ispi
Menu Click to open Menus
Home » Karya » Artikel » Sosok Inspiratif itu Bernama Guru

Sosok Inspiratif itu Bernama Guru

(52 Views) November 25, 2017 6:05 am | Published by

Oleh Noor Shofiyati, S.Pd.
Guru MTsN 9 Bantul
Anggota Asosiasi Guru Madrasah Penulis Indonesia (Agumapi)

Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku
Sebagai prasasti terima kasihku
Tuk pengabdianmu

Engkau sebagai pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
Engkau patriot pahlawan bangsa
Pembangun insan cendikia

Syair lagu Hymne Guru mulai terdengar lagi jelang peringatan Hari Guru Nasional (HGN), 25 November. Berbagai kegiatan pun digelar guna memperingati HGN sekaligus HUT PGRI ke-72, seperti: upacara, ziarah ke makam pahlawan, seminar, konsolidasi organisasi, kompetensi pembelajaran kreatif dan inovatif, kompetisi guru menulis dan menerbitkan buku, kampanye pendidikan bermutu, bakti sosial, pemberian penghargaan PTK berprestasi maupun kepala daerah yang berdedikasi tinggi terhadap kemajuan pendidikan dan guru, serta berbagai kegiatan positif lainnya.

Peringatan hari guru ini menjadi penting mengingat guru adalah sosok pencetak generasi masa depan. Di tangan para gurulah generasi muda saat ini diolah, hendak dibuat menjadi produk yang biasa-biasa saja ataukah produk yang elegan. Goresan yang diberikan oleh guru akan turut menentukan seperti apa kelak gambaran generasi penerus perjuangan bangsa ini di masa depan.

Sebenarnya sosok guru seperti apa yang mampu membawa generasi muda menuju kemajuan? Hu Wen Ciang, pakar pendidikan dari Taiwan (2011: 33) menyebutkan 4 tipe guru: pertama, guru yang hanya mampu memindahkan informasi dari buku ke anak didik. Kedua, guru yang mampu menjelaskan bahan ajar. Ketiga, guru yang mampu menunjukkan materi ajar dengan baik. Keempat, guru yang mampu menjadi inspirasi bagi anak didiknya untuk maju.
Dari keempat tipe di atas, guru yang mendekati ideal adalah guru dengan tipe keempat: mampu menginspirasi anak didiknya. Adanya seorang inspirator dapat memantik semangat seseorang untuk bangkit dan berusaha semaksimal mungkin untuk meraih suksesnya.

ST. Kartono (2011: 31- 34) menggambarkan tentang bagaimana seorang murid terbangkitkan semangatnya karena saat masih duduk di bangku sekolah sering mendapat pujian dari gurunya atas karya yang telah dibuatnya. Pujian dari seorang guru itu sangat membekas dalam dirinya dan menginspirasinya untuk meraih sukses. Inspirasi guru tidaklah rumit: memuji, memamerkan, atau mengakui karya anak didiknya (betapapun hasil karya itu masih ada kekurangannya).

Pernah membaca buku “Laskar Pelangi”? Siapa penulisnya? Ya Andrea Hirata. Novel ini merupakan ledakan obsesi Andrea yang terpendam hampir tiga puluh tahun, sebagai ekspresi hasrat kuat seorang murid yang pernah memendam janji untuk mengukir dedikasi guru yang telah mendidiknya tanpa pamrih.

Adalah Muslimah Hafsari, seorang guru yang telah berhasil mengajarkan pelajaran kehidupan kepada anak didiknya sehingga mengantarkannya memperoleh penghargaan berupa Satya Lencana Pembangunan dan Satya Lencana Pendidikan dari pemerintah. Muslimah muda memulai kariernya sebagai guru pada usia 16 tahun. Dia mengabdikan diri di sekolah yang dirintis oleh kakeknya, SD Muhammadiyah Gantung. Honor yang diperolehnya saat itu adalah Rp 7.000,00 per bulan. Dengan gaji sekecil itu Muslimah tetap menunjukkan totalitasnya dalam mendidik dan mengajar anak didiknya. Dia mengajarkan kepada murid-muridnya bagaimana memperjuangkan kebahagiaan. Hal ini tampak pada ketegarannya dalam memperjuangkan sekolahnya yang hampir ditutup.

Perjuangan dan dedikasi Muslimah berbuah manis. Salah satu anak didiknya telah berhasil menjadi seorang penulis ternama (baca: Andrea Hirata) yang telah menghasilkan karya yang mampu menginspirasi jutaan orang di Indonesia.

Dari sini tergambar bahwa seorang guru yang benar-benar mampu memainkan perannya sebagai guru dapat menginspirasi anak didiknya untuk menjadi lebih baik dalam segala hal dibandingkan dengan gurunya. Tak hanya Muslimah, semua guru di Indonesia pun mampu menjadi inspirator bagi anak didiknya.

Apa yang dapat dilakukan guru agar dapat menjadi inspirator bagi anak didiknya? Pertama, membuat anak didik mencintai ilmu, bukan malah membuat anak stress. Sebagai ilustrasi: dalam sebuah kelas tentu tidak semua anak merasa tertarik untuk belajar. Nah, bagaimana guru di sini memainkan perannya sehingga anak yang semula enggan belajar menjadi tergerak untuk belajar. Bagaimana guru mampu membangun suasana belajar (apapun kondisi anak saat masuk sekolah).

Kedua, tidak mengecilkan nyali anak didik. Seorang guru seyogyanya memiliki sudut pandang positif terhadap semua anak didiknya, bahkan terhadap anak yang mendapat label “nakal” sekalipun. Mengapa? Sebagai manusia normal seorang anak tentu ingin dihargai. Sehingga apapun yang telah dihasilkannya patut untuk dihargai. Sebuah penghargaan sangat berarti buat anak. Dia akan selalu mengenangnya bahkan meskipun telah keluar dari bangku sekolah.

Ketiga, menjadikan diri role model bagi anak didik, baik dalam perilaku, tutur kata, maupun pola belajar. Hampir setiap hari guru bertemu dengan anak didik. Apapun yang ditampilkan oleh guru akan terekam oleh anak, baik atau buruk. Sehingga seyogyanya guru berusaha untuk selalu menampilkan yang terbaik (apapun kondisi yang sedang dialami guru saat itu). Karena hal ini sangat berpengaruh terhadap anak. Anak yang melihat gurunya selalu bertutur kata dengan baik akan lebih merasa hormat. Demikian halnya anak yang melihat guru suka belajar maka dia pun akan mengikutinya.

Seorang guru inspiratif tidak dapat muncul dengan sendirinya. Niat yang kuat untuk melahirkan generasi yang lebih baik disertai usaha untuk memberikan kenangan terbaik buat anak dapat mendorong guru untuk menjadi sosok inspiratif. Mari dengan semangat Hari Guru Nasional jadikan diri sosok inspiratif bagi anak didik. Selamat Hari Guru.

****

2 Komentar for Sosok Inspiratif itu Bernama Guru

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *