,
Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » Karya » Artikel » PENURUNAN AKHLAK KARENA SOCMED

PENURUNAN AKHLAK KARENA SOCMED

(190 Views) Februari 24, 2018 4:20 am | Published by

Oleh: Yuni Rahmawati, S.Pd.
Guru MTs Negeri 2 Kota Banjar

Yuni Rahmawati (kedua dari kiri)

Kerinduan kita sebagai pendidik akan hadirnya akhlak yang baik dan mulia dari anak didik di jaman yang serba canggih ini sangatlah mendalam. Betapa tidak, dimana-mana dari tahun ke tahun banyak sekali perubahan. Sebagian peserta didik sudah banyak yang jauh dari harapan, terutama dari segi akademik dan khususnya akhlak yang baik.

Akhlakul karimah atau akhlak mulia/terpuji yaitu suatu sikap yang baik sesuai ajaran agama Islam. Seseorang yang memiliki akhlakul karimah maka akan disenangi oleh sesama manusia, bahkan tidak hanya itu jika seesorang berperilaku sesuai ajaran agama islam maka sudah pasti baik dimata ALLOH dan kelak nanti akan masuk dalam surga bersama Nabi Muhammad saw, seperti yang terkandung dalam Hadist Nabi Muhammad :

Akhlak adalah nomor satu dalam pendidikan. Salah satu guru bahasa Arab, pernah mengatakan “Jika siswa kita akhlaknya baik tentu dia akan pintar, tapi siswa yang pintar belum tentu akhlaknya baik.” Pintar bersikap, bersopan santun, bermoral, tentu Allah SWT  pun akan memberikan ilmu yang bermanfaat kepada mereka. Jika seorang siswa sudah mengabaikan nasehat-nasehat seorang guru, berarti dia sudah gagal dan ilmunya tidak bermanfaat pada akhirnya. Naudzubillah.

Semakin majunya perkembangan teknologi, semakin susah kita menghadapi para peserta didik untuk menjadi seseorang yang baik dan berakhlakul karimah. Kemajuan teknologi memang dapat mempermudah kegiatan kita sehari-hari. Namun pengaruh buruknya pun tidak kalah banyaknya. Jika kita mengingat beberapa tahun ke belakang, ketika alat komunikasi mulai muncul (telefon), komunikasi semakin lancar, kita dapat berhubungan dengan siapapun tanpa ada jarak. Kemudian beberapa tahun kemudian munculah ponsel, sebuah alat komunikasi yang bisa dibawa kemanapun kita pergi. Sehingga posisi telepon tergantikan dengan maraknya ponsel, walaupun sekarang telepon masih tetap d gunakan. Seluler pun semakin marak, hampir setiap orang dari anak-anak sampai orang tua bisa memiliki dan memakainya dengan mudah.

Kemudian dari dunia teknologi internet, dengan dimulai munculnya website pertemanan friendster sampai facebook, twitter, instagram, line, messenger, whatsup dan alat pertemanan yang lain yang lebih maju serta kemudahan mengakses internet di ponsel, semakin terbuka akan informasi yang ingin kita ketahui.

Semua guru atau pendidik itu sama dalam hal melindungi siswa kita dari hal-hal yang bersifat negatif. Tidak ada satu guru pun yang ingin siswanya hancur dalam hal akhlak dan tidak sukses akademiknya. Dengan maraknya jaringan pertemanan dan social media yang dapat di jangkau dengan mudah, betapa memprihatinkan keadaan para remaja dan anak- anak yang seharusnya menikmati masa anak- anaknya sudah tercemar berbagai tampilan dari internet yang seharusnya tidak pantas di lihat.

Dengan demikian, seolah-olah guru sekarang ini sedang melawan benda tidak hidup, yang susah sekali dihentikan. Media sosial adalah sebuah media online, dengan para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi meliputi blog, jejaring sosial, wiki, forum dan dunia virtual. Blog, jejaring sosial dan wiki merupakan bentuk media sosial yang paling umum digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia.

Itulah media sosial, benda ini meghapus batasan-batasan manusia untuk bersosialisasi, batasan ruang maupun waktu, dengan media sosial ini manusia dimungkinkan untuk berkomunikasi satu sama lain dimanapun mereka bereda dan kapanpun, tidak peduli seberapa jauh jarak mereka, dan tidak peduli siang atau pun malam. Sosial media memiliki dampak besar pada kehidupan kita saat ini. Seseorang yang asalnya “kecil” bisa seketika menjadi besar dengan Media sosial, begitupun sebaliknya orang “besar” dalam sedetik bisa menjadi “kecil” dengan Media sosial.

Banyak sekali hal-hal yang bisa ditemui setiap saat dengan pengaruh sosial media ini, kami sebagai pendidik merasa sangat prihatin, seperti contoh nyata, anak- anak sekolah (siswi) dari rumah berangkat pamit untuk belajar, cara dandanan dan pakaiannya sudah tidak sesuai dengan norma kesopanan, bedak yang tebal dan bergincu, pakaiannya yang ketat tapi berkerudung, dengan tersenyum dan ngobrol dengan teman-temannya d pinggir jalan menunggu angkot, apa yang mereka bawa bukan sekedar alat-alat sekolah, namun ponsel di genggamannya, di dalm hati saya bertanya, apakah ini fenomena dimana siswa sudah “cuek” keadaan sekitarnya? Bahkan “Lipstik” lebih penting daripada buku di tas nya.  Apakah gurunya diam saja dengan kondisi seperti itu? Ternyata saya tanya salah satu guru mereka, dan mereka menjawab “ itu tidak benar, kami sebagai guru telah menegurnya, namun sikap mereka acuh, bahkan marah kepada gurunya. Jadi apa daya kami, menegur dengan lembut, agak keras, sampai tingkat yang keras, namun tidak pernah ddengarka. Jika kami menindak dengan kekerasan, guru lah yang di salahkan. Apakah itu mendidik? “

Di sisi lain, baru-baru ini tapi sebenarnya sudah lama terjadi, dimana siswa sebagian sudah berpenampilan bak artis/aktor favoritnya. Cukuran rambutnya yang mohack, dua sisinya tipis tapi tengahnya berjambul, celana panjangnya yang dipensil, bahkan kadang-kadang bajunya tidak mau dirapikan, keberanian merokok di lingkungan sekolah, perkelahian, sikapnya menentang guru, semua itu sudah tidak asing lagi. Segalanya berubah, jika kita bandingkan peserta didik beberapa tahun yang lalu sebelum akses internet menjadi mudah sekali.

Itulah pengaruh nyata dari socmed, dia bisa mempengaruhi fisik dan jiwa kaum remaja. Fisiknya lemah, mudah terserang penyakit, tidak bisa bersosialisasi, tidak bisa berbahasa dengan baik, tidak tahu norma kesopanan, jiwanya labil. Pengaruh taat perintah dari benda mati yaitu sebuah mesin komunikasi, yang kaku dan bisa berkecanduan. Sehingga perintah dari guru, orang tua, dan orang sekitar yang peduli kepada mereka selalu di acuhkan, karena mereka menganngap sudah kuno, banyak omelan dan nasehat sangat mengganggu telinga mereka. Sedangkan perintah sebuah mesin itu tidak pernah mengomel atau menyalahkan, apa yang ingin mereka ungkapkan di social media dengan bahasa burukpun sah-sah saja.

Segala cara telah di tempuh mulai dari imbauan kepada orang tua sampai dengan pengisian rapor di sekolah yang disertai dengan penilaian sikap, sampai merepotkan para guru dalam menilainya. Mereka harus menilai satu demi satu sikap dan akhlak siswanya. Sedangkan di sisi lain para siswa hanya merespon dan bersikap semaunya tanpa ada peduli bahwa sikap mereka dinilai. Kemudian pada kurikulum 2013, kepramukaan sudah menjadi kegiatan ekstra yang wajib bagi para siswa, namun masih tetap kurang menannngulangi masalah akhlak siswa. Di samping itu, guru semakin terhimpit ruang geraknya untuk memberi nasehat kepada siswanya karena sedikit saja menyinggung perasaan anak langsung diadukan. Jadi, selama ini posisi guru serba salah, menindak anak yang kurang baik tetapi siap-siap ditindak.

Bagaimana mengatasinya? Tentu, kami para pendidik tidak akan putus asa memberikan bimbingan, arahan, perlindungan kepada peserta didik. Walaupun di luaran sudah banyak sekali kasus yang melemahkan seorang guru yang padahal munculnya dari anak didiknya sendiri. Betapa perbuatan itu tidak mencerminkan penghargaannya terhadap guru yang telah mendidiknya, itulah bentuk nyata dari pengaruh socmed dalam menurunkan akhlak para remaja. Selain itu tentunya tak henti-hentinya dukungan orang tua dan keluarga yang dapat membentengi anaknya dari serangan socmed. Tentunya mereka harus memantau perkembangan anak-anaknya untuk lebih selektif memberikan kebebasan mengakses internet dan bersosial media. Mudah-mudahan kita semua tergolong menjadi masyarakat yang dapat menyelamatkan anak bangsa, khususnya bangsa Indonesia.

***

Tags: , ,
Categorised in: ,

No comment for PENURUNAN AKHLAK KARENA SOCMED

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Enter Captcha Here : *

Reload Image