ispi
Menu Click to open Menus
Home » Karya » Makalah » Sastra Terlupa Karakter Terlena

Sastra Terlupa Karakter Terlena

(268 Views) Juli 3, 2017 2:27 am | Published by

Abstract

Sejak kewajiban membaca karya sastra dihilangkan pada setiap jenjang sekolah, karakter bangsa perlahan-lahan mulai terkikis sehingga muncullah peristiwa-peristiwa yang menjadikan bangsa Indonesia semakin terpuruk. Dr, Taufiq Ismail menggambarkan kenyataan itu sebagai “bangsa yang rabun membaca dan pincang mengarang “. Keadaan ini dapat diperbaiki dengan mengubah paradigma. Dalam pengajaran sastra, siswa dibimbing memasuki sastra secara asyik dan gembira. Penilaian dalam apresiasi juga harus diarahkan untuk menghargai daya apresiasi siswa. Pembelajaran sastra harus mampu menyemaikan nilai-nilai positif pada batin siswa. 

Since the obligation to read literary works are removed at every level of school, the characters slowly begin to erode, so came the events that make the Indonesian nation worse off. Dr. Taufiq Ismail describes the fact that as a “nation of myopic reading and writing lame. ” This situation can be improved by changing the paradigm. In the teaching of literature, students are led into the humanities have fun and happy. Assessment of appreciation should also be directed to appreciate the power of student appreciation. Learning literature should be able to foster positive values in the inner student.

Hari-hari terakhir suguhan yang sering hadir di pagi bukan hanya secangkir kopi dan selembar roti tetapi juga berita-berita miring tentang negeri ini.  Anggota DPR yang bersikeras ‘jalan-jalan’ ke luar negeri dengan berbagai dalih yang diputarbalikan.  Ada pula kasus ‘jalan-jalannya’ pegawai negeri  paling tersohor, Gayus, ke Bali. Berita-berita ini disajikan dengan penuh pesona oleh pembawa berita yang tidak kalah mempesona sehingga sering kita lupa bahwa di balik berita itu ada sesuatu yang hilang dari jiwa kita sebagai bangsa.

Berita-berita sejenis yang bertubi-tubi  dan saling bersusulan membuat kita terkadang jenuh dan bosan. Satu persoalan belum tuntas, disusul persoalan lain sehingga ada kesan berita terbaru sengaja dimunculkan untuk mengalihkan perhatian publik.  Akibatnya, sebagian besar publik merasa tidak ada yang aneh pada berita-berita tersebut. Bahkan kemudian muncul pemikiran bahwa berita-berita negatif itu suatu hal yang biasa dan dapat diterima sebagai sebuah kewajaran. Padahal bila direnungkan, semua perilaku tersebut adalah cerminan dari sebuah ‘bencana’ yang harus kita waspadai.

Bila akhir-akhir ini kita semua prihatin dengan rangkaian bencana yang melanda negeri ini, ternyata ada sebuah ‘bencana’ yang kita semua kadang tidak menyadarinya. Hal ini karena kita sering terbius pada hal-hal yang sifatnya kasat mata. Padahal bila dirunut ke akar-akarnya adanya bencana seperti tanah longsor, banjir, kebakaran, dan tsunami terdapat hubungan dengan ‘bencana’ yang telah lama kita alami tetapi tidak disadari. Bencana itu adalah hilangnya karakter bangsa.

Mungkin terlalu dini untuk mengatakan bahwa bangsa ini telah kehilangan karakternya, tetapi marilah kita tengok keadaan di sekitar kita. Memang masih banyak hal-hal yang dapat kita banggakan. Tetapi juga terlalu naif untuk mengatakan tidak ada masalah pada karakter bangsa ini. Untuk itu, artikel sederhana akan mencoba mengaitkan hilangnya karakter bangsa dengan dilupakannya pembelajaran sastra di sekolah-sekolah.

Pembelajaran Sastra Dulu dan Kini

Dalam pidato pengukuhannya sebagai Doktor Honoris Causa oleh Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Taufiq Ismail (2003) menyinyalir ada perubahan mendasar yang perjadi pada pembelajaran sastra masa dulu dan kini. Beliau mengatakan titik balik perubahan itu terjadi pada 1 Januari 1950 ketika bangsa Indonesia memiliki kewenangan penuh merumuskan kurikulum pendidikan. Perubahan mendasar itu berupa dihapuskannya bacaan-bacaan wajib bagi siswa.

Pada masa penjajahan Belanda, sekolah Hindia Belanda kala itu (AMS, MULO) mewajibkan siswanya membaca karya sastra. Tercatat ada kurang lebih dua puluh lima bacaan wajib yang harus diselesaikan dalam waktu tiga tahun. Apakah sistem pendidikan  seperti ini yang menghasilkan tokoh-tokoh pendiri bangsa seperti Sukarno, Mohammad Hatta, Syahrir dan sebagainya ?  Memang masih perlu dibuktikan. Tetapi bila menengok negara-negara yang sudah berhasil seperti Amerika Serikat dan Rusia, kita pantas mengakui bahwa ada peran bacaan sastra dalam pembentukan karakter seseorang.

Amerika sampai kini masih mewajibkan siswa-siswanya membaca karya sastra seperti karya-karya Ernest Hemingway. Demikian juga Rusia masih mempertahankan karya sastra seperti War and Peace karya Leo Tolstoy.  Negeri tetangga Malaysia  juga tidak ketinggalan. Siswa-siswa di Malaysia masih diwajibkan minimal enam karya sastra. Tidak ketinggalan pula Singapura dan Thailand.

Bagaimana dengan Indonesia? Beberapa sekolah mungkin masih melaksanakan bacaan-bacaan wajib. Tetapi secara umum, siswa-siswa Indonesia hanya sekali, dua kali atau bahkan ada yang sama sekali belum pernah membaca karya sastra. Taufiq Ismail lebih menyukai istilah “bangsa yang rabun membaca dan pincang mengarang” untuk menggambarkan situasi pembelajaran sastra di Indonesia.

Secara lebih rinci, Taufiq Ismail (2003) menyebutkan setidaknya terdapat 35 permasalahan dalam pembelajaran sastra di Indonesia. Permasalahan itu di antaranya adalah merosotnya minat masyarakat secara umum untuk membaca karya sastra. Memang ada beberapa fakta yang dapat membantah pernyataan ini. Terbukti novel-novel seperti Laskar Pelangi atau Ayat-ayat Cinta laris di pasaran. Tetapi dapatkah kedua novel ini mewakili karya sastra secara keseluruhan ? Masih harus dibuktikan ketika novel-novel yang kental nilai sastranya dilepas ke masyarakat.

Permasalahan lain adalah peran media lain seperti media elektronik dalam mengenalkan sebuah karya sastra kepada masyarakat. Sekarang ini tak dapat dipungkiri, media elektronik telah menyita perhatian masyarakat sehingga media-media lain harus berusaha keras agar tidak tersingkir. Seharusnya keunggulan ini dimanfaatkan untuk mengenalkan karya-karya sastra melalui tayangan-tayangannya. Tetapi, hanya sedikit sinetron-sinetron yang diangkat dari karya sastra. Beberapa tahun lalu ditayangkan sinetron “Siti Nurbaya” yang sempat sukses. Tetapi setelah itu, sinetron di televisi lebih banyak dihiasi cerita-cerita yang lebih mementingkan nilai jual dari pada kualitas.

Masalah-masalah lain masih banyak tetapi pokok permasalahan dari semua persoalan itu terletak pada merosotnya wajib baca buku sastra, bimbingan mengarang dan pengajaran sastra di sekolah. Seperti sudah dikemukakan di atas, hilangnya kewajiban membaca karya sastra berbanding lurus dengan menurunnya kualitas karakter bangsa.

Kenyataan ini baru disadari akhir-akhir ini dengan digalakkannya kembali pendidikan karakter. Presiden SBY melalui pidatonya dalam rangka memperingati hari Pendidikan Nasional  menyatakan keprihatinannya pada berbagai fenomena yang muncul di masyarakat seperti kekerasan, korupsi, kejahatan seksual dan sebagainya. Jalan keluar dari permasalahan ini adalah pendidikan karakter yang terintegrasi dengan kurikulum yang ada.

Posisi Penting Pembelajaran Sastra

Ada keterkaitan khusus antara karya sastra dengan karakter atau moral. Dengan terkandungnya nilai-nilai moral dalam karya sastra, pengarang dapat mencerminkan pandangan hidupnya mengenai nilai-nilai kebenaran sehingga karya tersebut dapat menawarkan pesan moral yang berkaitan dengan sifat luhur manusia, memperjuangkan hak dan martabat manusia. ( Djojosuroto, 2006 : 14 )

Atar Semi (1984:49) mengungkapkan bahwa karya sastra adalah suatu medium paling efektif membina moral dan kepribadian suatu kelompok masyarakat.

Nilai moral yang hendak disampaikan pengarang menyatu dalam alur cerita. Dalam cerita itu, pembaca akan bertemu dengan berbagai perbuatan para tokoh yang dilukiskan pengarang dalam berbagai peristiwa. Dengan sendirinya, pembaca akan memahami perilaku yang baik dan yang buruk.

Karakter tokoh-tokoh juga menjadi media penyampaian nilai moral oleh pengarang. Tokoh protagonis selalu menggambarkan nilai-nilai kebaikan Sedangkan tokoh-tokoh antagonis menggambarkan nilai-nilai yang kurang terpuji.

Dalam sebuah karya sastra, seperti cerpen dan novel, pembaca akan bertemu dengan berbagai karakter tokoh yang mencerminkan karakter manusia pada umumnya. Melalui interaksi tersebut, pembaca dapat menilai setiap perilaku tokoh dan bukan tidak mungkin, karakter tokoh tersebut menjadi acuan pembaca dalam berpikir dan bertindak.

Nurgiyantoro (2002:321) memposisikan pengarang sebagai perancang model perbuatan dan sikap hidup manusia dalam kehidupan nyata. Banyak contoh kasus yang mendukung pendapat ini. Kita sering mendengar beberapa perilaku manusia yang diilhami oleh perilaku seorang took dalam sebuah novel atau cerpen.

Tetapi sayangnya, posisi karya sastra saat ini sudah digantikan oleh media lain, terutama televisi. Media yang sekarang sudag menjadi kebutuhan primer ini, membentuk pola berpikir dan berbuat masyarakat. Padahal, beberapa pendapat pakar yang sering terdengar, tidak lebih dari sepuluh persen tayangan di televisi ini yang bernilai baik dari segi pendidikan. Oleh karena itu, sudah sewajarnya para guru, terutama guru bahasa Indonesia di setiap jenjang pendidikan merubah paradigm terhadap pembelajaran sastra.

Merubah Paradigma

Taufiq Ismail (2003) mengusulkan setidaknya enam perubahan paradigma agar pengajaran sastra dapat memenuhi fungsinya.

Yang pertama adalah merubah pendekatan dalam pengajaran agar siswa dibimbing memasuki sastra secara asyik dan gembira. Sastra bukan hal yang dipaksakan sebagai materi pelajaran yang harus dipahami. Sastra harus dikemas menjadi materi yang menyenangkan sehingga membuat siswa antusias dan merasa sebagai sesuatu yang diperlukan.

Perubahan paradigma yang kedua adalah menyajikan karya sastra bukan melalui ringkasan seperti yang selama ini dilakukan. Nilai-nilai yang terkandung dalam sebuah karya sastra dapat dihayati jika karya tersebut dibaca secara utuh. Membaca sepotong-potong atau membaca ringkasan dan ulasan hanya membekali siswa dengan pengetahuan tentang karya tersebut. Hal ini belum sesuai dengan hakikat pembelajaran sastra yang menekankan kemampuan mengapresiasi. Memang mungkin saja ringkasan dan ulasan bermanfaat dalam kegiatan pembelajaran, tetapi itu bukan merupakan tujuan akhir pembelajaran sastra.

Perubahan berikutnya berkaitan dengan pembelajaran mengarang. Selama ini kegiatan mengarang masih merupakan hal yang ditakuti siswa. Sebagian besar siswa merasa terbebani ketika guru memberikan tugas berupa karangan baik yang bersifat fiksi maupun nonfiksi, baik berupa prosa maupun puisi. Memang ada beberapa siswa yang langsung antusias, tetapi dapat dihitung dengan sebelah jari. Untuk itu, pendekatan dan metode pembelajaran mengarang harus dirubah agar menyenangkan baik bagi siswa maupun guru. Caranya dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti : membawa siswa ke alam, menulis bersama, dan sebagainya.

Perubahan keempat berkaitan dengan penilaian dalam apresiasi. Banyak yang menyayangkan ketika soal-soal apresiasi sastra dibuat dalam bentuk pilihan ganda. Contoh yang sangat nyata adalah soal-soal Ujian Nasional. Dengan ditentukannya jawaban, siswa akan berpikir benar salah. Padahal karya sastra selalu dapat ditafsirkan berbeda. Perbedaan penafsiran harus dihargai dalam kegiatan apresiasi sastra. Dengan menghargai perbedaan siswa akan mendapatkan beberapa nilai seperti menghargai orang lain, demokrasi, berpikir logisdan sebagainya. Oleh karena itu, sebaiknya soal-soal UN dipertimbangkan kembali agar dapat mengukur kemampuan apresiasi.

Bila selama ini pembelajaran sastra lebih mengutamakan pengetahuan tentang sastra seperti teori dan sejarah sastra, sekarang paradigma itu harus dirubah. Pengetahuan tentang sastra dilakukan secara sambil lalu sebagai informasi sekunder. Sastra bukan pengetahuan yang harus dihafalkan. Sastra harus dinikmati sebagai sebuah karya seni seperti lagu-lagu dan lukisan.

Perubahan terakhir berkaitan dengan fungsi karya sastra itu sendiri. Pembelajaran sastra harus mampu menyemaikan nilai-nilai positif pada batin siswa. Inilah yang disebut dengan pembangunan karakter. Bila pelajaran eksakta mengutamakan pengembagan intelektual yang berpusat pada otak, pembelajaran sastra mengutamakan pengembangan nilai-nilai dalam jiwa siswa. Banyak sekali nilai yang dapat ditanamkan pada diri siswa melalui karya sastra. Hal ini tidak dapat dilakukan oleh pelajaran lain. Untuk itulah, sudah seharusnya pembelajaran sastra menggunakan karya sastra sebagai materi utamanya bukan ulasan, ringkasan, resensi atau yang lainnya.

Sekaranglah Saatnya

Saat inilah barangkali waktu yang tepat untuk merubah paradigma agar pembelajaran sastra di sekolah dapat memberikan kontribusi dalam pembangunan karakter siswa. Kurikulum telah menggariskan adanya bacaan wajib bagi siswa. Memang tidak sedikit kendala yang akan ditemui, seperti langkanya buku-buku sastra di perpustakaan dan minat siswa yang rendah. Tetapi, kita tetap harus melangkah dengan berbagai cara.

Momen digalakkannya kembali pendidikan karakter menjadi pemicu yang tepat untuk diadakannya kembali kewajiban membaca karya sastra di sekolah-sekolah. Tanpa itu, pendidikan karakter seperti halnya benih yang dibiarkan kerontang. Karya sastra dapat menjadi setetes embun yang membasahi pucuk daun yang mulai bersemi. Atau juga, tetes-tetes gerimis yang menyuburkan akar-akar karakter yang dapat menjaga kebesaran bangsa agar selalu tegar berdiri walau angin badai meniup kencang. Semoga !

Daftar Pustaka

A.Teeuw. 1988. Sastra dan Ilmu Sastra. Jakarta : Pustaka Jaya

Djojosuroto, Kinayati. 2006. Analisis Teks Sastra dan Pengajarannya. Yogyakarta : Pustaka

Ismail, Taufiq. 2003. Agar Anak Bangsa Tak Rabun Membaca Pincang Mengarang. Yogyakarta : UNY

Nurgiyantoro, Burhan. 2005. Sastra Anak. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.

Nurgiyantoro,Burhan. 2002. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta : Gajah Mada Press

Ratna,Nyoman Kuta. 2009. Penelitian Sastra. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

Sarjono, Agus R.dkk. 2006. Mengantar Sastra ke Tengah Siswa. Jakarta : Horison

Semi, Atar. 1984. Kritik Sastra Indonesia. Padang : Angkasa Raya.

Suyitno. 1986. Sastra Tata Nilai dan Beberapa Eksegesis. Surakarta : Universitas Sebelas Maret

Wellek, Rene dan Austin Warren, 1990. Teori Kesusastraan. Jakarta: Gamedia Pustaka Utama

Tags:
Categorised in:

No comment for Sastra Terlupa Karakter Terlena

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *