,
Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » Sosok » Yanuardi Syukur, Usia 36 Tahun Lahirkan 64 Buku

Yanuardi Syukur, Usia 36 Tahun Lahirkan 64 Buku

(96 Views) Maret 28, 2018 7:16 am | Published by

Oleh Deni Kurniawan As’ari, S.Pd,M.Pd.
Pegiat Agumapi

Yanuardi Syukur nama lengkapnya. Sebagian koleganya memanggil Yankur atau Yan. Lahir di Halmahera Utara, Maluku Utara, pada 13 Januari 1982. Artinya ia baru berusia 36 tahun. Masih muda. Namun karya bukunya luar biasa.

Sampai saat ini ia telah berhasil menulis sebanyak 64 buah buku. Prestasi yang layak mendapat acungan jempol. Buku terbarunya berjudul “3 Malam di Larantuka: Sebuah Catatan Literasi.” Buku yang mengisahkan perjalanannya selama tiga hari saat menjadi narasumber Seminar Nasional Penulisan. Menariknya buku tersebut—diawali dari postingan di facebook sampai editing, diselesaikan hanya dalam waktu tak kurang dari tiga minggu. Amazing!

“64 buku saya itu ada yang ditulis sendiri, berdua, dan antologi,” ujar dosen, penulis, editor, konsultan, trainer kepenulisan, dan juga jurnalis ini. Enam belas tahun sudah hidupnya didedikasikan untuk dunia kepenulisan.

“Pertama kali saya menulis buku tahun 2004. Judulnya “Revolusi Intelektualitas Bangsa Indonesia.” Buku itu sekedar untuk memperlihatkan ke istri saya bahwa saya bisa juga menulis buku,” kenangnya. Suratan takdir rupanya tak bisa ditawar. Selepas berhasil menulis buku pertamanya tak lama kemudian istri tercintanya wafat pada 2004 silam di usia ke-21 tahun. Kisahnya ketika itu sempat dicerpenkan oleh S. Gegge Mappangewa di Majalah Aneka Yess dan buku “Kupu-kupu Rani” (LPPH, 2005)

“Buku karya pertama saya itu mungkin semacam tanda persembahan terakhir saya untuk istri, sebelum ia pergi untuk selamanya,” ungkap kandidat doktor UI.

Ia bertutur banyak hal yang menggerakkan seseorang untuk produktif. Salah satunya adalah kesedihan. Rupanya kesedihan yang sempat dialaminya telah mensupport Yankur produktif menulis buku.

Namun, ia mengaku sebuah harapan semoga Allah ridho dengan buku-buku karyanya itulah yang kemudian tetap produktif menulis buku sampai sekarang. Dakwah itu spirit utamanya.

Ia mengemukakan berbeda dengan penulis lain yang berorientasi untuk mencari rezeki dari buku, tapi ia memahami bahwa tiap orang menulis dengan tujuannya masing-masing. “Saya menjadikan buku sebagai sarana untuk belajar menulis secara produktif. Jika saya produktif, maka rezeki akan ada saja dari buku atau dari tempat lain,” terang Pengurus Pusat FLP dan Agupena ini.

Selama ini dosen Universitas Khairun ini lebih banyak menulis buku panduan berislam. Itu semacam panduan personal. Belakangan ia lebih senang menulis dengan genre biografi. Buku biografinya yang terbaru berjudul BUYA HAMKA Memoar Perjalanan Hidup Sang Ulama (Tinta Medina, 2017) yang ditulis bersama Arlen Ara Guci.  Selain itu ia pernah pula menulis biografi Muhammad Mursi (Presiden Mesir), Anies Baswedan (Gubernur DKI Jakarta), Hidayat Nurwahid (Wakil Ketua MPR RI), dan KH M. Arif Marzuki (Pimpinan Pesantren Darul Istiqamah Pusat, Sulsel).

Ingin Menulis 1000 Buku
Tak tanggung-tanggung selama hidupnya ia menargetkan dapat menulis sebanyak 1000 buku. “Target ini semacam kesadaran akan tanggungjawab saya sebagai manusia,” ujar alumnus Pesantren Darunnajah ini.

Ia sempat berbagi kiat.  Ide menulis buku itu bisa didapat dari mana saja. “Misal pas hujan, muncullah ide tulisan tentang hujan. Sederhana itu. Ide bisa dimulai dari yang ringan-ringan saja. Jangan yang berat,”terangnya. Setelah ada ide, kemudian lanjutkan dengan menulis segera. Jangan tunda-tunda. Biasanya kalau ditunda-tunda, tidak ada yang jadi. Hargailah ide yang ada dalam diri sendiri. Ide itu berharga, mahal, maka harus ditulis.

Berikutnya terkait waktu menulis, ia berpandangan  tiap orang beda-beda. Ada yang menulis pagi, siang, atau malam. “Kadang saya kalau menulis buku di malam hari. Jika siangnya tidur saya cukup bagus, malamnya saya bisa begadang sampai pagi untuk dapat tulisan sekian halaman. Kadang, kalau menuntaskan naskah saya butuh waktu yang kayak begitu: begadang,” papar Yankur yang karya bukunya pernah dipamerkan di Frankfurt Book Fair tahun 2015.

“Bagusnya kalau mau menulis buku, buat planning kapan selesainya. Misalnya, satu bulan harus selesai. Maka, tuntaskan dalam satu bulan. Jangan sampai lewat. Bagus kalau sebelum satu bulan sudah selesai,” pungkas suami Mutawadhiah dan ayah dari Anisah Syahidah, Afifah Azizah, Fikri Ihsani, dan Faiz Muallif tersebut.

***

Tags: ,
Categorised in:

No comment for Yanuardi Syukur, Usia 36 Tahun Lahirkan 64 Buku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Enter Captcha Here : *

Reload Image