ispi
Menu Click to open Menus
Home » Karya » Artikel » Peran Keluarga bagi Pendidikan Anak

Peran Keluarga bagi Pendidikan Anak

(51 Views) November 15, 2017 6:36 am | Published by

Oleh Yeti Islamawati
Guru MTs. Negeri 9 Bantul, Yogyakarya dan Anggota Agumapi

Pendidikan anak merupakan tanggung jawab keluarga, dalam hal ini orang tua. Orang tua adalah orang sosok di luar diri anak yang pertama kali dikenali anak. Kelak, di hari akhir, orang tualah yang akan dimintai pertanggungjawaban mengenai keberadaan anak mengenai bagaimana dan apa yang diajarkan oleh orang tua. Sudahkah anak mendapatkan hak pendidikan dari orang tua ini dengan baik? Selain itu, orang tualah yang paling mengerti kondisi, watak, dan kemampuan anaknya. Namun, fenomena yang terjadi sekarang ini banyak orang tua yang melimpahkan tanggung jawab ini kepada pihak lain, dalam hal ini misalnya sekolah. Tentu saja hal tersebut kurang tepat karena sekolah bukanlah penanggung jawab utama atas pendidikan anak.

Lickona (2012:48) dalam bukunya Educating for Character menyampaikan bahwa keluarga merupakan sumbu pendidikan moral yang paling utama bagi anak-anak. Orang tua adalah guru pertama mereka dalam pendidikan moral. Mereka jugalah yang memberikan pengaruh paling lama terhadap perkembang moral anak-anak: di sekolah, para guru pengajar akan berubah setiap tahunnya, tetapi di luar sekolah, anak-anak tentunya memiliki orang tua yang memberikan bimbingan dan membesarkan mereka selama bertahun-tahun. Lebih lanjut dikatakan bahwa besar kasih dan sayang antara anak dan kedua orang tuanya, semakin kecil kemungkinan anak-anak tersebut untuk terlibat dalam masalah hukum.

Anak adalah anugerah sekaligus amanah untuk kedua orang tuanya. Menurut Sunarti (2904: 30) ada dua  alasan mengapa anak perlu dicintai tanpa syarat. Alasan pertama, karena setiap anak pada dasarnya adalah pemenang. Kemenangan masing-masing individu dalam melewati masa-masa kritis dalam kehidupannya. Kemenangan setiap individu pada tahap pertumbuhan dan perkembangannya mana pun memiliki makna bahwa kehadirannya di dunia ini mengemban fungsi dan tugas tertentu yang telah digariskan Yang Mahakuasa, yaitu agar menjalani kehidupan dengan baik. Oleh karena itu, setiap anak yang lahir ke dunia adalah asset, adalah berharga, dan adalah layak untuk diperlakukan sebaik-baiknya. Alasan kedua, pada hakikatnya setiap individu itu unik, tidak sama.Lebih lanjut, hal tersebut berimbas pada berkaitan dengan nilai anak yaitu bagaimana anak dipandang. Apa harapan orang tua yang ditumpukan terhadap anak? Sebagai apa kehadiran anak dimaknai orang tua? Itulah nilai anak di mata orang tua. Sikap dan persepsi seseorang menentukan tindakan. Demikian halnya dalam pengasuhan anak. Pandangan atau persepsi orang tua mengenai keberadaan anak dalam kehidupannya akan menentukan tindakan dan pola asuh anak

Keluarga adalah sumber kepribadian seseorang. Di dalam keluarga dapat ditemukan berbagai elemen dasar yang membentuk kepribadian seseorang. Tak dapat disangkal bahwa keluarga merupakan tempat pertama bagi anak untuk belajar berinteraksi sosial. Melalui keluargalah anak belajar berespon terhadap masyarakat dan beradaptasi di tengah kehidupan masyarakat yang lebih luas kelak. Apa yang ditanamkan orang tua adalah hasil dari persepsi orang tua terhadap anaknya. Orang tua umumnya akan berusaha sebaik-baiknya memberikan apa yang mereka miliki untuk kebahagiaan anak-anaknya. Akan tetapi hal ini bukan berarti secara otomatis mereka melakukkan hal yang selayaknya mereka lakukan. Dasar pemikiran mereka  benar adanya, namun yang sering terjadi adalah cara pendekatan yang mereka lakukan kurang atau tidak sesuai dengan kondisi yang dihadapi (Satiadarma, 2011). Oleh karena itu, orang tua harus menyadari peran utama atas pendidikan anaknya.

Anak-anak yang kurang kasih sayang akan menjadi rapuh kepribadiannya. Kurangnya perhatian anak dari keluarga akan berimbas pada penurunan moral. Sebagai mana dikemukakan oleh Lickona (2012:20-28) beberapa gejala penurunan moral, berupa kekerasan dan tindakan anarki, pencurian, tindakan curang, pengabaian terhadap aturan yang berlaku, tawuran antar siswa, ketidaktoleran, penggunaan bahasa yang tidak baik, kematangan seksual yang terlalu dini dan penyimpangannya, serta sikap perusakan diri. Kondisi ini tentu saja memprihatinkan karena anak adalah calon generasi penerus bangsa. Mereka nantinya yang akan meneruskan tongkat estafet kepemimpinan. Nasib bangsa Indonesia di masa depan ada berada di punggungnya.

Sebaliknya, anak yang dilimpahi kasih sayang, tidak bergantung dalam mendambakan kasih sayang dari luar, dirinya telah penuh oleh kasih sayang. Harapannya kasih sayang yang berlimpah ini akan ditularkan denganmenyanyai orang lain, pada temannya, pada gurunya dan pada masyarakat. Maka, tak pelak lagi bahwa keluargalah yang menanamkan nilai-nilai kebaikan pada diri anak-anaknya.

Pendekatan yang sesuai dalam mendidik anak adalah pendekatan kasih sayang dari keluarga. Kasih sayang orang tua terhadap anak tidak dapat diukur dari seberapa sering mengajak anak berekreasi, seberapa banyak memenuhi keinginan anak,  dan seberapa besar materi yang diberikan kepada anak. Betapa banyak anak yang dilimpahi dengan materi, namun dirinya merasa kesepian dan kurang perhatian. Wujud kasih sayang orang tua terhadap anak ini menyangkut perasaan, bukan materi. Harapannya, orang tua menyadari pentingnya kasih sayang bagi anak, kemudian mewujudkannya dalam berinteraksi bersama anak. Semoga dengan demikian, kelak anak-anak kita menjadi generasi yang hebat, generasi yang bermartabat, dan menjadi generasi yang disegani bangsa lain. Yakinlah, Indonesia akan kembali jaya akan terwujud di masa mendatang.

***

No comment for Peran Keluarga bagi Pendidikan Anak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *