ispi
Menu Click to open Menus
Home » Karya » Fiksi » Undangan Suci

Undangan Suci

(331 Views) Desember 8, 2016 2:09 pm | Published by

Oleh: Siska Yuniati
Guru MTs Negeri Giriloyo, Bantul, Yogyakarta

Aku akan datang meski tanpa undangan. Undangan pernikahanmu yang aku sendiri hanya dapat mereka-reka. Barangkali undangan itu terbuat dari kertas ivory putih, sederhana. Beraroma melati menyisir hasratku yang tak lagi dapat aku benamkan. Ornamennya, adalah mawar merah yang menghentak-hentak kalbuku. Dan di sana tertatah namamu dengan tinta emas, bersanding dengan nama asing. Jelas, bukan namaku.

Tiga bulan lalu, masih jelas kulihat wajahmu bersemu merah ketika aku katakan kapan-kapan aku akan bertandang ke rumah. Kuharapkan suaramu yang lembut itu akan bersambut sekadar mempersilakan atau menangkapnya dengan canda. Nyatanya engkau kembali beraktivitas, merapikan kertas-kertas usai rapat organisasi pemuda.

Tidak ada kelanjutan apa-apa setelah keterkejutanmu untuk sekian detik dan rona darah di parasmu. Aku pun menduga engkau malu atau memang tidak mendengar kata-kataku. Malah kian hari nyaliku menciut, mendapatimu kembali pada tabiat tegas, berbicara apa adanya di dalam forum. Tentang perkataanku, tidak pernah engkau singgung sedikit pun.

Suci, namamu, demikian sulit ternodai. Jika ada yang menanyakan dirimu, pastilah akan diperoleh jawaban yang menggetarkan. Suci yang santun, baru lulus kuliah dengan predikat cumlaude. Suci adalah mutiara yang berkilau, membuat para bujang berdecak kagum.

Akan halnya diriku, telah bekerja sebagai guru di sebuah SMP swasta. Tak banyak gaji memang, namun sekolah ini adalah napas keluarga kami. Kakekku, Mbah Zuber, yang merintisnya. Tidak ada alasan lain untuk tidak mengabdi di sana.

“Siapa lagi kalau bukan kita, Le. Jadi guru itu memang kudu sabar, apalagi guru yang menghidupi sekolah, bukan mencari penghidupan di sekolah. Kalau kau ingin penghasilan, sawah Bapak yang cukup luas itu bisa kau tanami,” ujar Bapak suatu kali membuatku tak banyak cakap.

Begitulah. Aku terombang-ambing antara maju dan mundur untuk datang kepada Suci. Hatiku mengatakan Suci juga menaruh perasaan kepadaku. Lewat tatapan matanya yang tak sengaja kutangkap. Ia juga kerap tersipu saat terjebak percakapan kawan kami yang hendak menikah. Tidak ada yang perlu dipertanyakan kembali tentang perasaan kami. Seolah ada tarikan kuat agar kami saling mendekat. Hanya saja, tarikan itu tak jarang tiba-tiba pudar, berhamburan tak jelas bentuknya.

“Kalau tidak kau lamar sekarang, kapan lagi?” kata Naryo, temanku.

“Kau tega membiarkan dia terus menunggumu, atau bisa-bisa keduluan yang lain,” Naryo melanjutkan kata-katanya. Aku terdiam, kendati peluru serasa menghujam jantung. Benarkah Suci akan menerima lamaran yang lain? Bukankah selama ini tidak ada yang berani mendekatinya. Termasuk aku, mungkin. Bisaku hanya mengukir angan, tanpa mampu mengumpulkan kekuatan untuk ke rumahnya sekaligus melamar.

Namun, tidak semudah itu. Aku harus menyiapkan segalanya. Tidak cukup bermodal cinta, kendati itu kusematkan dalam nampan penuh kasih sayang. Materi juga harus diindahkan. Apa jadinya, Suci yang anak juragan mebel tiba-tiba hidup sederhana bersama seorang guru honor.

Tapi aku yakin Suci tak akan berpikiran demikian. Ia santun dan rendah hati. Mana pernah ia pamer kekayaan orang tuanya. Tidak sekali pun kulihat ia memilih kawan berdasarkan derajat kekayaan.

Ah, sebentar aku kuat, sebentar kemudian seperti terhempas begitu rupa. Aku benar-benar tenggelam dengan arus perasaanku sendiri. Hingga siang itu tatkala aku bertemu Suci di depan pasar kampung yang hadir sepekan sekali, bibir ini nyerocos begitu saja.

“Aku akan ke rumahmu,” kataku.

“Kapan?” Suci bertanya balik. Tak kusangka aku mendapatkan pertanyaan demikian. Dan gemuruh batinku menjadi badai, menggigilkan sekujur tubuh. Iya, kapan? Aku sendiri tidak tahu. Suci nyaris berlalu ketika aku menjawabnya.

“Minggu depan!” kataku nyaris tak terdengar.

Kata minggu depan itulah yang membuatku menjadi sesak. Aku tak kuasa harus merangkai kata yang indah untuk Suci. Sempat kupikirkan untuk menyulam kata, bait demi bait dan menitipkannya kepada angin malam yang kebetulan singgah di kamarku.

Apakah aku benar-benar mencintai Suci? Tapi mengapa cinta demikian merepotkan. Bagaimana dengan Suci? Apa ia terbelenggu dengan adat kampung kami yang tetap memegang teguh bahwa perempuan yang baik tak selayaknya mengungkapkan perasaannya kepada laki-laki? Harusnya itu tidak ia lakukan. Semestinya ia berkirim pesan atau isyarat yang jelas-jelas sehingga aku cukup berani untuk membawanya duduk di pelaminan sebagai perempuanku. Bukankah sekarang zaman sudah modern? Tidakkah di luar sana perempuan biasa menyatakan perasaannya kepada lelaki?

Lantas, bagaimana denganku? Bukankah aku laki-laki pengecut yang hanya dapat meraba-raba perasaan orang? Terlebih sejak pertemuan kami di pasar kampung, sikap Suci menjadi aneh. Ia jarang terlihat bersama teman-temannya. Di rapat organisasi pemuda, Suci juga tidak terlihat.

Tepat hari ketujuh setelah aku berjanji akan datang ke rumah Suci, aku sakit. Tubuhku demam luar biasa. Tidak ada dokter yang aku temui. Tidak juga kawan, atau kerabat. Bahkan orang tuaku sendiri tidak mengira kalau aku sedang sakit. Aku berdalih kecapean dan butuh istirahat. Maka seharian itu aku terkatung-katung dalam ketidakpastian diri.

Bulan begitu redup tatkala aku goreskan perasaanku kepada Suci. Mungkin hanya tinta yang bisa aku gunakan untuk mewakili perasaanku. Sayangnya tidak. Remahan kertas berserakan di sudut-sudut hatiku. Ia menolak membawa pesanku. Angin malam menyarankanku untuk datang memenuhi janji. Lebih kesatria, katanya. Meski dengan langkah terseok.

Sore itu, langkahku terhenti pada sebuah halaman luas dengan tetumbuhan beraneka rupa. Ada jalan setapak kecil terbuat dari batu-batu kali mengantarkan pada pintu sebuah rumah. Rumah besar bercat putih, kokoh, memandangku. Pintu rumah dari kayu jati berukir kerang tertutup rapat. Aku memandangnya untuk beberapa saat sebelum kutekan bel di samping pintu.

Tak lama, wajah Suci melongok dari balik pintu. Ia mempersilakanku masuk. Aku duduk berhadapan dengannya. Sekian waktu saling diam. Sesekali aku berdehem, tapi tiada kelanjutan suaraku.

“Mas, ada perlu apa, ya?” lirih Suci berkata.

“Untuk memenuhi janjiku.” Jawabku tak kalah lirih.

“Janji apa?” wajah Suci sedikit mendongak.

Aku tergeragap.

“Janji ke rumahmu. Aku ingin memintamu menjadi istriku,” suaraku tiba-tiba bertenaga.

Senyap. Suci memandangku.

“Terlambat,” katanya.

“Maksudmu?” aku ganti menatapnya.

“Sebulan lalu ada teman kuliahku dulu datang melamarku. Aku tangguhkan untuk memberikan jawaban. Aku masih menunggumu, dan Mas tak kunjung datang.” Suci kembali menunduk.

“Baru kemarin jawaban aku berikan. Aku menerimanya,” lanjutnya.

“Tidakkah bisa dibatalkan?” tanyaku setengah berharap.

Suci menggeleng, membuat dadaku bergemuruh turun naik tak beraturan.

Kini, aku mematut diri di depan cermin. Ada titik air mengambang di sudut mataku. Namun aku sudah berjanji kepada diriku untuk datang pada pernikahan Suci, meski tanpa undangan. Sebuah kado kecil aku siapkan. Di dalamnya, ada sebuah buku tentang pernikahan. Semoga Suci menjadi istri yang baik. Perlahan aku merapal doa. (*)

Catatan:

Cerpen ini dipublikasikan pertama kali di Minggu Pagi edisi 29 Mei 2016.

Tags: ,
Categorised in:

No comment for Undangan Suci

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *