulis itu memang sungguh berjasa bagi para generasi berikutnya. Mereka sebagai penyambung lidah umat tentang sejauh mana pemikiran masa lalu berjalan. Bisa dibayangkan seandainya saja mereka tidak menulis, kita tidak akan banyak tahu tentang hal itu semua. Maka di sini Plato menjadi sangat berjasa telah mencatat kebijaksanaan gurunya. Andai saja Plato tidak menulis, dari siapa kita tahu tentang hal-hal yang telah dipikirkan oleh orang Yunani ini, atau oleh orang-orang sebelumnya.

Itulah pentingnya menulis, sehingga tidak keliru jika dikatakan, penulis adalah juru bicara bagi masyarakat, bangsa, dan umat. Seorang filsuf Francis Bacon pernah mengatakan, “Aku hadapkan ruhku ke haribaan Tuhan. Meski jasadku di kubur dalam tanah, namun aku akan bangkit bersama namaku pada generasi-generasi mendatang serta pada seluruh umat manusia.”

No comment for Penulis Adalah Juru Bicara Umat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Enter Captcha Here : *

Reload Image